Yamaha Lexi

Magic Mushroom Bisa Bantu Penderita Depresi?

  Senin, 16 Oktober 2017   Asri Wuni Wulandari
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

AYOBANDUNG.COM – Depresi adalah salah satu kondisi mental terburuk yang bisa dimiliki seseorang. Penyebabnya, bisa berbagai hal. Biasanya, depresi kebanyakan terjadi pada kaum dewasa muda dan tua.

Beberapa orang memilih untuk menggunakan beberapa jenis obat untuk menyembuhkan depresi. Kendati demikian, itu bukan satu-satunya solusi. Ada beberapa solusi alami yang bisa membantu kondisi depresi dalam diri seseorang. Namun itu juga harus diimbangi dengan perubahan gaya hidup yang bisa membantu seseorang dalam menangani depresinya.

Sebuah studi teranyar menemukan jika magic mushroom dapat secara efektif mengobati depresi dengan me-reboot aktivitas rangkaian otak utama pada pasien penderita depresi. Peneliti dari Imperial College London, Inggris, menggunaka psilocybin – senyawa psikoaktif yang terbentuk secara alami di magic mushroom – untuk mengobati sejumlah pasien penderita depresi yang telah gagal dalam proses pengobatan konvensionalnya.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Scientific Reports Journal ini, para peneliti menemukan jika pasien yang menggunakan psilocybin untuk mengobati depresi menunjukkan penurunan gejala beberapa pekan setelah perawatan. Pasien memperlihatkan manfaatnya setelah lima pekan perawatan.

Para peneliti percaya jika senyawa psikedelik dapat secara efektif mengatur ulang aktivitas rangkaian otak utama yang diketahui berperan dalam depresi. Perbandingan gambaran otak pasien sebelum dan satu hari setelah mereka menerima pengobatan magic mushroom menunjukkan perubahan aktivitas otak yang terkait dengan penurunan gejala depresi.

“Kami telah menunjukkan untuk pertama kalinya perubahan yang jelas dalam aktivitas otak pada penderita depresi yang diobati dengan psilocybin setelah gagal menanggapi pengobatan konvensional,” ujar Kepala Riset Zat-zat Psikedelik di Imperial College, London, Robin Carhart-Harris, yang memimpin penelitian tersebut.

“Beberapa pasien kami menggambarkan perasan ‘reset’ setelah perawatan dan sering menggunakan analogi komputer. Misalnya, seseorang mengatakan jika dirinya merasa otaknya telah ‘defragged’ seperti hard drive komputer. Dan, satu lagi mengatakan bahwa dia merasa ‘reboot’,” beber Harris.

Harris menduga jika psilocybin bisa menjadi tendangan awal yang dibutuhkan oleh penderita depresi untuk keluar dari kebingungannya. Hasil pencitraan ini, lanjutnya, secara tentatif mendukung analogi ‘reset’.

“Efek otak yang serupa dengan ini telah terlihat dengan terapi electroconvulsive,” ujar Harris.

Dalam penelitian itu, sebanyak 20 pasien penderita depresi diberikan dua dosis psilocybin  (10 miligram dan 25 miligram), dengan dosis kedua diberikan satu pekan setelah dosis pertama diberikan. 19 di antaranya menjalani pencitraan awal otak dan kemudian melakukan pemindaian kedua di satu hari setelah pengobatan dosis tinggi.

Peneliti menggunakan dua metode pencitraan otak utama untuk mengukur perubahan aliran darah di antara daerah otak. Pasien juga melaporkan gejala-gejala depresi yang dirasa melalui pengisian kuesioner klinis.

Segera setelah diobati dengan psilocybin, pasien melaporkan penurunan gejala depresi – sesuai dengan laporan anekdot tentang efek “after glow” yang ditandai dengan perbaikan dalam mood dan pereda stress.

Pencitraan resonansi magnetik fungsional MRI menunjukkan berkurangnya aliran darah di daerah otak, termasuk amigdala, wilayah kecil dalam otak yang diketahui terlibat dalam memproses respons emosional, stres, dan ketakutan.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar