Yamaha Mio S

Cerita dari Sentra Keramik Kiaracondong

  Sabtu, 24 Februari 2018   Adi Ginanjar Maulana
Ilustrasi -- Salah satu pengrajin keramik di Kiaracondong. (ayobandung/Arfian Jamul)

KIARACONDONG, AYOBANDUNG.COM – Kota Bandung memiliki sentra industri keramik yang telah berdiri sejak tahun 1960 silam. Hingga kini, sentra keramik Kiaracondong masih tetap berproduksi.

Salah seorang pengrajin keramik yang masih terus bertahan yaitu Kosim Sundana (72). Ia meneruskan usaha yang dirintis mertuanya sejak 1960an. Kosim meneruskannya sejak tahun 1981. Sekitar 30 tahun lebih ia memproduksi berbagai macam keramik seperti guci, piringan hias, asbak, dan kerajinan lainnya yang terbuat dari tanah liat. 

Seperti produksi keramik lainnya, proses pembuatannya juga sangat tergantung dengan cuaca dan lamanya proses pembakaran. Kedua proses itu juga tergantung pada bentuk keramik apa yang akan dibuatnya. “Pembuatan satu guci besar bisa memakan waktu dua minggu, bahkan lebih,” katanya di tempat kerajinan miliknya di Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, Jumat (23/2/2018).

Kosim berharap sentra industri keramik di Kiaracondong selalu eksis. Ia juga berharap agar para kolektor keramik lebih memilih keramik asli buatan dalam negeri dibandingkan buatan luar negeri. “Semoga pemerintah bisa membatasi barang dari luar negeri. Sehingga barang dalam negeri bisa maju,” katanya berharap.

Ditemui di tempat yang berbeda, pengrajin lainnya, Yuyun Wahyudin (51) menceritakan kiprahnya di bidang industri keramik yang sudah ia tekuni sejak tahun 1997. Hingga saat ini, produksi keramik buatannya sampai ke Aceh, Medan, Lampung, Pekanbaru, Palembang, Banjarmasin, Manado, dan Nusa Tenggara Timur. Tak tanggung-tanggung, bahkan omzetnya pun mencapai Rp20 juta per bulan.

Yuyun tak mengalami kesulitan soal pemasaran. Soalnya, Yuyun telah memiliki pelanggan sejak lama. Hal itu pula yang mampu membuatnya memproduksi sebanyak 75-150 keramik setiap hari dengan kisaran harga Rp15.000 hingga Rp1,5 juta.

“Alhamdullilah menguntungkan. Saya juga selalu menekankan kepada pengrajin untuk selalu teliti dalam proses pembuatan keramik supaya kuat dan tahan lama,” imbuhnya.

Sementara itu, Lurah Sukapura, Asep Darojat (56) mengatakan jika usaha sentral keramik sudah menjadi identitas bagi Kecamatan Kiaracondong. Banyak pengrajin yang dapat mengirim produknya ke seantero Indonesia.

“Awal mula sentra keramik Kiaracondong berasal dari Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong. Namun, setelah kebijakan bapak camat, akan memusatkannya di Kelurahan Kebon Jayanti. Saya selalu mendukung segala upaya untuk memajukan sentra industri keramik yang ada di sini,” katanya.

Asep berharap, sentra industri keramik Kiaracondong bisa maju dan dapat bersaing dengan produk-produk luar negeri.

“Jangan sampai hilang. Kita bersama-sama mempertahankanya. Karena untuk mengembangkan ciri khas suatu daerah perlu konsisten supaya terus terjaga dan bersaing dengan produk luar,” ujarnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar