Yamaha Aerox

Jika Kau Ingin Merasa Tenang, Dengarkan Sex Pistols dkk

  Senin, 11 Desember 2017   Asri Wuni Wulandari
Sex Pistols. (Wikipedia)

AYOBANDUNG.COM – Jika kau mendengar ocehan Sid Vicious dalam “Anarchy in the U.K”, akankah kau merasa gelisah? Akankah matamu bulat menyala pertanda berontak? Akankah pula kau berteriak mengumpat?

Sex Pistols selalu hadir dengan kekuatan liriknya yang penuh dengan kegelisahan, kemarahan, pemberontakan. Terdengar kasar dan agresif. Tapi akankah musik-musik semacam itu menggiring pendengar kepada perasaan yang sama? Kemarahan-kemarahan dalam musik itu rasanya biasa-biasa saja.

Hipotesa itu didukung oleh sebuah penelitian yang dilakukan beberapa periset di Humboldt State, Ohio State, UC Riverside, dan UT Austin. Penelitian itu menunjukkan jika anak muda yang mendengarkan musik punk atau musik cadas lainnya era 70-90an secara signifikan akan hidup lebih bahagia. Khususnya saat usia muda mereka. Dan di usia tua, mereka biasanya punya kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kedua jenis kelompok : pemuda usia lanjut atau pemuda yang sangat kekinian.

Meski perdebatan muncul mengatakan jika konten lirik musik di era itu tak pantas untuk sajian musik populer ataupun alternatif, namun para periset meyakinkan jika konten-konten kemarahan itu tak merubah seseorang menjadi maniak yang teralienasi. Sebaliknya, mereka menemukan adanya partisipasi dalam counter culture dapat meningkatkan pengembangan identitas seseorang di masa mudanya.

Nah, sekarang, penelitian di atas tadi didukung lagi oleh penelitian yang lebih anyar mengenai dampak dari musik hardcore punk dan metal yang memuat konten kemarahan jiwa. Malah, penelitian berjudul “Extrem Metal Music and Anger Processing” ini justru menyebut jika musik yang agresif memiliki efek menenangkan secara paradoksal.

Seperti dituliskan Open Culture, penelitian itu dilakukan oleh Pakar Psikologi dari University of Queensland, Leah Sharman dan Genevieve Dingle. Dilakukan terhadap 39 pencinta musik keras berusia 18-34 tahun.

Para peserta dibiarkan membicarakan hal-hal yang menjengkelkan. Lalu, peserta diminta untuk mendengarkan musik keras secara acak dari playlist mereka masing-masing. Lantas, hening seketika.

Penelitian ini menunjukkan jika sebagian besar pendengar, bukannya merasa kacau, mereka justru merasa tenang dan seolah terinspirasi. “Musik membantu mereka mengeksplorasi keseluruhan emosi yang mereka rasakan,” kaya Sharman. “Juga membuat mereka merasa lebih aktif dan terinspirasi.”

Musik keras, atau yang Sharman dan Dingle sebut sebagai musik ekstrem, memang menyimpan kontroversi dengan keunggulan liriknya yang agresif. Dalam sebuah eksperimen tambahan, Sharman dan Dingle juga menemukan jika konten-konten lirik yang memuat kekerasan mampu pula meningkatkan permusuhan antar-peserta. “Tapi itu efeknya cepat sekali berlalu,” ujar Sharman.

Artinya, asumsi yang berlaku selama ini, bahwa bebunyian marah dan musik keras cum agresif sering menyebabkan atau berkorelasi dengan depresi, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, atau bahkan bunuh diri tak berlaku bagi Sharman dan Dingle. Keduanya malah menemukan jika musik keras mampu mengurangi kecemasan dan agresi pendengar. Membuat pendengar lebih bahagia, tenang, dan lebih mampu mengatasi tekanan yang membuat mereka marah.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar