Yamaha Mio S

Ancam-Mengancam AS dan Korea Utara, Kapan Selesai?

  Sabtu, 16 September 2017   Asri Wuni Wulandari
Ilustrasi -- (kiri) Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan (kanan) Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (REUTERS)

AYOBANDUNG.COM – Amerika Serikat harus berhenti mengancam Pimpinan Korea Utara Kim Jong Un jika solusi damai untuk konflik nuklir antara kedua negara dapat ditemukan. Sebelumnya, Kim Jong Un menegaskan kembali jika tujuan negaranya adalah untuk mencapai ekuilibrium atawa keseimbangan militer dengan Amerika Serikat.

“Mereka (AS) harus menahan diri untuk tidak mengeluarkan lebih banyak ancaman. Mereka harus berbuat lebih banyak untuk menemukan cara yang efektif demi melanjutkan dialog dan negosiasi,” ujar Duta Besar Cina untuk AS, Cui Tiankai sebagaimana dilansir dari The Guardian pada Sabtu (16/9/2017).

Kantor Berita Negara Korea Utara, KCNA, mengutip ucapak Kim yang mengatakan : “Tujuan akhir kami adalah untuk membangun keseimbangan kekuatan riil dengan AS dan membuat penguasa AS tidak berani membicarakan opsi militer.”

Sementara AS membalasnya dengan pernyataan jika pihaknya dapat kembali ke opsi militer kalau sanksi terakhir gagal untuk menghentikan ujicoba nuklir Korea Utara.

Kemudian desakan juga muncul untuk Cina dan Rusia. Salah satunya disebutkan oleh Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson yang mendesak kedua negara untuk menunjukkan sikap mereka terhadap peluncuran nuklir sembarangan ini dengan bersikap tegas.

Berbicara di Beijing, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan jika negaranya menentang peluncuran nuklir tersebut, namun juga mendesak AS untuk mengubah taktiknya terhadap Pyongyang. “Cina tidak bisa disalahkan atas eskalasi ketegangan. Cina juga tidak memegang kunci untuk menyelesaikan masalah nuklir semenanjung Korea.”

Isu soal Korea Utara kemungkinan bakal jadi pusat perhatian selama kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke Cina pada bulan November nanti. Selama berbulan-bulan Trump telah berjuang untuk meyakinkan Cina agar berbuat lebih banyak dalam membantunya mengendalikan rezim Kim Jong Un.

“Korea Utara adalah negara nakal yang telah menjadi ancaman dan rasa malu besar bagi Cina, yang berusaha membantu namun dengan sedikit keberhasilan,” cuit Trump pada akun Twitternya awal September lalu.

Pakar Korea Utara di Pusat Kebijakan Global Cina Carnegie-Tsinghua, Zhao Tong mengatakan jika Kim Jong Un hampir pasti akan melanjutkan gejolaknya jelang kedatangan Trump ke Cina. “Kami cenderung melihat lebih banyak tes, mungkin termasuk tes nuklir lainnya. Tidak akan lama lagi orang-orang Korea Utara benar-benar merasakan sakit (sanksi dari PBB),” ujarnya.

Zhao berpikir jika saat ini strategi yang digunakan Korea Utara adalah menggunakan waktu yang sangat singkat sebelum menghadapi masalah nyata di dalam negeri, untuk sepenuhnya menyelesaikan program nuklir dan rudal mereka. “Jadi kemungkinan besar (Korut) akan mempercepat dan melakukan tes dan kemudian dengan cepat melunakkan posisi mereka dan melakukan diplomasi.”

“Apa yang kita lihat adalah mereka (Korut) terus menjadi provokatif, mereka terus menjadi ceroboh,” ujar Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley.

Sementara itu, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia mengatakan jika AS perlu memulai dialog dengan Korea Utara, sesuatu yang sejauh ini selalu dikesampingkan oleh Washington. Namun ketika ditanya soal prospek untuk melakukan dialog langsung, Juru Bicara Gedung Putih malah berkata : “Seperti yang telah dikatakan Presiden Trump dan tim keamanan nasional, sekarang bukan saatnya untuk berbicara dengan Korea Utara.”

Presiden Korea Selatan Moon Jae-In juga mengatakan jika dialog dengan Korea Utara adalah tidak mungkin untuk saat ini. Dia memerintahkan para pejabat untuk menganalisis dan mempersiapkan kemungkinan ancaman anyar Korea Utara, termasuk gelombang elektromagnetik dan serangan biokimia.

AS dan Korea Selatan secara teknis masih berada dalam zona perang dengan Korea Utara. Berawal pada tahun 1950-1953 ketika konflik Korea berakhir dengan gencatan senjata. Korea Utara menuduh AS yang memiliki 28.500 tentara di Korsel berencana untuk menyerangnya dan secara teratur mengancam untuk menghancurkannya dan sekutunya di Asia.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar