Yamaha

Cerita Keluarga di Sebuah Kampung di Kota Bandung

  Jumat, 19 Juni 2015   Yatti Chahyati
PAMERAN: Pameran foto di beberapa tembok rumah penduduk Kampung Pulo Sari RT 09/RW 15, Bandung. (danny/ayobandung)

 

Siapa bilang pameran foto harus digelar di galeri besar? Siapa bilang, pameran foto harus menonjolkan keindahan warna? Siapa bilang pameran foto harus memperlihatkan keindahan objeknya? Karena sebenarnya, pameran foto bisa digelar di manapun, termasuk di pemukiman pada penduduk.

Foto berwarna hitam putih itu menempel di beberapa tembok rumah penduduk Kampung Pulo Sari RT 09/RW 15, Bandung. Ukuran fotonya sekitar 90 sentimeter x 30 sentimeter. Objek yang tampak dalam foto itu adalah keluarga.

Tidak hanya keluarga utuh yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Ada foto yang menampilkan pasangan suami istri, ada yang menampilkan anak lelaki bersama ibunya. Ada juga yang menampilkan sosok seorang ayah.

Foto yang menempel di tembok rumah padat penduduk itu adalah karya Vincent Rumahloine. Dia memberi judul pamerannya “Family Portrait”, sesuai dengan gambar-gambar yang dia pajang di salah satu pemukiman padat penduduk di Kota Bandung.

Melalui karyanya, Vincent ingin menceritakan bahwa keluarga tidak harus selamanya terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Keluarga bisa saja tanpa ayah, tanpa ibu, juga tanpa anak. Keluarga juga berupa anggota komunitas.

“Dicky, awalnya dia anak jalanan. Dia bertemu dengan komunitas Kuyagaya. Di komunitas inilah dia menemukan keluarga,” cerita Vincent kepada ayobandung.

Alasan itulah yang membuat Vincent mengambil gambar dari salah satu tokoh di Kampung Pulo Sari. Foto Dicky dipajang bersama lima tokoh Kampung Pulo Sari lainnya, seperti Mang Han dan Mang Ebek, Dian, Geboy, dan Jojo. Foto hitam putih keenam tokoh ini ditempel di tepi Sungai Cikapundung.

Selain ingin menggambarkan “keluarga”, alasan lain yang diungkapkan Vincent tentang pamerannya adalah dia ingin membuat interaksi terjalin antara warga Kampung Pulo Sari dengan pengunjung pameran.

Ketika pengjung berjalan di gang sempit, hal utama yang perlu dilakukan adalah mengucapkan “punteun”, saat berpapasan dengan warga setempat. Dari sana, akan muncul percakapan singkat terkait foto-foto yang dipamerkan. Percakapan akan semakin intens, jika warga yang diajak bicara adalah salah seorang objek fotonya Vincent.

Kampung Pulo Sari terletak di bawah jembatan layang Pasopati. Dekat dengan lapangan sepak bola yang kerap digunakan untuk seleksi timnas homeless world cup. 

Pameran yang digelar oleh pria kelahiran Tasikmalaya itu seolah menjadi kritik sosial, lantaran di lokasi yang jaraknya dekat dengan Taman Jomblo dan Taman Film yang dibuat oleh Walikota, masih ada sebuah kampung dengan kehidupan yang kurang sehat.

Para warga di Kampung Pulo Sari ini hidup di rumah petak. Mereka hanya memiliki satu ruangan “serba guna” sebagai tempat berteduh dan beristirahat. Ketika matahari terbit, mereka menyambut tamu di ruang yang sama dengan mereka tidur.

“Kalau siang, ruang tidur berubah menjadi ruang tamu. Saat malam tiba, ruang tamu berubah menjadi ruang tidur,” kata Vincent.

Gambaran itulah yang menjadi pembuka dari pameran Family Portrait. Sebelum para pengunjung datang melangkahkan kaki dari gang satu ke gang lainnya, mereka akan disambut dengan sebuah poster besar. Gambar yang terdapat di poster itu menampilkan sosok pria, sosok perempuan, serta banyak anak. Mereka berkumpul dalam satu ruangan.(mega)

.

 

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE