Yamaha Aerox

Anemia Bisa Berdampak pada Turunnya IQ

  Jumat, 28 April 2017   Asri Wuni Wulandari
Ilustrasi. (Pixabay/Public Domain Archive)

BOGOR, AYOBANDUNG.COM – Anemia pada anak usia kurang dari dua tahun akan mengganggu perkembangan syaraf otak atau kemampuan kognitif. Bahkan, bisa juga hingga menurunkan IQ sampai sepuluh persen.

Hal itu dikatakan oleh Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB Prof Dodik Briawan dalam praorasi guru besar IPB di Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/4).

“Anemia dapat menurunkan 20 persen kemampuan kerja dan kemampuan kognitif. Dan, bersifat permanen,” ujar Dodik.

Anemia merupakan masalah gizi mikro yang dialami hampir semua negara. Jumlah penderitanya diperkirakan mencapai dua miliar orang atau sepertiga dari populasi dunia. Penderita anemia paling banyak berasal dari Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika. Dodik menjelaskan, 50 persen kejadian anemia disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi. Anemia bahkan sudah dikenal sejak pertengahan abad ke-16 di Eropa dengan sebutan chlorosis.

Dodik mengatakan, kini cara pengobatan anemia sudah diketahui. Yaitu dengan menggunakan garam besi. Dalam satu hari, kebutuhan manusia akan zat besi hanya sekitar 60 miligram per hari. Itu bisa diatasi dengan mengonsumsi daging, telur, dan ayam.

“Aka nada fenomena loss generation (kehilangan generasi) dan bisa mengakibatkan kematian karena menurunnya imunitas akibat anemia,” jelas Dodik, sebagaimana dilansir dari ANTARA.

Anemia, kata Dodik, terjadi karena rendahnya kualitas konsumsi pangan. Sebagian besar penduduk Indonesia mengonsumsi berat 97,7 persen dan sayuran 79,1 persen. Pola diet yang dilakukan tersebut meningkatkan risiko anemia gizi besi, anemia karena infeksi dan penyebab lainnya seperti infeksi cacing dan malaria serta inflamasi karena TB dan HIV/AIDS. 

Hasil penelitian mahasiswa Program Magister IPB tahun 2016 mengungkapkan bahwa estimasi kerugian ekonomi bangsa Indonesia terhadap kasus anemia mencapai Rp 62 triliun atau setara dengan 0,711 persen PDB. Kerugian ekonomi pada anak balita dan sekolah dasar sebesar Rp 1,3 juta, remaja Rp 830 juta, perempuan dewasa Rp 1,9 juta, dan pria dewasa Rp 2,8 juta per kapita per tahun.

Pemerintah telah melakukan beberapa program untuk menangani anemia, yaitu melalui fortifikasi pangan, suplementasi zat besi, komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) gizi, dan peningkatan kualitas konsumsi pangan.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar