Yamaha NMax

Balada Nyanyian Penyandang Autis

  Senin, 10 Juli 2017   Arfian Jamul Jawaami
Ilustrasi.(Pixabay)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—"Gajah dan jerapah memakai masker. Selamatkan mereka di sana. Selamatkan saudara kita." Adalah metafor kata yang paripurna dari sepenggal lirik lagu berjudul Asap.

Sebuah lagu yang bercerita soal bencana kabut asap yang melanda Bumi Lancang Kuning alias Provinsi Riau pada medio 2014 silam.

Dalam kata, penulis lagu senantiasa tidak menghadirkan sekat antara hewan maupun manusia. Melalui penggunaan kalimat "memakai masker" dan "saudara kita" sang komposer memberikan kesetaraan tanpa alasan.

Tidak pandang bulu karena hewan dipakaikannya masker dan hewan dianggapnya saudara. Pernyataan yang hanya dapat ditulis oleh seseorang dengan tingkat kepekaan dan rasa kepedulian tinggi pada sesama, entah manusia atau bukan.

Ada yang istimewa? Dirasa tidak. Namun patut diketahui bila sayembara Asap diciptakan dari gurat tangan kanan seorang autis murni bernama Muhammad Fahril.

Selayaknya para penyandang autis, Fahril atau Aril sangat sulit membaur dalam celah sosial. Bahkan untuk dapat sekadar melakukan komunikasi dan berbicara adalah bukan perkara mudah.

Aril memiliki kecenderungan untuk berbicara sendiri dan kerap melakukan pengulangan kata sesuai dengan apa yang terekam dalam otak, biasanya berasal dari input iklan di televisi atau radio. Maka tidak heran hanya kata "nascar nascar nascar" dan hymne dari sebuah partai politik yang selalu diucap Aril.

Namun sensitivitas pada audio yang berujung membawa Aril pada karya. Sebanyak 15 lagu telah ditulisnya dan kini Aril tengah menggarap album perdana dengan mendapat bantuan dari Art Therapy Center (ATC) Widyatama Bandung.

"Soal rasa, para penyandang autis memiliki kepekaan yang tinggi. Hanya di wilayah apa? Jadi kita (para pengajar) harus tahu karena tidak semua anak autis punya kepekaan pada audio. Bisa di visual atau motorik. Itu adalah bentuk komunikasi mereka yang kadang kita enggak dimengerti," ujar pengajar Aril di ATC Rian Andriawan kepada AyoBandung, Senin (10/7/2017).

ATC adalah sebuah lembaga pendidikan yang menggunakan pendekatan seni sebagai media komunikasi pengatur emosi dan penghasil karya bagi para penyandang disabilitas. Laboratorium bagi Aril dan penyandang disabilitas lain dalam mengasah minat dan bakat yang bahkan tidak pernah tersampaikan.

"Memberikan pengajaran pada 10 penyandang disabilitas lebih sulit daripada 100 siswa di sekolah konvensional. Harus ada penanganan dan sistem pengajaran khusus karena sangat sulit mengajak anak untuk konsentrasi. Jadi seni dipakai untuk membuka jalan itu, jalan masuk komunikasi," ujar Rian.

Aril hanya satu dari sekian siswa ATC yang telah lebih dulu memasuki dunia kerja dan melahirkan karya. Sebelumnya dua siswa penyandang tuna rungu telah lebih dulu bekerja sebagai desain layout untuk salah satu kantor berita di Kota Bandung.

"Mereka (penyandang disabilitas) juga punya hak untuk mendapatkan pekerjaan dan pengakuan dari masyarakat. Kita mencoba memutar balik paradigma bila penyandang disabilitas hanya akan berakhir di panti pijat," ujar Rian.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar