Yamaha Mio S

Re-Definition, Pameran Foto Tanpa Kamera dan Lensa

  Selasa, 24 April 2018   Arfian Jamul Jawaami
Sebuah karya yang dipamerkan dalam Re-Definition, Pameran Foto Tanpa Kamera dan Lensa. (Arfian Jamul/ayobandung)

CIBURIAL, AYOBANDUNG.COM--"Sejak praktik fotografi pertama kali digali, lahir sebuah kredo bahwa fotografer harus memiliki tiga hal, yaitu yang, intelegensi dan kesabaran. Tanpa ketiga hal tersebut, mustahil seseorang akan menjadi fotografer walau hanya sekadar amatiran." Kalimat itu muncul dari mulut Iswanto Soerjanto, seorang 'fotografer tanpa kamera'.

Namun zaman telah berubah. Pelaku utamanya adalah perkembangan teknologi mengikis ketiga kredo lantaran masifnya penggunaan kamera sehingga menafikan proses fotografi. Kegiatan merekam gambar menjadi sangat mudah dan murah sehingga setiap individu dapat melakukannya tanpa melibatkan banyak pemikiran. 

Perubahan tersebut yang kemudian memengaruhi pandangan fotografi dalam kehidupan di berbagai ranah seperti sosial, budaya, ekonomi hingga politik. Menyeret pengertian baru dalam dunia fotografi yang hanya dan terjebak pada pemahaman sebagai salah satu media dokumentasi. 

Fenomena tersebut bukan hanya mendorong fotografer menggali konsep karya naratif yang secara sadar atau tidak tergelincir pada praktik tiruan. Orisinalitas menjadi barang langka dab bahkan tidak ada. Kemudian pameran fotografi dapat dengan mudah dijumpai lewat aplikasi media sosial. Artinya, sejarah terlupa.

Kegelisahan tersebut yang kemudian membawa Iswanto Soerjanto pulang pada tradisi awal. Merekam bayang tanpa menggunakan kamera dan lensa atau cameraless photography. Melalui pameran Re-Definiton di Selasar Sunaryo Art Space Bandung, Iswanto memperlihatkan orisinalitas dan pengertian dari fotografi, terlepas dari keindahan visual dan kekuatan alat.

"Iswanto menggunakan medium kertas dan formulasi zat kimia berupa acid serta alkali dalam karya fotografi, tanpa kamera dan lensa. Eksperimen dilakukan dengan menggunakan madu. Teknik visual fotografi tersebut telah digali sejak abad 17 yang sangat bergantung pada cahaya matahari. Artinya karya yang dihasilkan tidak hanya kuasa fotografer tapi juga alam," ujar Argus FS kepada ayobandung, Selasa (24/4/2018).

Karya Iswanto berseberangan dengan praktik dan pameran fotografi seni di Indonesia bahkan Asia. Sebuah karya fotografi pada umumnya hanya menyajikan citra dan bentuk dari realitas melalui wujud perempuan cantik atau pemandangan memesona. Re-Definition merupakan sebuah preposisi terhadap wacana fotografi seni saat ini. 

Pada sisi lain karya Iswanto merupakan sebuah entitas tanda. Sebuah bayang dan bentuk dari entitas yang bisa diasosiasikan dengan banyak hal. Entitas tanda yang muncul merupakan jejak rekam dari suatu realitas yang mengendap pada waktu dan ruang. 

Hal itu menunjukan bahwa karya Iswanto dapat dikatakan sebagai fotografii murni. Selain itu, Re-Definition juga dapat dipandang sebagai sebuah counter discourse terhadap perkembangan praktik seni yang menggunakan sistem digital. Cameraless photography menjadi rujukan sejarah dalam praktik seni yang telah dimodifikasi secara metodis dan teknis melalui software

"Iswanto secara gamblang mengenalkan kembali proses organik dalam citra fotografi seni yang tidak dapat diprediksi hasilnya. Pameran ini bermaksud menggali makna fotografi secara historis dan membuat definisi dari kacamata kontemporer," ujar Argus.

Re-Definition dibingkai oleh kuratorial yang merujuk pada sejarah fotografi pada masa ketika camera obscura belum masif dijadikan alat dan konteks cameraless. Menyajikan dua tema besar yaitu transformasi dan meditasi garis. 

Corak abstrak yang dihasilkan melalui teknik photogram, chemigram dan cyanotipe yang dapat membuka wawasan seni rupa bahwa karya fotografi dengan material organik dianggap sebagai cipta yang eksperimental, berbasis pengetahuan material dan sejajar dengan praktik visual art.

Bahkan karya Iswanto terlihat hidup melalui perubahan warna yang dihasilkan. Visual yang meditatif dan tone yang berubah. Perubahan tersebut terjadi karena adanya reaksi kimia yang dipaparkan oleh sinar. 

"Triger-nya adalah cahaya. Selama menggunakan sinar pasti berubah. Foto terlihat hidup. Teknik ini pertama kali dilakukan di Jerman. Karena sekarang makna dari fotografi telah hilang. Karena esensi fotografi adalah menangkap bayangan oleh cahaya bukan menangkap perempuan cantik. Teknologi sudah menjajah fotografi.

Bandung dipilih untuk menghelat pameran perdananya di Indonesia dengan alasan bahwa karya  eksperimentasi dan corak abstrak yang dibuatnya terkait dengan sejarah dan perkembangan seni rupa Bandung. Karya photogenic drawing dipertimbangkan secara historis berkaitan dengan konseptual yang cenderung tidak naratif serta eksploratif pada medium dan wacana.

Iswanto adalah seniman fotografi yang lahir pada tahun 1967. Karya Iswanto banyak mengeksplorasi komposisi kimia dan kertas sebagai material utama yang dikerjakan dalam kamar gelap. Beragam penghargaan telah diperoleh Iswanto baik di tingkat nasional maupun internasional sejak tahun 1985.

Dia menempuh studi hukum di Universitas Tarumanegara Jakarta dan belajar fotografi secara akademik di Brooks Institute of Photography di Santa Barbara California pada tahun 1988. 

Sejak tahun 1990 Iswanto bekerja secara profesional sebagai fotografer komersil dan sempat mengajar fotografi di Akademi Desain Visi Yogyakarta dan beberapa institusi desain dan seni di Jakarta. 

Iswanto mulai berkarya secara serius di ranah fotografi seni sejak tahun 2014. Sejumlah pameran bersama yang pernah diikuti oleh Iswanto antara lain Inspiration di Jakarta (1993), Nine Art Gallery di Yogyakarta (2000), Garis Art Space di Bali (2004), Mizuma Gallery di Singapora (2015) dan lainnya. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar