Yamaha

Mendobrak Musik Religi yang Sendu

  Minggu, 04 Juni 2017   Ngesti Sekar Dewi
Grup Eksistensi Musik dalam Festival Musik Religi 2017 di Padepokan Seni Mayang Sunda, Bandung, Sabtu (3/6). (AyoBandung/Ngesti Sekar)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- “Keren..keren..keren..” Begitu komentar salah satu juri pada Festival Musik Religi 2017 ketika menikmati penampilan grup musik Eksistensi Musik. Bagaimana tidak? Jika biasanya musik religi itu identik dengan alunan musik yang mendayu-dayu dan mampu membawa ketenangan bagi para pendengarnya, grup beranggotakan sepuluh orang ini justru sebaliknya. Dengan cerianya, mereka membawakan musik dengan lirik bernafas religi. Sontak, membangkitkan suasana di Padepola Seni Mayang Sunda siang kemarin.

Keceriaan itu dikeluarkan Eksistensi Musik dengan mengombinasikan ukulele, keyboard, drum, hingga suara meriah saxophone. Menciptakan harmonisasi suara yang berhasil bikin ketiga juri kepincut.

Berbekal latihan selama dua jam di studio musik semalam sebelum tampil, grup musik yang satu ini berhasil membawakan lagu religi yang berbeda dari biasanya.

Bagi Feri Kurtis – salah satu juri dalam Festival Musik Religi 2017 – Eksistensi Musik punya kemampuan untuk membuktikan bahwa lagu religi dengan penyebutan ‘Tuhan’ tidak melulu harus dibawakan secara lirih. “Tapi kalian bisa menerobos itu dengan pembawaan yang ceria,” ujarnya, Sabtu (3/6). Terlebih, baginya, musik religi bergaya ceria itu masih dinilai sebagai sesuatu yang baru.

Tapi siapa yang tahu kalau Eksistensi Musik ini rupanya grup dadakan yang sengaja dibentuk untuk mengikuti Festival Musik 2017. Saking mendadaknya, nama Eksistensi Musik sendiri ternyata diambil dari judul seminar yang pernah diselenggarakan di kampus mereka, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Kesepuluh mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Budaya ini rupanya nekad mengikuti Festival Musik Religi 2017. Namun, keterbatasan dana dan waktu tak lantas menyurutkan semangat para muda-mudi Bandung ini untuk menciptakan karya yang luar biasa.

Menengok Festival Musik Religi kemarin AyoBandung berkesempatan mendengarkan curhat Eksistensi Musik ini. Salah seorang personil Eksistensi Musik, Memei, bercerita bahwa salah satu kendala yang didapatinya ketika nekad mengikuti gelaran ini tak lain soal biaya. “Kesulitannya ya di biaya. Kita latihan dua jam di studio,” ujarnya bercerita. “Sebenarnya bisa tiga jam, tapi karena masih kuliah ya uang patungan enggak cukup. Jadinya dua jam saja,” Memei menambahkan ceritanya.

Festival Musik Religi ini mengawali perjalanan grup Eksistensi Musik untuk berkarya. Mereka sesungguhnya tidak menitikberatkan akan menjadi juara dalam gelaran kali ini. Tak muluk-muluk, mereka cuma ingin bisa diterima di kalangan masyarakat.

AyoBaca : Dari Pop, Jazz, hingga Tradisional, Musik Religi Ingin Berkembang

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar