Yamaha Mio S

Empat Orang Tuli yang Sukses Menjadi Musisi

  Minggu, 04 Februari 2018   Mildan Abdalloh
Evelyn Glennie

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Keterbatasan bukan menjadi alasan bagi seseorang untuk meraih kesuksesan. Tak terkecuali bagi para penyandang rungu yang kerap dianggap tidak bisa mengenal nada musik. 

Anggapan tersebut keliru besar, sebab tokoh-tokoh berikut ini adalah musisi legendaris yang mengalami keterbatasan dalam hal pendengaran.ayobandung merangkumnya.

Empat Orang Tuli yang Sukses Menjadi Musisi

1. Evelyn Glennie
Evelyn merupakan seorang perkusionis handal. Dia lahir pada 19 Juli 1965, mempunyai ayah seorang musisi,sejak kecil dia diajarkan bermain musik seperti mengikuti les 

Namun, pada usia delapan tahun Evelyn mulai kehilangan indra pendengarannya, bahkan pada usia 12 tahun dokter memvonisnya tidak akan bisa bermain musik karena pendengarannya bermasalah.

Namun sang ayah tidak patah arang, bahkan dia memupuk semangat Evelyn untuk terus berlatih. Dengan sensitifitas pendengaran yang kian menurun, Evelyn semakin kesulitan memainkan pianonya. Dia diberi pilihan untuk belajar alat musik lain, perkusi yang dipilihnya.

Seorang guru perkusi pun didatangkan untuk mengajar Evelyn. Pada awal, gurunya tidak memberi pelajaran memainkan perkusi seperti pada anak umumnya, namun  pelajaran mendengarkan.

Bukan mendengarkan menggunakan telinga, tapi gurunya mengajari bagaimana mendengar melalui rasa getaran dari bunyi. Itulah ide dasarnya, mendengar lewat getaran dan ‘menyentuh’ bunyi. Caranya, sang guru memainkan timpani (instrumen perkusi) dengan dua nada berbeda dan menyuruh Evelyn meletakkan tangannya di dinding untuk merasakan getarannya. Tiap nada memang memiliki getaran yang berbeda, antara nada rendah dan tinggi, dan frekuensi dibangun atas logika cepat lambatnya getaran ini.

Dengan kesabaran dan keseriusan, Evelyn mampu mendengarkan musik melalui getaran bunyi yang pada akhirnya bisa membedakan getaran nada dalam musik.

Dia tumbuh menjadi perkusionis handal. Kemampuannya yang kuat dalam merasakan getaran membuatnya menjadi musisi yang sangat sensitif dengan bunyi sekalipun ia tidak mendengar melalui telinga.

Evelyn kemudian memutuskan untuk melanjutkan sekolah musik di Royal Academy of Music, Inggris. Pada mulanya pihak akademi sempat menolak gadis tersebut saat pertama mendaftar, ketuliannya yang menjadi masalah. 

Namun setelah bernegosiasi dia diizinkan untuk mengikuti tes musik. Hasilnya sangat mengesankan. Inilah yang akhirnya mengubah peraturan Royal Academy of Music selanjutnya, untuk memberikan kesempatan terbuka bagi penyandang disabilitas lainnya yang memiliki bakat dan kemauan kuat untuk belajar musik.

Setelah menimba ilmu musik, kemampuan Evelyn dalam perkusi terus berkembang, bahkan kini tak diragukan lagi oleh dunia. Ia benar-benar ahli dan diberikan sebutan virtuoso, julukan bagi para musisi yang memiliki kemampuan luar biasa.

Evelyn terus aktif sebagai perkusionis di berbagai orkestra ternama. Selain itu ia juga membuat banyak proyek solo dan kolaborasi di antaranya dengan gitaris Genesis Steve Hackett, Bela Fleck, penyanyi Bobby McFerrin, Fred Frith dan The King's Singers. Pada tahun 2012, Evelyn proyek Underworld membuat soundtrack untuk pembukaan Olimpiade London.

Pada tahun 2004, seorang filmmaker ternama dari Jerman, Thomas Riedelsheimer membuat sebuah film documenter tentang perjalanan Evelyn Glennie sebagai seorang musisi tuli, terutama bagaimana ia ‘mendengar’ bunyi. ‘Touch The Sound’, judul film dan ini menjadi sebuah cerita reflektif yang dalam. Evelyn Glennie memang begitu inspiratif.

2. Mandey Harvey 
Mandy Harvey lahir 2 Januari 1988 adalah penyanyi dan penulis lagu Amerika yang tuli. 

Dia mulai kehilangan pendengarannya pada 2006, saat usianya menginjak 18 tahun akibat sindrom Ehlers Danlos jenis hipermobilitas, penyakit jaringan ikat genetik. Pada waktu itu dia sedang kuliah di sebuah jurusan Pendidikan Musik Vokal di Colordo State University.

Sejak kecil Mandy menyukai musik, bahkan dia berpartisipasi dalam kelompok paduan suara dan kompetisi musik di sekolah menengah atas, termasuk bepergian dengan satu kelompok untuk bernyanyi di Australia. Bakat vokalnya berkembang selama masa SMA dan dia dikenal sebagai "Vokalis Wanita Teratas" pada upacara wisuda Longmont High School (2006).

Setelah lulus dari Longmont High School pada tahun 2006, Mandy mendaftar dan diterima di Colorado State University. Mandy adalah satu dari lima belas siswa pada tahun itu yang diterima di CSU untuk menjadi jurusan vokal. Selama tahun pertama, dia kehilangan pendengaran (110 desibel) di kedua telinga.

Karena masalah tersebut, dia memutuskan untuk meninggalkan pendidikannya dan kembali ke Longmont, tempat dia mengikuti kelas dan kelas Bahasa Isyarat Amerika di Sekolah Dasar di sebuah perguruan tinggi setempat.

Begitu dia kembali ke rumah, Mandy memutuskan bahwa dia akan menghabiskan waktu setahun untuk bernyanyi, tapi dia terus bermain gitar dengan ayahnya. Suatu hari saat mencari di internet Mandy dan ayahnya menemukan sebuah lagu berjudul "Come Home" oleh OneRepublic. Ayah Mandy menyarankan agar dia belajar liriknya sehingga bisa membuat rekaman di rumah. Mandy menganggap ini tidak mungkin, tapi dia memberinya usaha terbaiknya. Dia bisa membaca musik dan bernyanyi dalam kunci, yang membawanya menyadari bahwa dia tidak perlu menyerah untuk bernyanyi.

Pada 2008, Mandy bertemu dengan profesor musik perguruan tingginya, Cynthia Vaughn, hal tersebut membuat Mandy menghidupkan kembali gairah musiknya. Vaughn memperkenalkan Mandy kepada pianis jazz terkenal Mark Sloniker di Jay's Bistro di Fort Collins, di mana ia menjadi perlengkapan untuk beberapa tahun.

Tiga tahun kemudian Mandy memenangkan VSA International Young Soloist Award  dan kembali pada tahun 2014 untuk melakukan konser penuh di Kennedy Center. Dia sekarang bepergian sebagai penyanyi solo jazz dan pembicara motivasi. Dia juga seorang duta besar dengan organisasi nirlaba No Barriers.

Pada tahun 2017, Harvey muncul di America's Got Talent di mana dia menyanyikan sebuah lagu miliknya sendiri. Penampilannya mendorong juri Simon Cowell untuk memberinya 'golden buzzer', yang memungkinkannya untuk langsung menjalani pertunjukan live.

3. Sean Forbes
Sean Forbes merupakan artis hip hop Amerika Serikat dengan disabilitas rungu. Dia lahir pada 5 Februari 1982 di Detroit.

Fungsi pendengarannya hilang akibat miningitis tulang belakang yang diidapnya sejak usia beberapa bulan. Hingga pada usia satu tahun, 90% fungsi pendengarannya hilang.

Walaupun sulit mendengar, namun sejak kecil dia menunjukkan minatnya pada musik, bahkan dia mampu mengikuti lagu ayahnya yakni Scott Forbes yang merupakan seorang personel The Forbes Brothers yang beraliran rock country.

Mendengar anaknya bisa mengikuti lagu-lagu The Forbes Brothers, Scott memberikan hadian natal berupa satu set drum kepada Sean yang baru berusia lima tahun.

Drummer Mitch Ryder yakni Johnny Badanjek yang merupakan teman Scott rutin mengajarkan Sean bermain drum. Sean memang semenjak kecil bermimpi ingin menjadi seorang drummer, namun dengan keterbatasan pendengaran, dia menyadari hal tersebut sulilt dilakukan. Namun berkat kegigihannya, dia mampu memainkan musik, bahkan saat SMA Sean pernah bergabung dengan group band bersama teman masa kecilnya.

Untuk mewujudkan mimpinya menjadi musisi, Sean kuliah di Rochester Institute of Technology (RIT) di Rochester, New York. Di perguruan tinggi tersebut, ia melihat banyak penderita disabilitas rungu yang menyukai musik namun tidak memiliki fasilitas pendukung. 

Setelah 3 tahun di RIT, dia memutuskan untuk mengambil cuti dari sekolah dan pindah pulang ke Detroit. Dalam satu kesempatan Sean menghadiri The Detroit Music Awards, di sana dia bertemu dengan pemilik studio rekaman dan penerbit Eminem Joel Martin.  Seiring ceritanya, Martin memberi Forbes sebuah selembar kertas yang bertuliskan "Tiket Eminem Gratis E-mail Me" yang memberi isyarat kepada Forbes untuk mengirim e-mail Martin menanyakan apakah dia bisa bekerja di studio.

Menyadari bahwa akan sangat sulit untuk membuatnya dalam bisnis musik Sean kembali ke RIT untuk melanjutkan pendidikannya akhirnya menyelesaikan gelar sarjana di tahun 2008.

Dia menyadari bahwa meskipun dia bisa mengerti lirik musik, tidak semua orang dengan gangguan pendengaran bisa. Terinspirasi untuk melakukan perubahan, ia mendirikan DPAN.TV, sebuah platform bahasa bahasa isyarat online yang menampung banyak konten bahasa isyarat di satu tempat.

Dia mulai menandatangani lagu yang dia tahu di ASL dan itulah awal membuat musik dapat diakses oleh orang-orang tuna rungu.

Saat memainkan musik, dia menggunakan alat bantu pendengarannya untuk membantunya tampil, tapi juga mendengarkan lirik vokal lagunya dan merasakan irama musik melalui tubuhnya.

Sean menulis single barunya, "Two Blown Speakers," yang beraliran hip hop.

4. Ludwig van Beethoven
Siapa yang tidak kenal dengan Beethoven? Simfoni kelima dan simfoni kesembilan merupakan karya terbaik sepanjang masa.

Namun siapa sangka jika komposer bernama Ludwig van Beethoven tersebut mempunyai masalah pendengaran.

Beethoven merupakan komponis kelahiran 17 Desember 1770 di Wina. Dia merupakan seorang pencipta musik orisinil, banyak perubahan-perubahan yang dilakukan dan diperkenalkannya mempunyai pengaruh yang abadi pada dunia musik. Dengan mendemonstrasikan kemungkinan yang hampir tak terbatas yang bisa dihasilkan oleh piano, dia membantu menjadikan piano itu instrumen musik yang paling terkemuka. 

Beethoven membuka babak transisi dari musik klasik ke musik bergaya romantik dan karyanya merupakan sumber ilham untuk gaya romantik. Karya-karyanya hanya bisa dimainkan oleh mereka yang mempunyai pengetahuan musik yang tinggi. Dia dinobatkan sebagai salah satu dalam seratus tokoh paling berpengaruh dalam sejarah dunia di urutan yang ke-42 yang disusun oleh Michael H. Hart.

Pada usia 20 tahunan, Beethoven mulai mengalami gangguan pendengaran. Kondisi tersebut membuatnya frustrasi bahkan sempat berniat bunuh diri. Sebagai seorang komponis, tentu pendengaran merupakan hal yang sangat vital, sehingga ketika menyadari ada masalah dengan salah satu inderanya, Beethoven sempat menjauh dari masyarakat, bahkan masyarakat sempat menganggap kalau dia anti sosial.

Pada usia 40-an Beethoven menjadi 100% tuli. Akibatnya, dia tak pernah lagi tampil dimuka umum dan semakin menjauhi masyarakat. Hasil karyanya semakin sedikit dan semakin sulit dipahami. Sejak itu dia mencipta hanya untuk dirinya sendiri dan beberapa pendengar yang punya ideal masa depan, meski terkadang ia menempelkan telinganya ke piano untuk bisa menghasilkan sebuah komposisi musik. Dia pernah  bilang kepada seorang kritikus musik, "Ciptaanku ini bukanlah untukmu tetapi untuk masa sesudahmu."

Meski pada masa-masa ketuliannya Beethoven tidak menjaga mutu komposisi musiknya, tetapi kenyataannya sungguh mengherankan dari yang dibayangkan. Dalam masa tahun-tahun ketulian totalnya itu, Beethoven justru melakukan ciptaan tidak sekadar setara dengan karya-karya yang dihasilkan sebelumnya, melainkan umumnya karya dalam ketulian itu dianggap merupakan hasil karya terbesarnya.

Karya-karya Beethoven itu antara lain 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi. Tetapi, yang lebih penting dari jumlah ciptaannya adalah segi kualitasnya. Karyanya merupakan kombinasi luar biasa dari kedalaman perasaan dengan kesempurnaan tata rencana. Beethoven memperlihatkan bahwa musik instrumental tak bisa lagi dianggap cuma punya nilai seni nomor dua. Ini dibuktikan dari komposisi yang disusunnya yang telah mengangkat musik instrumental itu ke tingkat nilai seni yang amat tinggi.

Beethoven kehilangan kekuatan terbesarnya sebagai seorang komponis yaitu pendengaran. Namun beethoven membuktikan ketuliannya itu tidak bisa menghentikan kecintaannya dalam bermusik. Meski sempat putus asa tapi ia bisa bangkit lagi, Beethoven tidak menyerah pada keadaan. 

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar