Yamaha NMax

Secara Ilmiah, Daya Tarik Seksual Berasal Dari Mana?

  Kamis, 28 September 2017   Asri Wuni Wulandari
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

AYOBANDUNG.COM – Seorang pria menjalin kontak mata dengan perempuan di seberangnya. Ia yakin jika daya tariknya mampu bikin si perempuan klepek-klepek. Tak lama, si perempuan kemungkinan akan menyambutnya atau bahkan melesat pergi. Itu adalah zona perang biokimia, di mana laki-laki dan perempuan membaca isyarat sosial secara berbeda.

Hipotesa umum menyebutkan jika si pria barangkali saja memulai kontak mata itu dengan harapan akan sebuah “keberuntungan”, tapi belum tentu dengan perempuan. Barangkali si perempuan tengah mencari Mr. Right untuknya sendiri.

Sejumlah penelitian mengklaim telah mengungkap misteri di balik apa yang terjadi di dalam otak dan memberikan jawaban atas pernyataan apa sains yang ada di balik daya tarik seksual atau sex appeal.

Seorang peneliti dari University of Aberdeen di Skotlandia, Lisa Debrine, pernah melakukan penelitian soal karakteristik yang membentuk wajah feminim dan maskulin. Ia memecah wajah manusia dengan komponen-komponennya, seperti mata, hidung, mulut dan kulit.

Aroma tubuh, biokimia, bentuk wajah dan suara adalah semua faktor dari sex appeal. Ya, telah banyak penelitian yang berkontribusi untuk menilai sex appeal berdasarkan suara dan bentuk wajah.

Dinukil dari Women’s Heatlh, banyak peneliti mengatakan jika daya tarik adalah sesuatu yang deprogram secara genetis di dalam otak. Namun, seorang profesor psikologi, Cara DiYanni peraya jika ada lebih dari sekedar biologi. “Kami secara biologis cenderung menemukan aspek tertentu dari manusia menjadi menarik,” ujarnya.

Cara percaya jika pria dan perempuan menemukan karakterisitik berbeda pada lawan jenis untuk menjadi menarik. “Secara biologis pria cenderung tertarik pada perempuan berambut panjang, payudara besar dan berat badan ideal. Karena sekali lagi, ini adalah indikator kesuburan,” jelasnya.

Seorang profesor di New York University di Albany mengatakan jika perempuan dengan tingkat estrogen lebih tinggi cenderung memiliki suara yang lebih tinggi, yang membuat mereka lebih diminati pria.

Oprah Winfrey pernah sangat terpesona dengan topik ini, hingga ia memberikan tempat untuk pertunjukannya demi berbicara tentang daya tarik seksual. Karl Grammer dan Elizabeth Oberzaucher kala itu didapuk sebagai peneliti yang memimpin perbincangan itu. Mereka berbicara soal aroma dan suara.

Mereka menemukan jika ketika perempuan berovulasi, mereka cenderung menghasilkan aroma yang menarik perhatian pria. Sementara suara merupakan faktor lain yang tak banyak orang sadari. Misalnya, perempuan dengan suara feminim bernada tinggi akan tampak lebih menarik dibanding mereka yang bersuara rendah. Namun di sisi lain, perempuan dengan suara yang lebih maskulin juga dinilai memiliki daya tarik seksual yang lebih besar.

Faktor lain daya tarik seksual adalah bentuk wajah. DeBrine misalnya yang menemukan bahwa wajah perempuan lebih menarik saat mereka berovulasi.

Ada perbedaan antara wajah pria dan perempuan. Wajah perempuan cenderung memiliki rahang yang sedikit lebih kecil, sedangkan rahang pria berbentuk kuadrat. Bagian lain yang berbeda adalah alis. Alis perempuan lebih tipis jika dibandingkan alis pria yang rata-rata lebih tebal. Karakteristik ini menentukan apa yang dianggap maskulin dan apa yang dianggap feminim.

DeBrine melakukan penelitian dengan melakukan perubahan gambar terhadap wajah. Ia mengubah sejumlah wajah perempuan dan pria. Sebuah tes dilakukan di mana subjek diminta untuk melihat wajah yang berubah. Temuan menunjukkan jika 81% pria lebih menyukai wajah yang lebih feminism dan mayoritas perempuan menyukai wajah yang lebih maskulin.

Wajah yang sangat maskulin untuk pria menunjukkan bahwa ia memiliki testosteron tinggi, dan wajah seorang wanita yang sangat feminin menunjukkan bahwa ia memiliki hormon wanita yang lebih tinggi seperti estrogen. Semua ini adalah tanda-tanda sistem reproduksi yang sehat.

Sebuah tulisan yang dipublikasikan di Time menulis tentang apa yang terjadi pada otak saat seseorang tengah jatuh cinta. Ada tiga zat kimia yang terkait di otak yang menyebabkan perasaan euforia. Dopamin, norepinephrine dan serotonin. Berpikir obsesif tentang seseorang disebabkan oleh aktivitas otak yang menurun dari zat serotonin dan peningkatan gairah terjadi karena tingkat dopamin dan norepinephrine menjadi lebih kuat.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar