Yamaha

Inspektorat Sebut Jual Seragam Modus Pungli kepsek

  Jumat, 21 Oktober 2016   Yatti Chahyati
Ilustrasi (Danny/AyoBandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM - 9 kepala sekolah dari SD Negeri dan SMP Negeri diberhentikan secara langsung oleh Wali Kota Bandung Ridwan Kamil tertanggal 20 Oktober kemarin.

Para kepala selolah tersebut dianggap melakukan pungutan liar dengan berbagai cara salah satunya yakni penjualan seragam sekolah secara terhadap siswa.

Menurut Kepala Inspektorat Kota Bandung Koswara, para kepala sekolah tersebut mayoritas menggunakan modus menjual seragam serta buku mata pelajaran kepada siswa. Padahal berdasarkan aturan yang tertera pada PP 17 tahun 2010 tentang pengolaan pendidikan.

"Jadi di dalam pasal 81 ada larangan menjual buku mata pelajaran, bahan pakaian, seragam dan lain-lainnya. Selain itu, di PP 48 tahun 2008 juga sudah ada larangan mengenai pungutan," kata Koswara saat dihubugi awak media, Jumat (21/10/2016).

Koswara mengatakan, keuntungan hasil dari penjualan itu diperoleh kepala sekolah hingga berlipat ganda. Untuk memuluskan langkah tersebut, modus penjualan seragam biasanya menggunakan koperasi sebagai media yang dinilai tepat.

"Mayoritas penjualan memakai modus koperasi, miisalnya harga suatu barang Rp 9 ribu tapi dijual Rp 10 ribu. Nah itu keuntungannya masuk ke kantong kepala sekolah," tuturnya.

Sementara itu pihak SMP Negeri 5 mengaku pihaknya tidak menjual sama sekali baik seragam atau pun buku mata pelajaran kepada siswan. Bahkan mayoritas orangtua siswa meminta pihak sekolah untuk memfasilitasi menyediakan seragam atau pun buku.

"Kami di sini memang jual seragam di koperasi, di semua sekolah juga ada. Tapi kami sifatnya tidak memaksa, tapi para orangtua yang menitipkan ke kami karena mereka enggak mau kesana kemari beli seragamnya. Jadi ini atas keinginan orangtua siswa juga," ujar Wakasep Bidang Humas SMPN 5, Nandang Sutisna saat ditemui diruangannya, Jumat (21/10/2016).

Ia secara tegas, tidak memaksa terhadap siswa yang kurang mampu untuk membeli seragam di koperasi yang ada di lingkungan sekolah. Bahkan pihak sekolah pun memberikan secara gratis kepada siswa yang tidak mampu untuk memberikan segaram seperti batik dan pakaian olahraga.

"Malahan kita mah berikan secara gratis tanpa ada biaya kepada siswa yang tidak mampu. Jadi sekali lagi, bukan kita yang menjual tapi karena keinginan orangtua karena enggak mau ribet," pungkasnya.(Roni)

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar