Yamaha Aerox

Duduk Terlalu Lama Meningkatkan Risiko Kematian Dini

  Rabu, 13 September 2017   Asri Wuni Wulandari
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

AYOBANDUNG.COM – Para ahli mengatakan jika kita harus beristirahat dari duduk terlalu lama setiap 30 menit. Tak peduli seberapa banyak Anda beraktivitas, duduk untuk jangka waktu yang terlalu lama merupakan faktor risiko kematian dini. Hal itu disampaikan dalam sebuah studi anyar yang diterbitkan pada Senin, 11 September 2017 di Annals of Internal Medicine.

Dilansir dari CNN, ditemukan adanya hubungan langsung antara waktu yang dihabirkan untuk duduk dengan risiko kematian dini. Para peneliti melakukan studi terhadap hampir 8.000 orang dewasa. Seiring meningkatnya waktu duduk Anda, begitu juga dengan risiko kematian dini Anda. Dan, orang yang duduk kurang dari 30 menit, memiliki risiko kematian dini paling rendah.

“Sedikit duduk, banyak bergerak.” Adalah apa yang selalu didorong oleh Asosiasi Jantung Amerika Serikat kepada masyarakat luas. Namun, panduan sederhana ini tak cukup. “Ini seperti menyuruh seseorang untuk hanya beraktivitas tanpa memberi tahu mereka bagaimana mereka harus beristirahat juga,” ujar Penulis Utama Studi dari Columbia University, Keith Diaz.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS merekomendasikan orang dewasa untuk melakukan latihan aerobik intensitas sedang selama 90 menit setiap pekan, ditambah dengan aktivitas penguatan otot selama dua hari atau lebih dalam sepekan.

“Kami butuh panduan serupa untuk duduk. Kami pikir panduan yang lebih spesifik bisa dihadirkan. Untuk setiap 30 menit berturut-turut, berdiri dan bergerak selama lima menit dengan langkah cepat untuk mengurangi risiko kesehatan dari duduk,” katanya.

Kendati panduan semacam itu diperlukan, Keith mengatakan, diperlukan lebih banyak lagi penelitian untuk memverifikasi temuan tersebut.

Apa kaitan antara duduk terlalu lama dan risiko kematian?

Untuk memahaminya, Keith dan rekan-rekannya beralih ke sebuah studi yang disponsori oleh Institut Kesehatan Nasional, yakni Perbedaan Geografis dan Rasial dalam Stroke (REGARDS).

Studi itu awalnya dirancang untuk memeriksa mengapa orang kulit hitam memiliki risiko stroke yang lebih besar dibandingkan dengan orang kulit putih. Ia dan rekan-rekannya melacak 7.895 peserta dewasa berusia 45 atau lebih selama empat tahun.

Untuk mengukur waktu duduk bagi orang dewasa ini, tim peneliti menggunakan accelerometer yang dipasang di pinggul. Selama masa studi, tim mencatat ada 340 kematian.

Lantas tim melakukan analisis data. Mereka menemukan bahwa perilaku tak berpindah-pindah alias terus menerus duduk menyumbang sekitar 12,3 hingga 16 jam setiap hari.

"Seiring bertambahnya usia, dan fungsi fisik dan mental kita menurun, kita menjadi lebih dan lebih banyak duduk," tulis Keith.

Studi sebelumnya mengatakan jika orang dewasa memiliki waktu duduk sehari-hari rata-rata hanya 9 – 10 jam per hari. “Karena kita mempelajari populasi paruh baya dan tua,” ujar Keith.

Secara keseluruhan, risiko kematian peserta tumbuh bersamaan dengan total waktu duduk dan durasi duduk, tanpa peduli usia, jenis kelamin, ras, indeks masa tubuh atau kebiasaan beraktivitas mereka.

“Kami menemukan bahwa tidak ada ambang batas di mana risiko kematian seseorang meningkat secara dramatis,” kata Keith.

Untuk memberi Anda jumlah tertentu, Keith mengatakan jika mereka yang duduk lebih dari 13 jam per hari memiliki risiko kematian sebanyak dua kali lipat dibandingkan mereka yang duduk kurang dari sekitar 11 jam per hari.

Yang jelas, hasil penelitian menunjukkan jika mereka yang sering duduk dalam dengan melakukan peregangan setiap 30 menit memiliki risiko kematian 55% lebih rendah dibandingkan orang yang biasanya duduk lebih dari 30 menit tanpa peregangan.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar