Yamaha Lexi

Rahasia Di Balik Kebiasaan Ngemil Keripik Tanpa Henti

  Kamis, 28 September 2017   Asri Wuni Wulandari
Ilustrasi keripik. (Pixabay/Public Domain Archive)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Kebanyakan dari kita senang sekali makan keripik. Keripik ada di mana-mana, dan rasanya kurang kalau tak ada keripik. Sebagai teman menonton, teman mengerjakan tugas sampai teman mengobrol. Hingga rencana diet pun gagal karena godaan keripik yang dahsyat.

Sebenarnya, kebanyakan dari kita gagal mengekang hasrat akan rasa asin. Orang dewasa rata-rata di Amerika Serikat makan sekitar 8,1 gram sodium per hari, jauh di atas batas 5 gram yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dan ilmuwan telah menemukan alasannya.

Dilansir dari Daily Mail pada Kamis (28/9/2017), sebuah tim peneliti di Beth Israel Deaconess Medical Center di Boston telah menemukan kelompok neuron tertentu yang mendorong nafsu makan kita untuk sodium. Temuan tersebut menawarkan harapan untuk mengembangkan obat-obatan yang menargetkan neuron ini pada orang-orang yang memiliki kekurangan horman, yang dapat membuat mereka berpikir jika mereka membutuhkan lebih banyak sodium.

Masih belum jelas bagaimana neuron ini mempengaruhi obesitas atau sebaliknya. Neuron terletak di daerah yang dikenal sebagai NST (nucleus of soliter) yang berperan penting dalam sistem kardiovaskular.

Terobosan yang dilaporkan ini mengikuti studi selama 12 tahun. Diterbitkan pada bulan lalu dan menemukan jika diet tinggi terhadap garam dapat melipatgandakan risiko gagal jantung.

Menurut WHO, diperkirakan 2,5 juta kematian per tahun dapat dicegah jika kita mengurangi konsumsi garam ke tingkat yang dianjurkan, yaitu 5 gram sehari. Sebab, hal tersebut dapat membantu mengurangi tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular, stroke dan serangan jantung koroner.

Manfaat utama menurunkan asupan garam adalah pengurangan tekanan darah tinggi. Manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa garam karena garam membantu menyeimbangkan kandungan air tubuh serta memainkan peran penting dalam mengatur tekanan darah dan fungsi seluler. Garam hilang melalui ekskresi dan proses metabolisme hormone lainnya, dilepaskan sebagai respon terhadap defisiensi natrium.

Sekarang Resch dan rekan-rekannya di Divisi Endokrinologi, Diabetes dan Metabolisme di di Harvard Medical School telah memberi penjelasan tentang ketergantungan manusia terhadap garam.

Dalam serangkaian percobaan, para periset menunjukkan neuron ini diaktifkan saat tikus kekurangan garam. Adanya hormon aldosteron - yang dilepaskan tubuh saat kekurangan garam - juga meningkatkan respons sel otak ini.

Para periset juga mengungkapkan bahwa neuron tidak bertanggung jawab untuk menggerakkan nafsu makan garam.

Menggunakan tikus yang tidak kekurangan mineral menunjukkan ketika mereka diaktifkan secara artifisial, konsumsi hanya dipicu dengan adanya hormon angiotensin II. Ini adalah zat kimia yang juga dikeluarkan oleh tubuh selama kekurangan sodium.

Dari sini para peneliti menyimpulkan seperangkat neuron lain yang sensitif terhadap angiotensin II mungkin berperan dalam nafsu makan garam. Namun sayang, hal ini belum diidentifikasi betul.

Negara anggota WHO telah sepakat untuk mengurangi asupan garam penduduk global sebesar 30 persen pada tahun 2025 karena manfaat kesehatannya.

(Job/Nisrina Ninis)

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar