Yamaha

Wow! Bandung Punya 'Boyband' Metal Bernama Ensemble Tikoro

  Jumat, 09 Juni 2017   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Penampilan Ensemble Tikoro di Sasana Budaya Ganesha, Bandung. (Capture YouTube)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Kamu pasti akan heran kalau melihat mereka. Manusia-manusia yang berdiri saling berjejer. Dengan matanya yang dipulas warna hitam serupa setan, sesekali mereka berteriak. Sesekali juga mereka tertawa cekikikan, sambil mengobrol sedikit-sedikit. Atau bukan tak mungkin jika tiba-tiba kamu mendengar suara ‘Wek.. Wek.. Wek..’ serupa bebek.

Atau bisa jadi kamu juga akan mendengar suara yang rendah dan mengerikan, seperti suara monster yang keluar dari tenggorokan. Tapi percaya atau tidak, berbagai suara ‘absurd’ yang keluar itu diatur oleh seorang konduktor. Laiknya sebuah paduan suara maha megah, sang konduktor pun bergerak-gerak memberikan arahan pada para penyanyinya.

Sontak penampilan seperti itu akan menimbulkan beberapa jenis pertanyaan. Seperti… “Ieu naon sih? (Ini apa sih?); “Kesenian naon sih? (Kesenian apa ini?)”; “Gogorowokan teu puguh! (Teriak-teriak enggak jelas)”; atau “Ai eta teh nanaonan? (Itu pada ngapain?)”.

Tak heran dengan impresi-impresi sedemikian rupa. Tapi ketahuilah, dahulu kala, seorang pionir musik eksperimental, John Cage, pernah berkata, bahwa musik adalah apapun yang mengeluarkan bunyi.

Barangkali saja kredo itu diterjemahkan oleh sekelompok orang dari komunitas Bandung Death Metal bergabung dengan beberapa musisi dan mahasiswa seni pencinta musik metal ke dalam satu kelompok vokal bernama ENSEMBLE TIKORO. Sebuah grup vokal – atau yang mereka sendiri sebut sebagai boyband metal kontemporer – asal Bandung yang mengkomposisi suara-suara alam dengan menggunakan tikoro (dalam bahasa Indonesia berarti ‘tenggorokan’) sebagai mediumnya.

“Bagi kami, para penonton yang bertanya-tanya itu sesungguhnya tidak paham bahwasanya musik adalah perkara segala sesutau yang menghasilkan bunyi. Apapun itu,” ujar salah seorang personil Ensemble Tikoro, Ardy Bokir, di Rabu (7/6/2017) sore kemarin ketika berbincang-bincang santai bersama AyoBandung.

Musik adalah perkara segala sesuatu yang menghasilkan bunyi. Hanya saja bunyi-bunyian itu perlu digubah, perlu di-direct, perlu disesuaikan timbrenya, atau ya dibuat sinkron, barulah nanti bisa dibuat musik.

Ardy Bokir

Sebelumnya, Ensemble Tikoro ini adalah sebuah proyek seni yang diprakarsai Robi Rusdiana pada saat mengambil program magister seni dengan konsentrasi penciptaan seni di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Bandung, pada medio 2012 lalu. Berdiri sebagai kelompok musik yang mengolah teknik vokal dalam musik metal seperti growl dan unsur-unsur suara tradisional.

Tapi jangan salah, dalam mengatur suara-suara absurd itu, Ensemble Tikoro pun bermain dengan menggunakan sebuah partitur. Ah, sudah tentu tidak mudah untuk menyanyikan karya mereka.

Bicara soal tekniknya, sebenarnya teknik yang digunakan oleh Ensemble Tikoro sama seperti vokal musik-musik metal yang menggunakan head voice, diafragma, pernapasan perut, vokal tenggorokan, memusatkan permainan suara pada rahang, serta distorsi.

Komposisi musik Ensemble Tikoro pun tidak dibuat mengada-ngada. Semua struktur dan teknik bunyi itu mengkomposisi bunyi-bunyi alam. Contohnya saja komposisi dalam nomor lagu “Gedebok Nomor 3”, yang mengkomposisi bebunyian alam, seperti bunyi yang dihasilkan saat bangun tidur, masak, bepergian, bunyi orang mengobrol, anak-anak menangis, atau berlari.

Bagi Ensemble Tikoro semua itu bisa jadi suatu komposisi, jadi sebuah musik alami. Ya, musik kontemporer namanya. "Yah, pokoknya suasana-suasana seperti itu. bunyi suasana di alam yang natural," ujar Ardy. 

Ensemble Tikoro, secara kontemporer, menghasilkan komposisi dari apa yang mereka tangkap dari alam. Bahkan, dengan percaya dirinya, mereka pun memberi judul sendiri untuk konsep bermusik mereka: natural choir. Dengan begitu, tak aneh jika suara-suara yang dihasilkan tak ubahnya suara monster, suara alam bawah tanah, suara angin, atau suara ilusi. “Kita grup dengan gaya tersendiri,” tutup Ardy.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar