Yamaha Aerox

Bermain Sepak Bola Sejak Dini Bahaya untuk Perilaku Anak Ketika Dewasa

  Rabu, 20 September 2017   Asri Wuni Wulandari
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

AYOBANDUNG.COM – Jika anak-anak bermain sepak bola sebelum mereka berusia 12 tahun dan terus bermain hingga ia remaja, maka bukan hal yang tak mungkin jika bahaya mendekati otak dan kemampuan kognitif mereka di kemudian hari.

Hal itu dikatakan dalam sebuah studi anyar yang diterbitkan pada Selasa (19/9/2017) di Nature’s Translational Psychiatry Journal. Periset dari Pusat Enkrologi Kronik Boston memperlajari 214 mantan pemain sepak bola. 43 di antaranya adalah mereka yang hanya bermain di SMA, 103 adalah mereka yang bermain di tingkat perguruan tinggi dan 68 lainnya adalah para pemain sepak bola profesional.

Ilmuwan menemukan jika bermain sepak bola sebelum usia 12 tahun dapat meningkatkan kemungkinan adanya masalah perilaku, sikap apatis dan fungsi eksekutif di kemudian hari sebanyak dua kali lipat. Selain itu, anak-anak yang bermain sepak bola lebih cepat juga memiliki kemungkinan untuk menderita gejala depresi sebesar tiga kali lipat.

Bermain sepak bola sebelum usia 12 tahun dapat meningkatkan risiko perilaku dan masalah mood saat mereka dewasa kelak. “Kami menemukan hal itu sangat luar biasa,” ujar Penulis Utama Studi dari Boston University School of Medicine, Michael Alosco sebagaimana dilansir dari TIME.

Penelitian baru ini muncul atas dasar kekhawatiran tentang sepak bola yang semakin menarik pemain-pemain muda, bahkan sangat muda.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan risiko bermain sepak bola di usia muda. Pada tahun 2015, tim dari Boston University menemukan jika di antara kohor mantan pemain NFL, mereka yang mulai bermain sebelum usia 12 tahun menunjukkan perubahan struktural pada otak yang bertugas untuk mengkoordinasikan komunikasi antara berbagai wilayah otak.

Sementara penelitian sebelumnya cenderung berfokus pada gangguan mantan pemain NFL, studi kali ini memperluas cakupan sampel untuk menangkap masalah yang dihadapi mantan pemain sepak bola.

Mengalami trauma kepala pada usia dini bisa menyebabkan masalah di kemudian hari. Pasalnya, otak sangatlah rentan. Profesor Neurologi dari Boston University, Robert Cantu mengatakan jika di usia 10-12 tahun, otak memaksimalkan konektivitas dan menyempurnakan perkembangan strukturalnya. Intelijen, kecenderungan mood dan kontrol mulai terbentuk.

Jika kepala berkali-kali terbentur, maka itu akan mengganggu proses pertumbuhan kognitif. “Mereka dapat membuat otak Anda tidak mencapai potensi genetisnya,” kata Robert.

Setidaknya penelitian ini bisa juga dianggap sebagai bukti bahwa perilaku hidup seseorang di kemudian hari – utamanya yang menyangkut urusan kognitif  dan mood – dapat dipengaruhi oleh trauma otak sejak dini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar