Yamaha Lexi

Pengamen Sajikan Musik Berkualitas di Jalanan Dago

  Rabu, 25 April 2018   Arfian Jamul Jawaami

DAGO, AYOBANDUNG.COM--"Menjajakan sajian khas berselera. Orang duduk bersila. Musisi jalanan mulai beraksi." Penggalan kalimat tersebut merupakan petikan dari lirik lagu berjudul "Yogyakarta" yang ditulis Kla Project di album keduanya.  

Kla Project sedikit mengangkat isu sosial mengenai keberadaan musisi jalanan atau pengamen dalam lagu yang bercerita tentang jejak kenangan dan suasana Kota Yogyakarta. Kehadiran pengamen disandingkan dengan sajian kuliner lezat bermakna positif.

Lain cerita dengan Kota Plovdiv di Bulgaria yang memiliki peraturan bahwa seorang pengamen minimal bergelar sarjana musik. Tidak heran jika pengamen di Plovdiv mampu menyuguhkan musik berkualitas yang tidak sekadar bernyanyi atau memetik gitar.

Bagaimana dengan Kota Bandung? Stereotipe negatif menyelimuti sebagian masyarakat terkait kehadiran pengamen. Para musisi jalanan diklasifikasikan sebagai salah satu penyandang masalah kesejahteraan sosial.

Alih-alih menghibur pengendara lewat suguhan musikalitas yang baik, sebagian pengamen di Bandung justru bernyanyi dengan mulut wangi alkohol atau hidung dipenuhi lem. Jangankan bermain musik, untuk sadar pun sulit. 

Namun, sekali-kali cobalah berkunjung ke perempatan lampu merah antara Jalan Ir Djuanda dengan Jalan Merdeka. Tepat di depan Rumah Sakit Saraningsih, pengendara yang menunggu lampu hijau menyala akan disuguhkan oleh musik instrumental berkualitas.

Pelakunya adalah grup pengamen Damer atau berarti Dago Merdeka, lantaran merujuk pada nama jalan tempat mereka menjajakan aksinya. Grup yang beranggotakan 12 pengamen lintas alat musik tersebut tidak main-main dalam menyuguguhkan aksi panggungnya.

Suara biola, harmonika, gitar hingga beberapa alat musik pukul dipadupadankan menjadi satu kesatuan yang utuh. Mereka menari tanpa suara mulut dan menjawab stereotip buruk yang melekat erat pada citra pengamen.

"Kami ingin bermain musik secara profesional meski hanya di jalan. Jadi kami tidak pernah minum sebelum ngamen karena itu bentuk dari tidak profesional," ujar pendiri Damer, Arif kepada ayobandung.com, Rabu (25/4/2018).

Tidak sedikit pengendara dan wisatawan asing datang berdonasi sebagai bentuk apresiasi. Beberapa instrumen musik dibawakan di antaranya lagu legendaris milik Frankie Valli berjudul "Cant Take My Eyes Off You" hingga lagu berbahasa Sunda "Manuk Dadali" karya Sambas Mangundikarta.

Arif sendiri telah memilih hidup sebagai pengamen lampu merah sejak tahun 1998. Dia pernah menjajakan aksi jalanannya hingga ke Ibu Kota Jakarta. Di Bandung, Arif pernah mengamen di kawasan Cihampelas hingga Tamansari.

Pada pertengahan tahun 2017, Arif berpikir untuk mengumpulkan pengamen berbakat yang memiliki kemauan untuk membentuk grup. Pencarian dimulai simultan dan beberapa pengamen dari berbagai daerah di Bandung berhasil dirangkul. 

Salah satunya adalah Bilal yang telah lebih dulu mengamen di Jalan Sukajadi. Bilal telah mengamen sejak duduk di bangku SMP kelas satu karena faktor ekonomi keluarga.

"Iya karena faktor ekonomi. Selama itu positif maka keluarga mendukung. Lumayan untuk bantu keluarga dan bekel sekolah. Tapi dari mengamen sekarang saya bisa lulus SMA," ujar Bilal mengenang.

Bilal dan 11 anggota Damer lainnya tidak hanya menguasai satu alat musik. Briefing sederhana kerap dilakukan untuk saling bertukar ilmu. Tidak heran jika kemudian Bilal menguasai setidaknya tiga alat musik yakni biola, gitar, dan harmonika.

"Sekitar 80 persen teman-teman bisa memainkan beberapa alat musik. Itu menular dan belajar otodidak bergantung pada feeling. Kalau kunci tidak terlalu hapal," ujar Bilal.

Performa jalanan dan musikalitas serius yang tidak hanya menyanyikan lagu mainstream para pengamen yakni "Semilir Angin Berhembus" memengaruhi pendapatan para personel Damer.

Setidaknya dalam satu hari, Damer dapat mengumpulkan uang senilai Rp840.000. Pendapatan tersebut akan dibagikan rata yang artinya setiap personel berhak atas uang senilai Rp70.000. 

Tidak jarang sebagian pendapatan disisihkan untuk kemudian dibelanjakan alat musik sebagai pendukung performa. Bahkan Damer pernah mendapat tawaran dan bermain di berbagai perguruan tinggi dan hotel seperti Holliday Inn hingga El Royal Panghegar.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar