Yamaha

Manikam Khatulistiwa Satukan Bangsa Lewat Seni Budaya

  Senin, 05 Juni 2017   Ngesti Sekar Dewi
Penampilan Rampak Kendang Suara Anak Negeri yang didirikan Manikam Khatulistiwa pada Festival Musik Religi 2017 di Padepokan Seni Mayang Sunda, Bandung, Sabtu (4/6). (AyoBandung/Ngesti Sekar)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM — Karya seni tidak hanya menghadirkan keindahan bagi penikmatnya. Di tangan seorang seniman, suatu karya seni bisa bernilai tak terhingga. Di tangan lembaga seni dan budaya Manikam Khatulistiwa, seni dimanfaatkan sebagai medium penyatu bangsa.

Delapan tahun sudah Manikam Khatulistiwa berdiri. Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2009 silam, Manikam Khatulistiwa memproklamirkan namanya melalui sebuah gelaran yang bertajuk serupa dengan namanya : Manikam Khatulistiwa.

Dengan tagline ‘Berkarya Mengabdi untuk Tanah Negeri’, Manikam Khatulistiwa selalu membawa seni dan budaya Indonesia dari Sabang sampai Merauke, terkhusus seni budaya Jawa Barat, untuk ditampilkan di dalam maupun luar negeri.

Berbagai medium seni dijadikan alat untuk melancarkan misinya. Mulai dari seni musik, seni rupa, teater, hingga seni tari. Berkarya dengan membawa misi sosial, lingkungan, dan seni budaya merupakan tujuan dari dibentuknya Manikam Khatulistiwa ini.

“Manikam Khatulistiwa ingin menanamkan kecintaan terhadap negeri,” ujar Pendiri Manikam Khatulistiwa, Vinny Soemantri ketika ditemui AyoBandung di sela-sela gelaran Festival Musik Religi 2017 di Padepokan Seni Mayang Sunda, Bandung, Sabtu (3/6/2017). Manifestasi itulah yang membuat Manikam Khatulistiwa kerap tampil dengan membawakan kesenian daerah. Meskipun memang, faktor cintanya pada kota kelahiran, Manikam Khatulistiwa cenderung membawakan kesenian dari daerah Jawa Barat dibandingkan dengan kesenian dari daerah-daerah lainnya. “75% seni Jawa Barat dan 25% kita eksplorasi kesenian di Indonesia,” jelas Vinny.

Anggota Manikam Khatulistiwa sendiri berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa hingga seniman-seniman yang namanya sudah dikenal dunia. Sebut saja Dida Margana, si Magic Hand yang mampu membuat Raja Belanda terpukau. “Semua yang tergabung dalam Manikam Khatulistiwa, mau dia seniman ternama ataupun mahasiswa biasa, semuanya sama,” tambah Vinny menegaskan.

Membawa Misi Melalui Seni

‘Setiap langkah adalah misi bagi kami.’ Mengutip pernyataan dari Vinny Soemantri, Manikam Khatulistiwa memang punya berbagai misi yang ditanamkan kepada setiap anggota sejak mula.

Misi sosial, misalnya. Manikam Khatulistiwa memiliki program Bersama Veteran Kota Bandung. Untuk menghargai jasa-jasa para veteran kota kembang ini, Manikam Khatulistiwa mengundang dan memberikan bantuan untuk mereka.

Tidak hanya di dalam negeri. Manikam khatulistiwa juga  melancarkan aksi sosialnya di luar negeri. Mereka tercatat pernah tampil di sebuah panti jompo di Prancis untuk menghibur penghuni panti jompo dengan membawakan lagu khas asal negeri Menara Eiffel tersebut.

Bakti cinta terhadap tanah air juga ditunjukkan melalui program-program Manikam Khatulistiwa yang saat ini sudah dirancang sedemikian rupa. Salah satu program yang ingin diluncurkannya ialah menanamkan rasa nasionalisme kepada saudara-saudara di pulau-pulau terdepan Indonesia.

“Pertahanan saudra-saudara kita yang ada di pulau-pulau terdepan itu sungguh luar biasa ya. Kita juga harus menanmkan rasa cinta tanah air agar Indonesia tetap utuh dan tidak tercerai berai, tentunya dengan melalui seni.” tutur Vinny.

Melintasi Benua Membawa Budaya

Lembaga seni dan budaya Manikam Khatulistiwa sudah menorehkan namanya di berbagai ajang pagelaran seni, baik dalam maupun luar negeri. Di setiap penampilannya, Manikam Khatulistiwa tidak pernah lepas dari kebudayaan daerah asal kelahirannya, yakni Kota Bandung, Jawa Barat.

Menjadi duta seni Indonesia di Eropa Timur pada Summer Festival Bratislava 2016, membuktikan eksistensi lembaga seni dan budaya yang terfokus pada kebudayaan tradisional ini di mata mancanegara.

Pada 2013 silam, Manikam Khatulistiwa juga menjadi jangkar ceremony untuk mempromosikan suling sunda di panggung Pasar Malam Indonesia yang diadakan di Den Haag, Belanda.

“Kita tidak perduli mau itu panggung besar atau kecil, yang terpenting misi kita bisa berjalan” jelas Vinny Soemantri.

Dalam waktu dekat, Manikam Khatulistiwa akan melakukan perjalanan ke Eropa dalam gelaran Summer Festival. Tentunya, tetap dengan membawa misi budaya yang sudah melakat menjadi jati diri manikam khatulistiwa.

Mulai Dari Sponsor Hingga Ngamen

Menyelenggarakan pagelaran seni tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi tata lampu dan artistik hampir dipastikan memerlukan budget yang cukup merogoh kantong.

Di setiap perhelatan seni yang diadakan Manikam Khatulistiwa, para anggotanya pun bergotong royong untuk menyelenggarakan pementasan. Lelah sudah pasti, tetapi untuk misi yang hendak dijalankannya, itu semua tidak berarti.

Mencari sponsor adalah salah satu solusi Manikam Khatulistiwa untuk melancarkan misi budayanya. Menggaet lembaga pemerintahan seperti Dinas Kebudayan dan Pariwisata adalah salah satu yang dilakukan oleh Manikam Khatulistiwa.

“Untuk melakukan aksi di pulau-pulau terdepan itu kan kita juga butuh sponsor, butuh link juga untuk mencapai saudara-saudara kita yang berada di pulau terdepan itu,” jelas Vinny.

Bahkan, tak jarang pula, Manikam Khatulistiwa mengamen untuk menutupi kekurangan dana acara yang diselenggarakan. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar