Yamaha

Menerawang Dunia Mata Hitam Jeihan

  Minggu, 04 Juni 2017   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Pelukis Jeihan Sukmantoro (jeihangallery.com)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – ‘Mata hitam’ adalah hakikat tentang siapa sesungguhnya Jeihan. Nyaris semua lukisan dan figur-figur kakek berusia79 tahun ini dibuat demikian. ‘Mata hitam’ ditorehkan Jeihan pada figur yang diakuinya sebagai hasil kegagalannya dalam melukis mata yang sempurna, yang seharusnya dikerjakan dengan lebih realis. 

Berkisah dalam kurun waktu tahun 1963 hingga 1965 silam. Ketika emosi Jeihan meninggi sebab tak mampu menciptakan mata yang sempurna, lukisan pun diwarnainya hitam legam tanpa sedikit pun sisa yang berwarna putih. Kebeningan dan ketajaman mata figur tidak terpancar sama sekali. Hilang seketika.

Tengok saja salah satu lukisan perempuan berjilbab yang dipajang di salah satu sudut Studio Jeihan, Jalan Padasuka, Bandung. Lukisan figur seorang perempuan yang diberikannya nama ‘Ratu Laut Nusantara’ (2016) ini berbalutkan cat putih kebiruan berdiri tegak di depan cahaya sinar rembulan dengan mata yang lagi-lagi hitam pekat.

Jeihan memang dikenal sebagai pelukis potret manusia bermata hitam. ‘Mata hitam’ dalam setiap karya Jeihan merupakan metafora yang tak boleh dilewatkan. ‘Mata hitam’-nya sering ditafsirkan berbagai kalangan sebagai simbol ikonik Jeihan dengan beragam makna.

Secara umum, ‘mata hitam’ dimaknai sendiri oleh Jeihan sebagai sikap hidup untuk tak mau tunduk dan terbuai pada realita yang terlihat. Baginya, ‘mata hitam’ adalah sebuah realitas masa depan. Jeihan menerawang dan menerangkan, secara futurologis ‘mata hitam’ adalah hasil dari perubahan evolutif kondisi manusia di masa nanti.

Di masa depan, ujar Jeihan, mata manusia kemungkinan tidak akan mampu bertahan menatap kehidupan dunia atau jagat raya. Manusia harus menggunakan semacam lensa kontak yang berwarna hitam, seperti kaca mata hitam yang kini banyak dipakai. Tak dipungkiri bahwa realitas manusia bermata hitam telah menjadi bagian dari visi masa depan Jeihan melalui kepekaan estetikanya.

“Jika ditanya ‘mata hitam’ itu ada dua jawaban, filosofis dan futuristis,” kata Jeihan pada AyoBandung usai gelaran pameran tunggal Sufi/Suwung di Studio Jeihan, Kamis (1/6/2017). Kenapa filosofis? Karena sesungguhnya manusia tengah berada dalam kegelapan misteri. Manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.

Sementara, ‘mata hitam’ Jeihan pun seirama pula dengan konsep lubang hitam (black hole). Lubang hitam adalah tempat dimana gravitasi begitu kuat sehingga memerangkap cahaya dan mendistorsi ruang dan waktu. Lubang hitam hanya dapat dideteksi lewat emisi terakhir yang dikeluarkan ketika terdapat benda jatuh ke dalamnya.

Dengan ‘mata hitam’, personifikasi figur yang dilukisnya pun tidak lagi menyimpan artikulasi yang sama dengan model (figur) aslinya. Jeihan dengan ‘mata hitam’-nya telah melakukan mistifikasi layaknya lubang hitam di alam semesta.

Namun, ‘mata hitam’ Jeihan rupanya berpuncak pada lukisan “Nur” (2014). Lukisan ini sama sekali tidak melukiskan figur seperti lainnya. Lukisan ini hanya berupa untaian kata, kaligrafi yang terdiri atas abjad Arab : nun, wawu, dan ro berwarna putih. Huruf itu dilatari warna gelap pada seluruh bidang kanvas. Kata atau huruf itu diletakkan pada bagian atas.

“Cara penggambaran saya juga karena secara intusi saya menganggap hidup ini penuh penderitaan. Maka agama diturunkan untuk menghibur kita. Apakah kita sadar bahwa kita ini hidup di neraka? hidup masih seperti hewan, atau terkadang juga ada kecenderungan memang seperti hewan.”

-- Jeihan Sukmantoro

Oleh karenanya, bagi Jeihan, lukisan “Nur” pun tak ayal berucap soal esensi dunia ‘mata hitam’ Jeihan secara lebih dalam. Sebab bagi Jeihan, tanpa Nur atau cahaya, segala hal tak mungkin terlihat dan terjabarkan.

Di lain pihak, seniman dan budayawan asal Bandung, Tisna Sanjaya menilai setiap karya Jeihan mengibaratkan rasa Jeihan yang ingin disampaikan secara personal. “Saya sudah membaca secara rasa, bahwa karya Pak Jeihan ini ada pengalaman personalnya yang dimasukan ke wilayah sekarang dan menjadi cara ikonik Pak Jeihan untuk membagikan rasa itu,” ungkap Tisna.

Pun, dalam simbol ‘mata hitam’ Jeihan. Bagi Tisna, konsep ‘mata hitam’-nya merupakan pengalaman personal yang menjadikan ciri inklusif seorang Jeihan. “’Mata hitam’ ini Jeihan banget, dan bahkan terus menembus pada setiap perubahan zaman,” ujarnya.

Memang, ‘mata hitam’ Jeihan seakan mengimplementasikan sikap untuk selalu berimajinasi tentang banyak hal yang tak mungkin digapai oleh mata terbuka dan jangkauan fisik manusia semata. ‘Mata hitam’ Jeihan pun mengibaratkan sikap untuk selalu melihat lebih dalam dan lebih jauh, seperti lubang hitam alam semesta, mata itu pun menelisik untuk selalu merenungkan hidup.

AyoBaca : Sufisme Jeihan dan "Kegilaan"

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar