Yamaha Aerox

Rumah Pelangi, Oase di Tengah Terminal Bus

  Selasa, 13 Juni 2017   Ananda Muhammad Firdaus
Ghinan Rhinda Dewi Aini bersama dengan anak-anak Matahari di Rumah Pelangi, Terminal Leuwi Panjang, Bandung. (AyoBandung/Ananda Firdaus)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Sore itu, hujan gerimis melengkapi kunjungan AyoBandung ke Terminal  Leuwi Panjang, Bandung. Tempat hilir mudik berpuluh-puluh angkutan massa lintas kota, sekaligus tempat banyak orang menaruh harapan untuk menyambung hidup. Tak terkecuali yang dilakukan oleh beberapa muda-mudi di sana, memilih untuk memberikan pencerahan hidup dengan pendidikan yang mereka berikan secara cuma-cuma untuk anak-anak jalanan di sekitar Leuwi Panjang.

Beratapkan langit, dan spanduk bekas yang dijadikan alas untuk menutup tembok parkiran terminal. Mungkin tempat itu sama sekali tak pantas dijadikan ruang untuk membubuhkan ilmu pengetahuan. Namun keprihatinan itu tak lantas membuat mereka patah arang. Rumah Pelangi, sebuah tempat singgah dimana anak-anak jalanan memiliki hak pendidikan yang sama.

“Mendidik itu bukan cuma kewajiban guru, orangtua, atau pemerintah, tapi kewajiban bagi orang-orang yang terdidik,” ucap Penggagas Rumah Pelangi, Ghinan Rhinda Dewi Aini (21), saat ditemui AyoBandung, Senin (12/6/2017) sore.

Pendirian Rumah Pelangi ini bukanlah hal yang mudah. Kekhawatiran Ghinan melihat realitas sekitar mendorongnya untuk mendirikan komunitas ini. Karena memang pada nyatanya, masih banyak anak-anak yang mencari peruntungan hidup dengan mengemis atau mengamen meski usianya masih terbilang belia.

Rupanya, kegelisahan itu pun tak muncul tanpa alasan. Saat itu, usia Ghinan masih menginjak 15 tahun. Hampir setiap hari, sepulang sekolah Ghinan, ia kerap bertemu dengan anak-anak jalanan. Ketika anak-anak lain seharusnya memegang buku dan pensil, mereka malah memegang gitar kecil dan kecrek.

“Sampai aku nyari, siapa sih yang salah di sini? Pemerintahan kah? Guru kah? Orang tua mereka? Akhirnya malah aku nunjuk diri sendiri, si Ghinan yang selama 15 tahun ini malam diam.”

Pertemuan Ghinan dengan anak-anak jalanan itulah yang pada akhirnya menciptakan usaha dan kini membuahkan hasil. Di tanggal 18 Juni 2011, Rumah Pelangi berdiri di kawasan Alun-alun Bandung dan dijadikan tempat beraktivitas Ghinan bersama anak-anak Matahari (panggilan untuk anak-anak penghuni Rumah Pelangi – red).

Namun dalam perjalanannya Rumah Pelangi terpaksa harus pindah-pindah tempat. Dari kawasan Alun-alun Bandung, menuju kawasan Stasiun Bandung, hingga terakhir di Terminal Leuwi Panjang. Penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari razia anak-anak jalanan oleh Satpol PP hingga ketidaksinergian visi dan misi dengan beberapa pihak.

Padahal, membujuk anak-anak jalanan untuk mau belajar bersamanya bukanlah hal yang mudah. Seorang anak jalanan bukanlah entitas yang berdiri sendiri. Di belakangnya pasti ada orang tua yang membuat Ghinan harus meminta izin waktu belajar untuk si anak, ada juga seorang preman yang menjadikan si anak sebagai objek mereka untuk mengais rezeki.

Hal itu pula yang dirasakan Ghinan ketika mengawali Rumah Pelangi di Terminal Leuwi Panjang. Tak tanggung-tanggung, bahkan pendekatan Ghinan sampai pada tahap menunggu setiap preman datang untuk memberinya gorengan, kopi, atau rokok. “Awal-awal mereka jutek enggak nerima,” ujarnya. Namun enam bulan berselang, para preman itu akhirnya luluh juga.

Dari situlah, Rumah Pelangi di Terminal Leuwi Panjang mulai hidup. Agenda rutin yang diadakan setiap Senin, Rabu, dan Sabtu menjelang sore. Materi pengajarannya standar, calistung (baca, tulis, dan hitung). Ditambah dengan pelajaran agama dan seni sebagai tambahan.

Apa yang dilakukan Ghinan untuk anak-anak Matahari, bagi dirinya sendiri, adalah hal terbaik yang pernah dilakukannya sebagai warga negara Indonesia. Ghinan ingin agar stigma yang tertanam pada masyarakat tentang anak jalanan dibuang. Salah satunya dengan cara merangkul mereka, bukan malah menjauhi keberadaan mereka.

Hingga saat ini, Rumah Pelangi telah berhasil membina sekitar 200 lebih anak jalanan. Di usianya yang kini menginjak enam tahun, Ghinan berharap mampu untuk memberi kesempatan pada anak-anak Matahari agar bisa bermimpi, meski peliknya hidup terus menghantui mereka.

Lebih jauh lagi, Ghinan berjanji bahwa dirinya akan berhenti manakala Rumah Pelangi berhasil menjadikan anak-anaknya sebagai pribadi yang mandiri.

“Rumah Pelangi bisa berhasil sampai tempat ini benar-benar kosong,” ujarnya di akhir perbincangan.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar