Yamaha Lexi

Aku Tergila-gila Padamu Sampai Mati, Beb!

  Senin, 29 Januari 2018   Asri Wuni Wulandari
Ilustrasi. (ayobandung/Fathin Arif)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Saat itu, 12 Oktober 1944, Frank Sinatra menggelar konser tunggalnya di Paramount New York, Amerika. Puluhan ribu “bobby-soxers” – sebutan untuk penggemar fanatik Sinatra – yang menyematkan foto sang idola di setiap gaunnya, mengamuk. Sejumlah perempuan muda jatuh pingsan di tengah hiruk pikuk.

Itu adalah momen yang monumental, baik bagi budaya pop, sekaligus sebagai momen penting untuk mengingat kegilaan para fandom – istilah untuk penggemar fanatik.

Kejadian itu kemudian dikenal dengan sebutan “Columbus Day Riot” alias “Kerusuhan Hari Columbus” karena penyelenggaraan konser bertepatan dengan hari nasional AS. Tak ayal, kejadian itu membikin Sinatra, pada medio 1940-an, disalahkan oleh banyak orang. Ia dituduh membuat generasi muda kehilangan kontrol. Entah itu membuat bobby-soxers jatuh pingsan, cedera, atau hilang kendali sekali pun.

Sekali lagi, bung dan nona, itu adalah bentuk kegilaan pada fandom atau yang istilah urbannya, mari kita sebut “die-hard fans”. Sekelompok penggemar yang agresif. Bahkan, sengaja atau tidak disengaja, mereka rela pingsan, cedera, atau berlaku kasar demi sang idola. Dan itu tak hanya berlaku di dunia musik, tapi dalam dunia apa pun, termasuk olahraga, barangkali?

Sudahlah.. Akui saja. Dunia olahraga, apalagi sepak bola, begitu erat dengan lika-liku kelakukan para fandom. Tak usah jauh-jauh, tengok saja dunia sepak bola Indonesia. Bagaimana The Jack mati-matian membela Persija, Bonek yang gila akan Persebaya, juga Bobotoh yang begitu cinta pada tim kesayangan, Persib.

Tak jarang kecintaan fanatik para fandom ini berujung pada kerusuhan. Yang teranyar, oknum suporter melemparkan botol ke lapangan dan menyalakan flare saat klub sepak bola kesayangannya, Persib, kalah dari PSM Makassar pada Jumat (26/1/2018). Dan, lagi-lagi, apa penyebabnya jika bukan kecintaan fanatik pada sang idola?

Duh, fandom… Kenapa harus lempar botol? Kenapa enggak lempar setangkai mawar merah sebagai tanda cinta untuk Persib, begitu? Coba lihat akibatnya, tim kesayangan mereka, si Maung Bandung, mendapat sanksi dari Panitia Disiplin (Pandis) Piala Presiden 2018 berupa denda sebesar Rp10 juta. Ini adalah ketika sang idola kudu bertanggung jawab atas ulah para fandom.

Mark Duffet dalam Understanding Fandom : An Introduction to the Study of Media Fan Culture (2013) dengan tegas menyebut jika fandom adalah mereka yang mengisolasi diri dengan cara berlebihan, ekstrem, dan obsesif. Dan, ehm.. terkadang berlaku irasional. Penggemar fanatik kerap dicirikan dengan kelakuannya yang agak menyimpang, bahkan berbahaya.

Tentu masih teringat dalam benak kematian Ricko Andrean pada Agustus lalu.  Ia harus mengembuskan napas terakhirnya gara-gara dikeroyok sekelompok oknum suporter yang mengira jika ia merupakan bagian dari suporter lawan.

Hilangnya nyawa yang disebabkan oleh ulah para fandom ini bukan yang pertama kali. Merunut sejarah, dunia mengenal peristiwa yang dinamakan “Nika Riots”. Fandom zaman sangat old di Konstantinopel pada 532 M harus menghabiskan satu pekan dengan peperangan setelah pertandingan balap kereta kuda digelar. Kerusuhan ini adalah yang terbesar sepanjang sejarah Konstantinopel, dengan hampir 50% kota dirusak dan puluhan ribu orang tewas.

Kerusuhan adalah ungkapan kekecewaan. Ini bukan cuma tentang tim yang kalah, tapi ini tentang perasaan kehilangan diri. Mereka bahkan menjadi lebih optimis tentang kehidupan mereka sendiri ketika tim kesayangan mereka menang dan suram tentang masa depan pribadi saat tim kesayangan mereka kalah. Perasaan itu bak cocktail yang sempurna dari potensi psikologi manusia. Dengan tingkat emosional yang tinggi ini, tak heran jika hal-hal menjadi kacau.

Kendati demikian, fandom seyogianya tak melulu soal kecintaan ekstrem dan selalu bikin onar. Fandom adalah sekumpulan orang dengan cita-cita yang sama. Fandom sesungguhnya mengembangkan rasa kebersamaan, sebuah gagasan bahwa setiap orang dipersatukan karena suatu alasan yang lebih besar daripada yang mereka sadari. Di sana ada harapan, optimisme, juga persahabatan.

Persahabatan yang indah antarfans ini, misalnya, bisa kita lihat dari kasus yang terjadi pada Ricko Andrean. Sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya, ia berupaya menolong teman sesama Bobotoh dalam pengeroyokan yang dilakukan oleh kelompok suporter lawan, The Jack.

Itu namanya persahabatan dalam lingkaran fandom. Betapa mereka punya cita-cita dan keinginan yang sama, juga terikat satu sama lain.

Persahabatan antarfans itu memang indah laksana matahari terbit. Tapi pertanyaannya, kenapa lagi-lagi persahabatan itu dikotori oleh ulah seenaknya mereka sendiri? Mengapa fans Basuki Tjahaja Purnama dan fans Rizieq Shihab masih terus berseteru membela pujaan masing-masing?

Faktanya, fandom tak pernah suka mendengarkan hal-hal negatif tentang idolanya. Mereka selalu merasa sang idola lah yang paling benar, patut dipuja, dan siap meladeni siapa pun juga menyerangnya dengan argumen-argumen serius.

Mungkin ini bentuk kecanduan pada sang idola yang tak berbatas. Atau, apakah ini cinta? 

Ini seperti ikatan cinta tidak resmi dan sebelah pihak antara fandom dengan sang idola. Hubungan cinta sebelah pihak seperti ini memang bisa bertahan lama.

Seperti proses jatuh hati pada seseorang yang tak pernah direncanakan, cinta para fandom pada sang idola betah lama-lama bertahan dan bahkan tak bisa ditinggalkan. Hanya ada dua pilihan, meninggalkan atau bertahan.

Atas nama cinta, mereka memilih opsi pertama. Tak apa bertahan meski harus rela diejek, menjadi gila, kehabisan uang, atau bahkan masuk penjara. Selama rasa hangat dan cinta yang berdebar-debar itu ada, toh, mereka tetap mampu bertahan dan rela menjadi pesakitan. Mereka ada seutuhnya untuk sang idola.

Apa saja akan dilakukan. Tak keberatan menghabiskan uang jajan untuk mengikuti ke mana pun Afghan berada, hingga ke luar negeri sekali pun. Atau menato lengan kiri dengan wajah Prilly Latuconsina.

Dan, masih soal cinta, tahukah kau, jika The Beatles sempat kontroversial gara-gara membuat banyak orang tua pada masanya khawatir? Bagaimana tidak? Buah hati mereka yang masih seumur jagung merengek ingin mencium John Lennon CS atau bahkan menikahinya. Orang tua mana yang tak kaget memergoki anaknya saat menciumi poster Ringo Star di dinding kamar. Ini cinta, bahkan di dalamnya ada impian pernikahan, tapi menggelikan.

Fandom berpikir jika mereka memahami cita-cita sang idola sepenuhnya, dan sangat menghormati mereka.

Pamela Des Barnes, seorang groupie – sebutan untuk fandom grup musik – tersohor di era 1970-an melakukan segalanya untuk dekat dengan sang idola. Bahkan, jangan kaget, Pamela sampai hati meniduri sejumlah dewa-dewa rock n roll mulai dari Mick Jagger, Keith Moon, Jimmy page dan masih banyak lagi.

Dalam memoir groupie-nya I’m With the Band : Confession of a Groupie (1987), ia menulis : “… dengan cara itu kami menunjukkan rasa cinta pada rockstar-rockstar idola kami.”

Apa pun itu, aku (juga) tergila-gila padamu, wahai fandom! Semoga kalian selalu ada untuk mereka, beb.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar