Yamaha

Bercinta dengan Yang Kasat Mata dalam Dunia Terhah Milik Tepu

  Minggu, 23 Juli 2017   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Sistem tanda dan tata bahasa Terhah buatan Tepu yang dipamerkan dalam pameran tunggalnya

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Perkenalkan, ini adalah Dunia Terhah.

“Cgarmnuh homma nossolka aarm tos homma ujmiok bas nosneroah klimuh tos homma porculen,nossolre olarium terhah, atoah tos xem osmun (birbir epoksorban) solka. Porculen sorban uwew katoa manoaki, lowara hiu jiro laeoleou piang gorgor she. Yepii.”

Jangan takut, paragraf di atas bukan lontaran yang keluar dari mulut alien yang akan menginvasi bumi. Itu adalah lontaran yang keluar dari mulut manusia – dengan menggunakan bahasa Terhah -- yang tidak takut untuk meyakinkan apa yang telah dipercayainya dan mencoba merekam penuh semua ide yang ada di sana, di dalam setiap kehidupan.

‘Terhah’ berasal dari bahasa Esperanto – bahasa artifisial yang bersifat universal – yang didefinisikan sebagai ‘ide’. Adalah Syaiful Aulia Garibaldi atau yang akrab disapa Tepu, seniman muda Bandung, rupanya tak kuasa menciptakan Dunia Terhah pada tahun 2007 silam. Dunia yang menjadi wilayah mediasi bagi ilmu pengetahuan untuk berpadu dengan seni melalui imajinasi pada proses berkarya.

Kala itu, Tepu memulainya dengan sistem tanda dan tata bahasa bagi para penghuni Dunia Terhah. Sederhana saja, bahasa Terhah ini sebenarnya hanya merupakan celetukan Tepu sehari-hari yang kemudian ia catat dan kumpulkan. Hingga saat ini sudah lebih dari 1.500 kata terdaftar dalam Kamus Terhah. Kamus bahasa yang sempat ngetren di Kota Bandung, khususnya di kalangan mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB).

Dan, entah ini termasuk menjijikan atau tidak, abjad dalam Dunia Terhah ditemukan dengan cara mengkultur salah satu unsur yang ada pada bakteri e-coli, bakteri yang umumnya menimbulkan penyakit diare. Kemudian, pola-pola itu tumbuh sesuai dengan kemauan si mikroorganisme itu sendiri. Maka, muncul abjad-abjad Terhah nan ajaib itu.

Ada satu kata kunci di sini : mikroorganisme. Mahkluk hidup yang kasat mata namun punya segudang manfaat bagi kehidupan.

Iya. Tepu memang dikenal sebagai seorang seniman yang berkutat dengan pengkaryaan yang kerap bercinta bersama mahkluk-mahkluk dalam dunia renik (mikroorganisme).

Sebut saja beberapa pameran tunggal yang dihelatnya pada tahun 2014 lalu. “Abiogenesis : Terhah Landscapes” yang pernah dihelat di Galeri Pearl Lam, Singapura dan Art Basel, Hong Kong. Atau keterlibatannya dalam proyek residensi di La Rochelle, Prancis yang berakhir dengan pameran bertajuk “Lumieres” di tahun yang sama.

Atau, tahun 2016 lalu, Tepu juga lagi-lagi menghelat pameran tunggalnya. Dihelat di ROH Art Space, Jakarta, kali itu Tepu berselingkuh dari bakteri e-coli untuk kemudian bereksperimen dengan jamur. Dan kini, Tepu baru saja menyelesaikan eksperimen terbarunya dengan tubivex atau cacing sutra yang dikonversi ke dalam medium video untuk pameran tunggal berikutnya.

Kehidupan bakteri e-coli, jamur, dan cacing sutra yang dicintai Tepu. Sementara kita, mungkin saja, melihat muntahan sendiri saja sudah geli.

Dalam pertemuan dengan AyoBandung di salah satu kedai kopi di kawasan Gudang Selatan beberapa waktu lalu, Tepu menumpahruahkan cerita di balik sederet ide dan dunia imajinasinya. Bahwa ide-ide itu dibangun dari sebuah filosofi roda kehidupan. Mulai dari peran mahkluk-mahkluk dalam dunia renik itu yang berfungsi mengurai mahkluk hidup yang telah mati, hingga kemudian proses penguraian dikembalikannya ke alam berupa unsur-unsur hara yang menjadi nutrisi bagi keberlangsungan mahkluk hidup lainnya.

"Tubuh manusia itu terdiri dari sekitar 60 macam mineral. Kalau diurai dan disebarin di dalam tanah, itu bakal bermanfaat buat mahkluk-mahkluk hidup lainnya. Jadi kalau ngomongin konsep hidup-mati dan ngomongin peran kita sebagai manusia, secara fisik, itulah manfaat kita kalau udah mati.”

-- Syaiful Aulia Garibaldi

Bagi Tepu, seni dan mahkluk dalam dunia renik atau ilmu pengetahuan bekerja dengan prinsip yang sama. Seni mengurai ide-ide dari artefak yang ada. Yang kemudian disebar dan diserap oleh bidang pengetahuan lainnya demi keberlangsungan perkembangan umat manusia. Tepu, tak ubahnya seniman pada zaman Renaissance, dimana seniman memiliki sifat universal yang mempelajari segala bidang.

Ketertarikan Tepu terhadap mikroorganisme tak terlepas dari masa lalunya. Pria kelahiran Jakarta yang kini menetap di Bandung ini sempat berpindah-pindah kampus selama mengenyam pendidikan tinggi. Bermula dengan duduk sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran dan kemudian mantap berpindah menjadi mahasiswa Jurusan Seni Grafis Murni FSRD ITB.

Kendati demikian, ketertarikan Tepu terhadap mikroorganisme tak lantas padam. Tepu kerap curi-curi kesempatan menyelundup ke laboratorium fakultas sebelah demi mempelajari perilaku bakteri dari balik lensa mikroskop.

Keisengan Tepu itu akhirnya memang berbuah hasil. Sebab, ketertarikan di bidang biologi dan seni inilah yang menuntunnya untuk menghasilkan karya-karya yang berada di luar perspektif banyak orang.

“Kalau bicara dari segi estetik, bakteri itu kalau dituangkan dalam sebuah seni itu oke banget sih,” ujar pria kelahiran 1985 ini. “Mungkin orang-orang yang lihat itu pertama tiba-tiba bilang ‘Ih, apaan sih. Asa getek dan iiih gitu’”. Tapi percayalah, jika kamu mengamatinya lebih jauh, maka yang muncul adalah empati untuk makhluk-makhluk dunia renik itu. Membayangkan sejauh apa kebermanfaatan mahkluk-mahkluk dunia renik itu bagi keberlangsungan lingkungan hidup manusia itu sendiri.

Riset terhadap dunia renik ini menjadi sumber referensi untuk memperkaya dan membangun landasan empiris bagi dunia imajiner Tepu. Mikroorganisme menjadi inti dalam setiap karyanya dalam mengonstruksi dunia. Untuk menunjukkan hubungan simbiosis antara mikroorganisme dengan kita, manusia.

Mengambil satu kata dari Bahasa Terhah, kata ini kami berikan untuk Tepu : Ciknur! (Bagus!).

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar