Yamaha Lexi

Dari Harvey Weinstein, Kita Perlu Mengenal Apa Itu Kecanduan Seks

  Sabtu, 14 Oktober 2017   Asri Wuni Wulandari
Produser Harvey Weinstein. (REUTERS)

AYOBANDUNG.COM – Beberapa waktu lalu, jagad Hollywood diramaikan oleh kabar pelecehan seksual yang dilakukan oleh salah satu produser ternama, Harvey Weinstein, terhadap sejumlah aktris tersohor. Awal pekan ini, Weinstein berencana untuk mencari pengobatan atas kecanduan seks yang dideritanya.

Pusat Pengobatan Ketergantungan memiliki definisi kecanduan yang mencakup penggunaan zat dan perilaku judi, perilaku seksual kompulsif yang dikategorikan sebagai gangguan kontrol impuls.

Melansir The Cut, Direktur Pengobatan Kecanduan Seksual di Pine Groove, Mississippi, AS, Deborah Schiller mengatakan jika ada kecanduan seks yang lebih klasik dan bergerak progresif dari waktu ke waktu. Seperti masturbasi melalui film porno, atau melakukan hubungan seks melalui telepon bersama orang-orang secara anonim. “Dan seringkali di sana ada trauma dalam kehidupan seseorang,” ujarnya.

Orang-orang yang ketagihan ini menjadikan seks sebagai bagian utama hidup mereka. “Kami memiliki seorang pria yang masuk dan mengatakan jika dirinya melihat konten pornografi sejak dirinya masih 4 tahun,” tambahnya. “Ia juga melakukan masturbasi selama enam jam sehari.”

Hal yang membuat para pecandu untuk mengurangi adiksinya adalah dengan berada di sekitar orang lain. Ketika korteks prefrontal pecandu – tempat di mana kontrol impuls mereka berada – mulai mati, mereka mulai berpikir dengan otak candu “binatang”. Orang-orang seperti itu, dikatakannya, membutuhkan orang lain yang mampu membuat otaknya bekerja secara rasional.

Interaksi dengan orang lain di sini adalah penting. Penekanan besar adalah pada terapi kelompok. “Seorang pecandu harus memiliki ikatan seumur hidup, satu sama lain,” ujarnya. Sehingga seorang pecandu bisa berhenti untuk meng-klik konten-konten porno dan menggantinya dengan interaksi sosial.

“Kita tahu bahwa kecanduan adalah penyakit,” ujarnya. Meski banyak para pecandu seks mengalami trauma di masa lalunya, namun bukan berarti trauma adalah alasan satu-satunya.

Ada kesalahan di dalam otak, dan orang yang dilahirkan dengan reseptor dopamin lebih sedikit daripada yang lain, tidak dapat menghargai diri mereka sendiri. Mereka punya kecenderungan untuk meraih sesuatu di luar diri mereka untuk memperbaikinya, dan itu biasanya di mulai sejak awal kehidupan mereka. “Seks adalah satu perilaku yang bisa dilakukan orang untuk mengatasi stres mereka,” jelasnya.

Kecanduan seks, katanya, adalah penyakit kronis. “Seperti diabetes,” ujarnya. Seorang pecandu tidak bisa menghilangkan kecanduan seksnya.

Bebberapa orang mengatakan jika itu adalah pilihan, tapi mereka tidak bisa memutuskan untuk tidak menginginkannya. “Orang bisa menjalani sisa hidup mereka tanpa berperilaku seperti ini, tapi mereka masih memiliki otak di mana mereka dilahirkan,” bebernya.

Namun Schiller mengaku jika pihaknya tak pernah menangani kecanduan seks dalam konteks kekerasa. Menurutnya, pemerkosaan termasuk ke dalam serangan kekerasan. “Ini bukan tentang seks. Ini tentang dominasi. Ini seperti mengalahkan seseorang,” tegasnya.

Seseorang bisa memiliki perilaku seksual kompulsif dengan rajin menonton konten porno berjam-jam, tapi belum tentu mereka bisa memperkosa seseorang. Seseorang yang yang memiliki perilaku assaultif (penyerangan) dapat memiliki kecanduan seksual yang tidak dapat diobati. “Namun kami tidak melihat kedua hal itu (pemerkosan dan kecanduan seks) sebagai hal yang sama,” ujarnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar