Yamaha

Manteos, Kampung Preman Rasa Seniman

  Kamis, 03 Agustus 2017   Arfian Jamul Jawaami
Seorang anak bermain bola di depan salah satu tembok penuh warna di Kampung Manteos, Bandung. (AyoBandung/Arfian Jamul)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- "Dulu antara warga Manteos utara dan selatan selalu terjadi perang. Bahkan setiap satu minggu sekali ada perang dengan warga Kampung Cisitu.”

Kalimat yang penuh kenangan itu terucap dari bibir Edison, salah seorang pemuda Kampung Manteos, Bandung, pada suatu sore. Entah kenangan itu manis atau buruk, tapi yang jelas, keras dan beringas adalah sinonim sepadan bagi wajah Manteos tempo dulu. Tak aneh jika penduduk mengumpamakan Manteos tak ubahnya Rio de Janiero Kecil atawa Brazil van Java.

Tapi, Manteos bukan sebuah daerah di tanah latin sana. Manteos hanya sebuah kawasan perkampungan warga yang letaknya tak jauh dari pusat-pusat keramaian, hanya sekira lima sampai sepuluh menit dari kawasan Dago, Bandung.

Namum zaman berganti dan dendam peperangan senjakala beralih kreasi. Perdamaian terjadi pada awal abad milenium yang membuat para pemuda Manteos bersatu melalui media seni. Alasan yang turut membawa generasi muda pada inovasi. 

Maka tidak heran bila kini wajah Manteos berubah menjadi lebih manusiawi. Para pemuda mengubah pemukiman kumuh berundak ratusan tangga kecil dengan warna ceria berpola geometri. 

Cerita dimulai ketika pemuda Manteos menjalin hubungan baik dengan para alumni Fakultas Arsitektur Universitas Katholik Parahyangan. Ide untuk mengubah kampung terinisiasi melalui langkah awal dengan mengubah tampilan fisik rumah penduduk.

Gayung bersambut ketika salah satu perusahaan cat tembok asal Norwegia bersedia memberikan produk guna menghiasi interior kampung. Secara swadaya warga kampung mengubah tembok rumah dan jalanan lorong sempit yang gelap menjadi penuh warna. 

Bukan tanpa masalah, soalnya pada awalnya, inovasi mencerahkan kampung dengan mengubah tampilan warna ditentang oleh mayoritas warga, terutama para orang tua.

"Saya diprotes dan dikira orang gila. Apalagi barudak (teman-teman) yang ngecat sampai jam tiga subuh," keluh Edison.

Penentangan serupa dialami ketika Edison dan para pemuda Manteos berinisiasi mendirikan ruang publik yang terbuat dari bambu. Meski tidak memiliki cukup dana, namun akhirnya pemuda mendapat bantuan dari mahasiswa Institut Teknologi Bandung jurusan Teknik Planologi.

Namun animo dan pujian yang hadir dari masyarakat Kota Bandung melihat transformasi Kampung Manteos turut membawa pertentangan warga melunak dan justru beranjak mendukung.

"Anu tadina nyarek ayeuna malah menta cat ka saya. Ceunah teh imah batur alus loba anu moto ari imah abdi teu (yang asalnya memarahi tapi sekarang justru meminta cat ke saya. Katanya rumah orang lain bagus banyak yang mengambil foto tapi rumah saya tidak).” Begitu Edison bercerita, sambil tertawa.

Perubahan wajah Manteos tidak melulu berfokus pada kondisi fisik, melainkan juga psikis dan keilmuwan. Terlebih mayoritas masyarakat Manteos berada pada tingkat perekonomian rendah. Alasan yang melatarbelakangi minimnya angka tamat sekolah.

Sehingga para pemuda membuat sebuah wadah alternatif yang menampung kreasi warga pada bidang tertentu. Untuk usia remaja diberikan pengembangan seni dan olahraga. Sementara untuk wanita dewasa mendapat pelatihan mengenai kerajinan tangan dan pembuatan kue.

Sedangkan siswa diberikan beragam pendidikan alternatif salah satunya pada bidang arsitektur yang dilakukan di Rumah Pintar, sebuah tempat yang diperuntukan bagi warga Manteos yang hendak menimba ilmu dan mengerjakan tugas sekolah.

"Cita-cita besar saya ingin membangun perpustakaan dan museum masyarakat Manteos. Mimpi dulu saja. Amerika juga ada karena awalnya mimpi dulu," ujar Edison.

Tapi terkadang kendala hadir berkat keterbatasan finansial. Tidak munafik bila sebuah kegiatan memerlukan tata  pendanaan untuk dipergunakan sebagai biaya operasional. Alhasil Edison kerap menggunakan uang pribadi ditambah pengumpulan dana secara swadaya dari masyarakat.

Uniknya cara yang dilakukan untuk mengumpulkan dana terbilang kreatif dan tidak instan. Para pemuda Manteos kerap bekerja tambahan untuk sekedar menggelar acara musik. Atau dengan mengambil sampah dari pemukiman sekitar untuk kemudian dijual ke penadah. Dirasa berjalan efektif, pemuda Manteos pun berinisiasi membuat lokasi pengolahan sampah mandiri yang terus berjalan hingga kini.

"Semangatnya harus ditularkan. Semangat soal kegelisahan bila tidak bisa membantu," ujar Edison.

Dari serangkaian kegiatan unik para pemuda Manteos, ada satu program rutin yang terbilang sangat anti-mainstream. Program Maret Married, namanya. Dimana merupakan ruang yang mendorong pengamen jalanan untuk menikah agar dapat menekan angka seks bebas.

"Wah sudah banyak pasangan yang jadi. Akang mau?" kata Edison, tersenyum.

Sejarah Manteos

Kampung Manteos memang menyimpan banyak cerita turun menurun yang selalu disampaikan para karuhun kampung pada setiap generasi. Terutama cerita tentang aliran Sungai Cikapundung. 

Peran Sungai Cikapundung berfungsi sebagai penyangga kehidupan dan kebutuhan masyarakat Manteos. Namun itu dulu, ketika Sungai Cikapundung masih terjaga kebersihannya.

Namun kala sempadan Cikapundung ditumbuhi rumpun bambu berpetak sawah, suhu udara di Manteos dirasa teramat dingin. Apalagi Kampung Manteos berada pada cekungan lembah berbukit terjal yang semakin membuat udara terlarut dingin.

Sedikit membuka arsip lama, nama Manteos sebenarnya berasal dari nama Matius, seorang tuan tanah asal Belanda yang memiliki lahan di kawasan kampung.

Akan tetapi warga sekitar percaya bila Manteos berasal dari kata Main House, karena dulu terdapat penginapan milik seorang Amerika yang kini menjadi gedung Dinas Psikologi Angkatan Darat. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar