Yamaha Lexi

Apa Hukum Transaksi Penukaran Uang? Ini Penjelasannya

  Senin, 04 Juni 2018   Arfian Jamul Jawaami
Ilustrasi. (pixabay.com)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM--Menjelang Lebaran, kebutuhan masyarakat Indonesia dalam penggunaan uang tunai receh cenderung meningkat. Uang receh biasa digunakan untuk tradisi pemberian tunjangan hari raya kepada sanak saudara. 

Tidak heran jika kemudian ketersediaan uang tunai receh juga turut meningkat. Bahkan, jasa penukaran uang receh tersedia mandiri dan dijajakan di beberapa ruas jalan. Padahal Bank Indonesia telah menyediakan jasa penukaran uang resmi di beberapa lokasi. 

Namun, praktik penukaran uang receh yang berlangsung di ruas jalan turut menyertakan imbalan sebagai bentuk jasa. Misalnya, uang senilai Rp100.000 ditukar dengan pecahan Rp5.000 sebanyak 20. Akan tetapi, transaksi tersebut turut menambahkan uang Rp10.000 sebagai bentuk dari imbalan jasa penukaran. 

Beberapa ulama meyakini transaksi tersebut termasuk dalam praktik riba karena jumlah penukaran tidak senilai meski satu jenis. Riba sendiri merupakan penetapan yang melebihkan jumlah transaksi atau pinjaman yang dibebankan kepada pihak kedua.

Bahkan Rasulullah pernah bersabda dalam hadis riwayat Ahmad, ganjaran dosa menjalankan riba setara dengan berzina sebanyak 36 kali. "Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan mengetahui bahwa itu adalah uang riba (maka) dosanya lebih besar dari berzina sebanyak 36 kali."

Dalam Alquran, larangan terkait praktik riba dijelaskan melalui surat Al-Baqarah ayat 275, "Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba) maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan) dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba) maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya."

Namun, para ulama memiliki pengertian berbeda terkait riba. Dikatakan tidak riba jika proses transaksi melibatkan unsur keikhlasan dan saling mengetahui antara kedua pihak. Tambahan biaya diartikan sebagai bentuk imbalan jasa dari transaksi.

Landasan dari pendapat tersebut tersirat dalam firman Allah melalui surat An-Nisa ayat 29. "Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan saling rida di antara kalian".

Ayat tersebut kerap dijadikan landasan bagi transaksi peminjaman yang berlangsung di bank, baik konvensional maupun syariah dan pembelian uang kuno. Kedua jenis transaksi tersebut kerap diartikan sebagai bentuk dari praktik riba oleh sebagian ulama. 

Khusus untuk pembelian uang kuno, beberapa ulama percaya bahwa ada pergantian fungsi dari barang sehingga tidak termasuk dalam riba. Sebagai contoh, seseorang membeli uang kuno senilai Rp10 seharga Rp100.000. Tidak dikatakan riba karena uang kuno Rp10 tersebut sudah berganti fungsi menjadi barang antik, bukan berperan lagi sebagai uang dalam arti sebenarnya.

"Sedangkan untuk praktik transaksi di bank juga bukan riba karena ada keridaan antara kedua pihak. Tambahan biaya dalam bunga kredit pinjaman merupakan imbalan dari jasa pengelolaan uang," ujar ustaz Aam belum lama ini.  

Pandangan lain hadir dari dalam kitab Al-Mughni yang ditulis oleh Ibnu Qudamah karena menganggap praktik melebihkan pelunasan pinjaman sebagai riba. Walaupun pandangan tersebut diungkap Ibnu Qudamah ketika bank belum ada.

"Semua utang yang mempersyaratkan harus dilebihkan (pelunasannya) hukumnya haram tanpa ada perbedaan (sepakat ulama)." tulis Ibnu Qudamah seperti dikutip dari laman konsultasi syariah.

Namun, perlu digarisbawahi, praktik peminjaman di bank serta penukaran uang receh di pinggir jalan memiliki proses dan kebutuhan yang berbeda. Kebutuhan akan modal bisnis, membuat pelaku usaha mau tidak mau meminjam uang ke bank. Namun, untuk penukaran uang receh, sebenarnya dapat dilakulan di gerai resmi Bank Indonesia.

Dalam kajian ekonomi Islam, terdapat syarat terkait tukar menukar yang wajib dipenuhi. Jika barang yang ditukar memiliki jenis yang sama, maka harus berlangsung secara tunai. Artinya, jika ingin menukar emas maka harus memiliki berat serta karat yang sama.

Namun, jika barter dilakukan antar barang yang berbeda jenis, maka syaratnya wajib tunai dan disesuaikan berdasarkan nilai barang tersebut. Misalnya, uang rupiah ditukar dengan dolar tentu akan mengalami penyesuaian karena nilainya berbeda. 

Tentu dua pendapat tersebut memiliki landasan dan tafsir yang jelas. Artinya tidak hadir dalam ruang kosong tanpa alasan. Namun, terkait penukaran uang tunai receh, ada baiknya dilakukan di gerai resmi yang disediakan Bank Indonesia. 

BI Jawa Barat sendri telah meproyeksikan kebutuhan untuk Ramadan tahun 2018 senilai Rp11,92 triliun atau meningkat sebesar Rp440 miliar dari tahun lalu. Penukaran uang dapat dilakukan melalui mobil kas keliling yang bekerja sama dengan beberapa perbankan seperti bank bjb, bjb Syariah, BRI, Mandiri, BTN, BNP, CIMB Niaga, DKI, May Bank, BRI Syariah, BNI Syariah dan Mandiri Syariah. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar