Yamaha

Sepenggal Kisah Kehidupan Perempuan Ahmadiyah Indonesia

  Selasa, 27 Juni 2017   Arfian Jamul Jawaami
Ilustrasi.(Satrio)
BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Adalah Mirza Ghulam Ahmad seorang India yang pada tahun 1889 mendirikan ajaran Ahmadiyah di sebuah kota kecil bernama Qadian. 
 
Sejak kala itu kehadiran dan penyebaran Ahmadiyah beranjak masif ke seluruh detail benua di 206 negara, tidak terkecuali Indonesia. 
 
Pada dasarnya ajaran Ahmadiyah menentang segala bentuk terorisme yang kini seakan melekat pada tubuh Islam. Kilah tersebut sesuai ajaran Mirza Ghulam Ahmad yang dengan tegas menyatakan jihad dengan pedang secara agresif sudah tidak memiliki tempat dalam Islam. 
 
Namun Pemerintah Indonesia justru mengeluarkan Surat Keputusan Bersama pada tahun 2008 yang memerintahkan kepada seluruh penganut Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatan peribadatan karena dianggap bertentangan dengan Islam. Seraya dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sebelumnya pada tahun 1980 pernah menyatakan bahwa Ahmadiyah sebagai aliran sesat.
 
Tidak berlaku hanya di Indonesia karena sejak jauh hari Pemerintah Pakistan telah menyatakan bila Ahmadiyah bukan merupakan bagian dari Islam meski tidak melarang segala bentuk kegiatan peribadatan. Namun baik ajaran Qadian maupun Lahore harus mengakui bahwa Ahmadiyah sebagai agama sendiri yang berarti bukan bagian dari Islam.
 
Sederet aturan pelarangan tersebut berdasar pada pembahasan karena Ahmadiyah meyakini bila Mirza Ghulam Ahmad adalah Al Masih yang secara metaforik mendakwakan diri sebagai perwujudan kedua dari Nabi Isa. 
 
Terlepas dari perdebatan kontroversi tersebut yang justru seraya membawa publik lupa bila para penganut Ahmadiyah juga manusia yang senantiasa mendambakan kehidupan berdampingan tanpa harus menyentuh isu sensitif layaknya agama.
 
Opini publik yang melahirkan sikap agresif dan antipati pada keberadaan Ahmadiyah. Maka tidak heran apabila ancaman kerap hadir pada segelintir penganut Ahmadiyah di Indonesia yang secara terbuka mengemukakan identitas kepercayaannya. 
 
Salah satunya terjadi pada Rafiqua yang bersama keluarga besarnya menganut Ahmadiyah sedari lama. Rafiqua mengaku enggan merahasiakan identitasnya karena beranggapan Ahmadiyah tidak merusak perdamaian. Meski diakui dalam menjalankan kehidupan sosial Rafiqua kerap berhati-hati dan cenderung bersikap defensif.
 
"Aku sudah merasa kalau hidup itu masing-masing. Tapi ini jadi semacam doktrin atau pola asuhan keluarga yang buat aku harus selalu awas atau jaga diri dari orang karena anggapan mereka ke kami," ujar Rafiqua pada AyoBandung.
 
Alih-alih membawa kebencian namun justru keterbukaan Rafiqua membuktikan adanya keberadaan toleransi beragama di masyarakat Indonesia. Sikap diskriminasi tidak serta merta membawa publik pada tindakan kejahatan.
 
Rafiqua mengaku bila tidak sedikit temannya yang mengetahui mengenai pilihan kepercayaannya. Namun kebanyakan justru menghargai atau memilih diam. Terlebih Rafiqua selalu mencegah adanya konflik sosial yang menyeret jemaah pada publik karena perihal agama adalah persoalan pribadi.
 
"Temen dekat tahu kalau aku Ahmadiyah dan mereka enggak pernah mendiskriminasi. Mereka enggak jadi beda atau gimana. Beberapa ada yang nanya dan penasaran tapi aku jawab sepengetahuan aku," ujar Rafiqua.
 
Namun tidak dapat disangkal bila penetapan pemerintah mengenai larangan bagi para penganut Ahmadiyah membawa pertahanan sikap yang cenderung melahirkan buruk sangka. Selain itu secara tidak langsung membuat para penganut Ahmadiyah terasing dan terbatas dalam kehidupan bermasyarakat.
 
"Harus hati-hati karena orang bisa saja jadi jahat sama kami. Tapi di lain sisi rasa kekeluargaan kami bisa lebih kuat. Kadang juga ada enggak benernya dan aku enggak sukanya adalah ketika sikap defensif berubah jadi suuzon (buruk sangka). Padahal belum tahu juga mereka niat jahat atau judge kami apa," ujar Rafiqua.
 
Rafiqua menambahkan bila opini publik mengenai Ahmadiyah membuat semua menjadi serba terbatas termasuk soal jodoh. Namun Rafiqua berusaha tetap merasa bahwa banyak hal yang perlu disyukuri termasuk hubungannya dengan Tuhan.
 
"Kayak sudah ada pola pikir yg ditanam kalau pacaran sama ghaer (non-jemaah Ahmadiyah) pasti bakal putus juga. Singkatnya jodoh jadi terbatas dan aku jadi lebih defensif. Aku mempergunakan hubungan dengan Tuhan buat tujuan mencari kebahagiaan. Jadi buat aku Tuhan itu sangat baik. Terlepas dari existential crisis yang melanda aku," tutup Rafiqua. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar