Yamaha NMax

Melongok Kehidupan Saudara-saudara Tertua Kampung Adat Cireundeu

  Jumat, 26 Mei 2017   Ananda Muhammad Firdaus
Papan di gerbang masuk Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Cimahi Selatan. (AyoBandung/Ananda Firdaus)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- “Adat mestilah dijaga, jangan lupa jati diri.” Begitu kata Abah Widia, pria yang dijuluki ais pangampaih atau pengayom warga di Kampung Adat Cireundeu. Cireundeu sendiri merupakan sebuah kampung adat yang masih menjaga budaya leluhurnya, bahkah di tengah hiruk pikuk kehidupan kota.

Bila kita melongok kampung adat, maka tak ayal yang muncul dalam bayang adalah sekelompok masyarakat yang tinggal di satu wilayah perkampungan nun jauh di sana, tak terjamah oleh orang-orang kota. Tapi hipotesa itu terpaksa harus disanggah. Karena pada kunjungan kali ini, saya (pewarta – red) menemukan sekelompok masyarakat adat Sunda yang tinggal di Kampung Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi bagian selatan.

Penamaan Cireundeu berasal dari kata ‘ci yang artinya air dan ‘reundeu’, nama pohon yang banyak tumbuh di kawasan tersebut. Menurut Abah Widia (56), nama Cireundeu mempunyai makna kehidupan yang mendalam. Pohon sebagai simbol dari alam dan air sebagai simbol dari kehidupan, sehingga bisa disimpulkan makna Cireundeu dalam satu frasa : kehidupan manusia berasal dari alam.

Kepercayaan Lokal

Ada kurang lebih sebanyak 90 kepala keluarga yang mendiami Kampung Adat Cireundeu ini. Mayoritas warga menganut kepercayaan lokal Nusantara, Sunda Wiwitan. Nama terakhir ini adalah agama animisme yang masih lestari sejak dulu hingga kini. Disebut-sebut sebagai agama tertua di Nusantara. Para penganut Sunda Wiwitan, si Saudara Tertua.

“Kenapa Wiwitan? Karena dia jadi orang Sunda pertama,” ujar Abah Widia pada Kamis (25/5/2017) siang. Wiwitan sendiri sebenarnya memiliki makna ‘awal’. Sunda Wiwitan adalah Sunda asli, atau yang dalam naskah Carita Parahyangan (keropak 406) disebut sebagai agama Jatisunda.

Urusan kehidupan beragama, Abah Widia mengaku bahwa warga Kampung Cireundeu amat toleran terhadap perbadaan keyakinan. “Di sini juga ada berbagai kepercayaan,” ujarnya. Hingga keindahan, baginya, harus diciptakan dalam kehidupan sehari-hari. Silih Asah, Silih Asuh, Silih Asih. “Kalau bahasa akademisnya, itu artinya toleransi,” tambahnya.

Adat Istiadat

Sebagai kampung yang masih mempertahankan adat istiadat warisan nenek moyang, warga Kampung Cireundeu memiliki gelaran rutin setiap tahunnya. Upacara Nutup Taun dan Ngemban Taun yang diselenggarakan setiap 1 Sura dalam penanggalan kalender Sunda. Upacara ini digelar sebagai bentuk ucap sukur pada yang Kuasa. “Selamatan itu telah jadi kewajiban masyarakat adat,” tegas Abah Widia.

Dalam setiap tahap kehidupannya, warga Kampung Cireundeu pun masih berpaku pada adat istiadat. Misalnya saja prosesi pernikahan, kematian, hingga kehamilan seorang perempuan. Dalam upaya menjaga pemahaman, masyarakat Cireundeu sudah dibekali sejak dini.

“Masyarakat adat disini diarahkan untuk menjaga keutuhan adat istiadatnya. Disini ada pendidikan Sunda setiap hari jumat untuk anak-anak kecil. Mereka dikasih pemahaman, juga pembelajaran seperti bahasa berikut tulisan sunda.”

-- Abah Widia

Selain itu, perkumpulan-perkumpulan itu diadakan guna adat yang kian terjaga. “Di sini juga ada kumpulan atau pertemuan atau nonoman. Seperti kumpulan remaja, kumpulan para orang dewasa, sehingga akhirnya tidak akan liar,” tambah Abah Widia. 

Konsep Kampung Adat

Masyarakat Kampung Cireundeu juga memiliki konsep adat khusus guna menjaga kehidupan manusia khususnya dalam berinteraksi dan memperlakukan alam sekitar:

Leuweung Baladahan (Hutan Garapan) yaitu kawasan alam yang dapat dipergunakan oleh masyarakat untuk dijadikan tempat bermukin serta dimanfaatkan untuk lahan pertanian. 

Leuweung Tutupan (Hutan Reboisasi) yaitu hutan yang digunakan untuk rebosiasi, hutan tersebut dapat dipergunakan pepohonannya namun hasil pemanfaatan harus dikembalikan lagi, seperti dengan menanam pohon lagi.

Leuweung Larangan (Hutan Terlarang) yaitu hutan yang tidak boleh ditebang pohonnya untuk dimanfaatkan. Hal ini bertujuan menjaga alam sebagai tempat utama dalam penyimpanan air.

Singkong Sebagai Makanan Pokok

Teu boga sawah, asal boga pare

Teu boga pare, asal boga beas

Teu boga beas, asal nyangu

Teu nyangu, asal dahar

Teu dahar, asal kuat.

Petikan lirik di atas akan kita temukan bila kita berkunjung ke Cireundeu. Susunan diksi itu sesungguhnya memuat cerita pelik tentang asal muasal warga Cireunde yang menjadikan singkong sebagai makanan sehari-harinya dan kebutuhan utamanya.

Sudah sejak tahun 1918 warga Cireundeu menjadikan singkong sebagai bahan makanan pokoknya. Diawali oleh siasat para penjajah pada masa kolonial Belanda, warga dibuat kelaparan lantaran kebutuhan makanan seperti beras dipersulit. Untuk menyiasatinya, warga pun beralih pada singkong. Sebab singkong dirasa lebih mudah untuk ditanam dan dipanen kala itu.

“Yang jadi kekuatan bukan sekedar dari beras. Buat warga Cireunde singkong juga sudah cukup kasih kekuatan,” ujar Abah Widia.

Hingga saat ini, kebutuhan akan singkong pun ditunjang oleh lahan pertaniannya. Menurut Abah Widia, tiap warga bahkan memiliki kebun singkong hingga empat sampai lima tempat. Mengingat warga yang telah memiliki pola tanam masing-masing, panen pun bisa dilakukan setiap waktunya. Bahkan terkadang, hasil panen yang berlebih dapat dimanfaatkan untuk makanan olahan singkong.

“Disini belum pernah membeli atau mendatangkan singkong dari luar kampung, malahan dari hasil konsusmsi sehari-hari dipakai untuk jadi makanan olahan,” tegas Abah Widia.

Warga Cireundeu masih bisa menjaga adat istiadatnya. Padahal hidup dalam lingkungan kota, bahkan di era serba modern ini barangkali dapat dengan mudah menggerus kearifan tersebut. Maka kapan lagi kiranya kita harus bertolak kesana, kalau tidak sekarang? 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar