Yamaha

Bermain Sambil Menjaga Alam Bersama Suku Badot

  Selasa, 23 Mei 2017   Ananda Muhammad Firdaus
Anak-anak Suku Badot di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Instagram @sukubadot)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Bila kita bicara tentang suku, maka yang terbayang adalah sekelompok manusia tribal yang hidup di pedalaman, yang dengan ciri berupa adat dan budayanya, mereka hidup bersama.

Tapi, bagaimana jika yang disebut suku justru hanya sekumpulan anak muda yang gemar bermain di sekitar tebing dan gunung kapur? Ya, suku ini bernama Suku Badot. Suku yang bermukim di bagian barat Kota Bandung. Dibentuk karena kepeduliannya terhadap lingkungan bermain yang kian direnggut oleh aktivitas penambangan. Yang, barangkali saja, ke depannya malah akan menghilangkan wahana alam tempat mereka bermain.

Didirikan pada 5 September 2013, Suku Badot merupakan komunitas rintisan sekelompok pemuda asal Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Suku Badot diinisiasi dengan tujuan penyelamatan lingkungan sekitar, terlebih rumah mereka di Kampung Cidadap.

“Alam itu rusak, karena kita jarang berinteraksi dengan alam itu sendiri, sehingga yang datang itu penambang,” ungkap Yoga Zara, salah seorang perintis Komunitas Suku Badot ketika ditemui AyoBandung, Sabtu (21/5/2017).

Bagi Yoga, menjaga lingkungan itu ibarat aktivitas di masjid. Kemakmuran dan kesejahteraan lingkungan harus diisi sebagaimana memakmurkan masjid.

 “Masjid akan makmur dan akan sejahtera jika kita isi. Seperti itu pula dengan alam. Alam akan sejahtera, akan makmur jika kita bermain disana.”

Yoga Zara, Perintis Suku Badot

Perjumpaan dengan nama Suku Badot sendiri sebenarnya berawal dari sebuah film yang berjudul Warriors of the Rainbow. Bercerita tentang perjuangan suku lokal asal Taiwan yang dikepalai oleh Mona Rudao dalam upayanya mengusir penjajah yang mengeksploitasi daerah tempat tinggal mereka. Yoga menganggap bahwa dirinya bersama kawan-kawannya tak ubahnya suku lokal (penghuni lokal – red) di kawasan Padalarang, Bandung Barat, yang marah dengan aktivitas eksploitasi yang terjadi di kawasan tersebut.

Nah, kalau nama ‘badot’, kata Yoga, diambil dari nama daun babadotan. Daun babadotan adalah daun yang tumbuh liar namun punya banyak manfaat. Seperti laku mereka (Yoga CS – red) yang berlaku ‘liar’ memanjat tebing, bukit, dan gunung, namun dengan tujuan yang baik. Di antaranya, untuk menjaga alam agar tetap lestari.

Upaya yang dilakukan Suku Badot ini bukan hal sembarangan. Masalah tambang hanya satu dari sekian masalah lingkungan yang ada di kawasan tersebut. Bahkan dulu, kata Yoga, di kawasan itu terdapat sumber mata air yang mampu memenuhi kebutuhan air untuk empat kampung. Namun, lantaran pembangunan yang kian masif, kini sumber mata air itu pun tiada.

Ke depan, Suku Badot punya rencana untuk menjadikan Kampung Cidadap sebagai desa wisata. “Di sini kan banyak mata air. Terus ada sawah. Kalau itu tidak dikonservasi, dibikin regulasi tingkat desa, ya lama-lama habis,” tegasnya.

Hingga kini, Suku Badot masih ‘hidup’ dengan upayanya untuk menjaga lingkungan sekitar. Kegiatan rutin seperti panjat tebing, refling, dan hammocking bisa ditemukan di sana. Bahkan, kalau sedang beruntung, kita bisa bertemu dengan anak-anak Suku Badot yang menerbangkan layangannya di puncak gunung Hawu atau sekedar bermain egrang untuk melepas diri sejenak dari bising perkotaan.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar