Yamaha Aerox

Imlek, Dua Mualaf Ucapkan Syahadat di Masjid Lautze

  Jumat, 16 Februari 2018   Arfian Jamul Jawaami
Ilustrasi -- Jemaah muslim beribadah di Masjid Lautze, Bandung. (ayobandung/Ramdhani)

TAMBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Tepat pada perayaan Tahun Baru Imlek 2569, Masjid Lautze II yang berada di Jalan Tamblong, Bandung, menjadi tempat bagi dua mualaf untuk mengucapkan kalimat syahadat.

Masjid Lautze yang berdiri pada tahun 1997 tersebut memang dikenal sebagai rumah bagi banyak mualaf dari ragam suku dan etnis untuk mempelajari ilmu Islam. Maka tidak heran jika Masjid Lautze banyak kedatangan umat yang berniat masuk Islam.

"Satu minggu rata-rata ada satu orang yang datang ke sini untuk mengucapkan dua kalimat syahadat," ujar Ketua DKM Masjid Lautze II, Rahmat kepada ayobandung, Jumat (16/2/2018).

70% jemaah di Masjid Lautze memang merupakan mualaf. Namun para mualaf tidak hanya berasal dari etnis Tionghoa, karena banyak di antaranya bersuku Batak hingga Sunda.

Saat ini, sekitar 150 muslim Tionghoa dan mualaf menjadi jemaah dari masjid yang identik dengan warna merah dan emas tersebut.

Masti adalah salah satu mualaf yang pernah mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Lautze pada tahun 2017 lalu. Hingga kini Masti dan mualaf lainnya rutin mengikuti pendidikan Islam di Masjid Lautze setiap hari Minggu.

"Saya menemukan saudara dan keluarga baru di masjid ini. Saya bahagia karena hari ini kami memiliki saudara baru," ujar Masti kepada ayobandung.

Di hari Imlek, jemaah Tionghoa di Masjid Lautze tidak melakukan perayaan khusus. Para jemaah hanya makan bersama selepas salat Jumat berjamaah seraya kompak mengenakan pakaian merah cheongsam khas budaya Cina.

Namun, bukan berarti hubungan dengan sesama etnis Tionghoa merenggang. Beberapa jemaah kerap mengunjungi kerabat dan keluarga non-muslim sekadar menjaga silaturahmi. 

Rahmat menjelaskan bahwa Imlek dimaknai sebagai sebuah kebudayaan Tionghoa, tapi tidak menjadi kepercayaan. Untuk itu warisan Imlek sepatutnya dilestarikan.

Meski terdapat perbedaan dengan nilai dalam Islam, namun tidak serta merta melahirkan perselisihan. Pasalnya, Masjid Lautze sendiri telah sejak lama dikenal ramah bagi orang non-muslim untuk membaur.

"Kami tidak merayakan Imlek. Tapi kami tanggapi Imlek secara positif karena Islam terasa indah ketika mau mengerti," ujar Rahmat.

Masjid yang kental dengan sentuhan arsitektur khas oriental tersebut didirikan oleh seorang muslim keturunan Tionghoa bernama Karim Oei Tjeng Hien pada 1997. Sebelumnya Karim telah membangun Masjid Lautze I di daerah pecinan Jakarta pada 1991.

Luas dari Masjid Lautze sendiri tidak terlalu besar, hanya 8x7 meter. Namun dari ruang yang kecil, Masjid Lautze mampu memberi kontribusi untuk perkembangan Islam dan sebagai bukti eksistensi muslim Tionghoa di Bandung. 

Sebelumnya, Masjid Lautze hanya digunakan untuk salat Zuhur dan Ashar karena posisinya yang berada di pinggir jalan utama sehingga sulit medapatkan parkir. Namun, karena antusias warga, maka rencananya akan dibuka untuk salat Magrib dan Isya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar