Yamaha Mio S

Ekosistem Musik Bandung Kini Bertemu Angin Segar

  Kamis, 21 Desember 2017   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Ilustrasi -- Speaker First membentangkan bendera Indonesia di panggung Woodstock Festival 2017, Polandia. (Instagram @speaker_first_official)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Ada angin segar bagi musisi Kota Bandung. Kehidupan musik di kota ini tengah dilirik jajaran pemerintah. Setelah bertahun-tahun mengalami sedikit “hibernasi”, kini pemerintah jemput bola dan mengajak pelaku musik di kota ini untuk bergeliat bersama. Alasannya, dalam rangka fokus membidik pembentukan ekosistem ekonomi kreatif di Kota Kembang.

Sebut saja gelaran Bandung Music Frontyard (BMF) 2017. Itu merupakan program tahunan bagi para musisi muda di kota yang dikenal sebagai barometer musik Tanah Air ini.

Pemerintah tak berdiam diri. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung ambil peran menyokong penuh program ini untuk menjadi salah satu “hub” bagi komunitas musik di Bandung. Soalnya , musik merupakan salah satu sub-sektor ekonomi kreatif yang bakal jadi prioritas pemerintah di tahun 2018.

Kepala Disparbud Kota Bandung, Kenny Dewi Kaniasari mengatakan jika sektor musik memiliki nilai ekonomi yang bagus, baik bagi musisi atau masyarakat yang menikmatinya. “Program semacam ini pun otomatis akan menjadi potensi yang baik bagi PAD Kota Bandung,” katanya di sela-sela gelaran BMF 2017, Rabu (20/12/2017). Hal ini juga sejalan dengan pernyataan Wali Kota Bandung yang konon, bakal menjadikan ibu kota Provinsi Jawa Barat ini sebagai kota musik berkelas internasional pada 2016 lalu.

Selama ini, musisi muda Bandung masih berjalan masing-masing. Tak ada pihak yang merangkul mereka. Setidaknya begitu menurut Kenny. “Sekarang, mumpung bidang ekonomi kreatif ada di Disbudpar, maka musisi muda kita rangkul,” akunya.

AYO BACA : Mereka yang Berteriak Berikan Kami Akses Mudah

Kenny melihat jika perkembangan musik di Kota Bandung secara umum meningkat signifikan. “Saya dapat informasi, band asal Bandung, Burgerkill, sudah masuk majalah musik di Inggris,” katanya. Nama Burgerkill, pada tahun 2015 lalu tercatat di Metal Hammer Magazine setelah band jebolan Komunitas Ujung Berung Rebel ini wara-wiri di festival-festival bertaraf internasional.

Sesungguhnya bukan hanya Burgerkill yang membawa nama Bandung di ekosistem musik dunia. Beberapa band asal Bandung tercatat rajin keluar-masuk Indonesia untuk tampil di berbagai belahan Bumi. Bahkan, band rock ‘n roll asal Bandung, Speaker First, pernah tampil di panggung festival musik legendaris dunia, Woodstock Festival.

“Ini bisa membawa harum nama Bandung. Tinggal perhatian dari pemerintah yang akan memfasilitasi, dan inilah salah satu tujuan kegiatan ini,” kata Kenny memberikan angin segar pada musisi Bandung.

Ajang Pendekatan dengan Musisi Bandung

Sebagai pemerintah yang seyogianya memfasilitasi warga, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung ingin mengenal lebih dekat musisi-musisi yang ada di kota berjuluk Paris van Java ini.

AYO BACA : Hibernasi Skena Musik Bandung, Iraha Hudangna Bray?

“Dengan suasana informal, kita ingin mengenal mereka. Kita ingin tahu apa saja yang mereka harapkan dari pemerintah, seperti apa keinginan mereka, dan mungkin kita bisa bantu untuk memfasilitasi,” aku Kenny.

Saat ini Disbudpar Kota Bandung tengah melakukan pemetaan dengan mengumpulkan road map ekosistem musik di Bandung yang sebelumnya telah disusun oleh beberapa pihak. Para musisi ini nantinya akan diinventarisir sebagai data base yang bakal digunakan pemerintah untuk memajukan ekosistem musik.

Kenny berharap agar musisi-musisi asal Bandung yang telah berkiprah di luar daerah bisa kembali ke kampung halamannya dan memajukan ekosistem musik di Kota Bandung.

Disbudpar Kota Bandung rencananya bakal memperbanyak gelaran-gelaran musik. “Idealnya tiap bulan dibuat satu tema,” ujar Kenny. Selain itu, untuk mendukung ekosistem musik Bandung, pihaknya juga bakal mendorong dengan cara mengantivasi ruang publik dan berbagai kafe yang biasa digunakan sebagai venue acara musik.

Festival Director BMF 2017, Angga Wardhana mengatakan jika gelaran ini merupakan bentuk kerja sama antar-stakeholder yang saling mendukung. Antara pemerintah, aparat, pelaku industri musik, dan masyarakat.

"Kegiatan semacam ini untuk membentuk sebuah ekosistem seni yang dapat melahirkan karya terbaik dari para pelaku seninya. Apresiasi yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada Disbudpar Kota Bandung yang sudah siap mendukung kemajuan musik,” kata Angga. 

BMF 2017 yang digelar selama dua hari, Selasa-Rabu (19-20/12/2017) di Butterfield Kitchen ini juga menghadirkan program diskusi dengan tema “Perkembangan Musik Independen di Kota Bandung”. Diskusi ini menghadirkan pembicara seperti Helvi Sjariffudin (Pendiri Fast Forward Record), Dadan Ketu (Pendiri Riotic/Manajer Burgerkill), Kimung (Karinding Attack/Sejarawan Musik), Angkuy (Bottlesmoker), dan Angga Wardhana.

AYO BACA : 10 Band Indie Bandung yang Dikenal di Negeri Orang

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar