Yamaha

Ummi Maktum Voice, dari Nasyid Hingga Al-Qur'an Braile

  Senin, 19 Juni 2017   Ngesti Sekar Dewi
Ummi Maktum Voice. (AyoBandung/Ngesti Sekar)

BANDUNG,AYOBANDUNG.COM --  Berawal dari grup nasyid pada tahun 1999, Ummi Maktum Voice beranggotakan delapan orang tunanetra. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki anggotanya, Ummi Maktum Voice sudah mengahasilkan tiga album religi pada tahun-tahun sebelumnya. 

Di tengah perjalanannya sebagai grup nasyid, anggota yang seluruhnya tunanetra ini memiliki keprihatinan kepada teman-teman tunanetra yang belum lancar membaca Al-Qur’an braile. Bahkan pada saat itu, UMV sendiripun tidak memiliki Al-Qur’an braile. 

Berangkat dari keprihatinan tersebut, pada tahun 2005, UMV mencoba membentuk Lembaga Swadaya Masyarakat wakaf Al-Qur’an braile. Berfokus di bidang pengadaan, pembinaan dan pemberian Al-Qur’an braile, UMV memiliki motto berdaya guna bagi sesama, bernilai pahala bagi bersama. 

"Alhamdulillah, UMV sudah mendistribusikan 11.000 set Al-Qur’an braile,” jelas Ketua UMV, Entang saat ditemui AyoBandung beberapa waktu lalu.

Fokus pada pengadaan Al-Qur’an braile, UMV bekerja sama dengan percetakan braile Yayasan  Wyata Guna Bandung. Lebih dari 35.000 donatur mendukung program pengadaan Al-Qur’an braile yang dijalankan UMV.

Pada bulan Ramadan ini, Entang menceritakan kendala pendistribusian Al-Qur’an braile pada 10 hari terakhir bulan Ramadan. Ia menjelaskan terbenturnya pendistribusian Al-Qur’an braile menggunakan truk-truk besar dengan pendistribusian bahan sembako membuatnya harus menunda pendistribusian hingga setelah Lebaran.

"Kalau 10 hari terakhir itu kan truk-truk hanya boleh mengangkut sembako, jadi ya kita gak bisa distribusi dulu" tutur Entang.

Selain kendala pendistribusian, pengadaan serta pembinaan juga memiliki kendala, di antaranya dari segi pembinaan, terbatasnya tenaga pengajar Al-Qur’an braile membuat UMV memutar otak agar misi dapat terus berjalan. Salah satunya UMV memiliki program pesantren baca Al-Qur’an braille, nantinya diharapkan agar para peserta pesantren dapat menjadi tenaga pengajar. 

Harga bahan baku pembuatan Al-Qur’an braile yang berubah-ubah mengikuti perekonomian juga membuat UMV kesulitan untuk memproduksi Al-Qur’an braile secara konsisten. 

Entang juga mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan penyandang disabilitas. Mulai dari akses pendidikan hingga pekerjaan. Padahal menurutnya penyandang disabilitas khususnya tunanetra seperti dirinya mampu bersain dengan kebanyakan orang normal lainnya

Entang berpesan kepada penyandang disabilitas agar mampu memantaskan diri ditengah paradigma keterbatasan.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar