Yamaha

Perempuan, Kamu Harus Bicara demi Selangkanganmu

  Kamis, 08 Maret 2018   Asri Wuni Wulandari
Ilustrasi. (ayobandung/Fathin Arif)

BUAH BATU, AYOBANDUNG.COM – Alyssa Milano, aktris asal AS, mengunggah sebuah cuitan yang menyentak massa pada 15 Oktober 2017. Ia meminta perempuan untuk bicara dan bercerita tentang pengalaman mereka dengan kekerasan atau pelecehan seksual sembari menyematkan tagar #MeToo dalam cuitan.

Tak ayal, dalam waktu semalam tagar #MeToo muncul di seantero dunia. Perempuan dunia berteriak menuntut perubahan.

Gerakan “Me Too” sebenarnya telah lebih dulu dimunculkan oleh aktivis perempuan, Tarana Burke, lebih dari satu dekade lalu. Namun, gerakan tagar yang dicuitkan Milano tampaknya lebih banyak memancing respons.

Banyak orang beranggapan bahwa itu terjadi karena kekuatan paripurna media sosial. Bisa iya, bisa tidak. Sebab, gerakan perempuan di seluruh dunia sesungguhnya telah mengalami perjalanan panjang selama ratusan tahun. Artinya, gerakan serupa yang diteriakkan Milano bukanlah sesuatu yang baru.

Namun, dengan cara memobilisasi masyarakat, membangun strategi perlawanan, meningkatkan kesadaran, dan melawan yang tabu menjadikan gerakan #MeToo sebagai fenomena global. Membangunkan kaum hawa dari manisnya bunga tidur.

Perjuangan perempuan selama ratusan tahun tak kunjung bertemu hasil yang signifikan. Impian akan hak-hak perempuan masih utopis hingga kini. Khususnya, terkait dengan kebebasan perempuan dan pelecehan seksual yang terus, terus, dan terus menimpa kaum perempuan. Entah kapan hal itu bisa berakhir.

Pada tahun 2017, UN Women mencatat 35%  perempuan di seluruh dunia mengalami kekerasan dan pelecehan seksual. Setiap perempuan, di negara manapun, kemungkinan besar mengalami hal yang sama. Mulai dari tindakan catcalling, seperti panggilan seorang pria di ujung gang dengan “hei, seksi”, “hei, cantik”, hingga tindakan yang lebih agresif seperti sentuhan di bagian-bagian sensitif perempuan. Bahkan, yang paling parah, pemerkosaan.

“Pemerkosaan adalah akibat ekstrem dari pelecehan seksual,” ujar Aktivis Perempuan, Rachel Jewkes, seperti dikutin CNN. Pelecehan seksual adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama di ruang publik. “Ini membatasi kebebasan seorang perempuan.”

Tengok saja rentetan kabar di industri hiburan pada 2017 lalu. Betapa pelecehan seksual menjadi isu utama yang selalu mewarnai pemberitaan media. Pertamanya adalah Harvey Weinstein, seorang produser Hollywood jempolan, yang “berhasil” melecehkan puluhan bahkan mungkin ratusan perempuan.

Kabar itu lantas berjalan beruntun. Mendorong sejumlah perempuan untuk berkisah tentang pengalaman pelecehan seksualnya. Sejumlah nama aktor tersohor dunia ikut terseret lantaran diduga juga melakukan pelecehan seksual.

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Berdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2017, pemerkosaan menempati posisi tertinggi dalam kekerasan seksual di ranah KDRT/personal. Tercatat, 1.389 kasus perkosaan terjadi di tahun lalu, diikuti pencabulan sebanyak 1.266 kasus.

Sementara itu, kekerasan di ranah komunitas – yang dilakukan oleh bukan orang terdekat atau bahkan tak dikenal – mencapai angka 3.092 kasus. Bentuk pemerkosaan (1.036 kasus) dan pencabulan (838 kasus) menempati posisi tertinggi di ranah ini.

Dan, perlu dicatat, bahwa angka-angka yang dirilis ini mungkin saja bukan angka sebenarnya. Pasalnya, sebagian perempuan juga memilih untuk diam atau tidak memperkarakan pelecehan yang dialaminya. Dengan embel-embel “jalan damai”, “kasus diselesaikan dengan cara kekeluargaan”, “malu untuk mengakui aib”, tindak pelecehan seksual itu terus bersembunyi di balik selangkangan atau di antara payudara.

Tengok saja apa yang terjadi pada Suhandi Tatang (63), seorang pria yang “lolos” dari jeratan kasus pelecehan seksual. Warga Tangerang itu sengaja menempelkan bagian tubuhnya ke dua perempuan secara bergantian di dalam KRL. Namun, ujung-ujungnya kasus tersebut diselesaikan secara kekeluargaan.

Atau yang lebih parah, ketika korban pelecehan seksual malah disalahkan atas kasus yang menimpanya. Alibi berpakaian seksi kerap dijadikan cara jitu untuk membalikkan kesalahan pada perempuan.  Padahal, seyogianya, tubuh adalah milik setiap individu, bukan kelompok atau publik. Dalam kasus ini, tubuh perempuan dikontrol dengan begitu saja dan tanpa disadari.

Masih hangat di benak, soal rencana penerbitan Peraturan Daerah (Perda) Ketahanan Keluarga oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu pada Desember 2017 lalu. Salah satu isi perda adalah melarang pelajar perempuan berpakaian seksi. Betapa sikap dominasi pria begitu kental di sana dan perempuan adalah objek yang layak disalahkan dalam pelbagai kasus pelecehan seksual.

Komnas Perempuan menilai jika kebijakan diskriminatif ini terjadi karena kurangnya pemahaman soal gender. Ketimbang melarang perempuan berpakaian seksi, rasanya banyak hal, seperti fasilitas yang bisa mencegah tindak pelecehan seksual, dibangun secara masif.

Pelecehan seksual, bagaimana pun, selalu bermula dari otak si pelaku, bukan dari tubuh perempuan, sebagaimana dipermasalahkan selama ini.

Pola pikir masyarakat yang masih mengobjekkan perempuan ini mendorong pelbagai gerakan perempuan di Indonesia dalam beberapa tahun ke belakang. Partisipasi dan inisiatif publik semakin meluas dan getol merespons isu-isu terhangat soal perempuan.

Sejumlah gerakan perempuan ini berlomba-lomba mengangkat isu kesetaraan gender di Tanah Air. Tak cuma urusan advokasi, tapi lebih kepada penyadaran publik soal ketidaksetaraan yang kini masih menghampiri Indonesia.

Di Bandung, kelompok Samahita getol menggelar diskusi soal perempuan sejak 2015 lalu. Dalam skala yang lebih luas, Kolektif Betina, sebuah kelompok perempuan ramai meneriakkan wacana-wacana kesetaraan gender melalui medium seni. Dan, masih banyak lagi.

Mereka, para perempuan, memberikan dukungannya kepada sesama perempuan untuk terus “berbicara” demi mendapatkan hak-hak yang sudah sepatutnya dimiliki.

Hari ini, Rabu (8/3/2018), semua perempuan di dunia tengah berpesta. Merayakan dan memperingati Hari Perempuan Internasional. Dalam peringatannya kali ini, Hari Perempuan Internasional, terinspirasi dari gerakan #MeToo dan #TimesUp, menginginkan adanya gerakan untuk memberikan dukungan pada korban pelecehan seksual dan berharap adanya advokasi para penyintas, sekaligus pemberian hukuman setimpal kepada pelaku.

Agar impian Hari Perempuan Internasional ini tercapai, apa salahnya untuk berbicara? Salah satunya, bicaralah seperti tulisan yang tersemat dalam poster milik Hanna Al Rashid dalam Women’s March di Jakarta pada 3 Maret lalu : “Aurat gue bukan urusan lo! STOP VICTIM BLAMING. STOP PELECEHAN SEKSUAL.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE