Yamaha

Buku Halte Sastra, Refleksi Penantian di Setiap Halte

  Senin, 19 Maret 2018   Fathia Uqimul Haq
Komunitas Rindu Menanti meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Halte Sastra, Sabtu (17/3/2018) malam. (Fathia Uqim/ayobandung)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM -- Komunitas Rindu Menanti meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Halte Sastra, Sabtu (17/3/2018) malam.  Sebuah kumpulan refleksi para relawan menanti yang selama setahun melakukan aktivitasnya.  Peluncuran buku tersebut, digelar di Kopi Bray yang dihadiri Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Didi Ruswandi  dan Kurator Seni Bandung, Syarif Maulana.

Komunitas yang bergerak di bidang sastra dan perhaltean Kota Bandung itu sudah merilis dua buku. Buku pertamanya yaitu Sang Penanti menceritakan tentang penantian para relawan selama berada di halte. Aktivitas mereka di halte saat penantian dengan menyediakan buku yang bisa dipinjam oleh masyarakat saat menanti angkot atau bus kota.

“Jadi relawan yang menanti di halte itu mendapatkan apa saja selama di sana. Setelah menanti, mereka wajib menuliskan pengalamannya. Nah setelah dikumpulkan selama setahun, terbitlah buku pertama kami, Sang Penanti,” ujar Rachmi Ayu, relawan Rindu Menanti saat peluncuran buku.

Perbedaan buku pertama dengan kedua, yaitu Halte Sastra ini adalah sebagai peringatan ke dua tahun hasil kerjasama dengan Seni Bandung.

Seluruh relawan yang ikut tergabung dalam karya sastra ini berjumlah 24 orang. Mereka aktif dalam menulis refleksi perjalanan selama penantian.

“Penantian itu adalah saat kita punya waktu luang menanti di sebuah halte mana saja. Biasanya setiidaknya berdua, kita menunggu di situ, membaca dan menyuguhkan buku kepada yang menunggu. Sebelumnya memang kita perkenalkan diri dulu dari komunitas Rindu Menanti kepada masyarakat,” katanya.

Tak jarang Rachmi dan teman-temannya disangka sales buku dan sebagainya. Namun hal itu jadi cerita yang bisa dituangkan di tulisan.

“Kalau tidak ada yang datang ke halte ya kita ceritakan. Kita laporkan bagaimana keadaan halte. Misalnya tidak ada penerangan, kursi rusak, dan sebagainya,” kata perempuan 23 tahun itu.

Laporan soal halte yang mengalami kerusakan itu hampir sering direspon baik dan cepat oleh Dinas Perhubungan Kota Bandung.

“Waktu saya menanti di halte depan Carrefour Soekarno Hatta, lantai haltenya ada yang rusak gitu. Besoknya saya ke sana lagi sudah diperbaiki. Bagus jadi responnya cepat,” tutur Rachmi.

Didi Ruswandi mengapresiasi Komunitas Rindu Menanti atas kepeduliannya terhadap halte di Bandung.

“Kedepannya saya harap Rindu Menanti ini menuliskan cerita-cerita unik penuh hikmah. Tidak hanya soal data dan riset saja,” ujar Didi Ruswandi di peluncuran buku Halte Sastra, Sabtu (17/3/2018).

Buku Sang Penanti dan Halte Sastra ini dapat dibeli secara daring melalui Instagram @rindumenantii. Harga perbukunya dibanderol Rp 55.000. Rindu Menanti pun memiliki merchandise seperti baju, gantungan kunci dan stiker yang bisa dibeli bersamaan dengan bukunya.

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar