Yamaha Lexi

Energi Kemanusiaan Dari Si Wajah Putih

  Rabu, 10 Juni 2015   Yatti Chahyati
PANTOMIM: Pantomim tidak sama dengan badut sirkus yang menghibur penonton dengan aksi konyolnya. Pantomim itu bagian dari gerakan sosial dan kemanusian melalui seni pertunjukkan.(danny/ayobandung)

 

Pria berkumis itu mulai memoles wajahnya dengan cream berwarna putih. Menambahkan tekstur pada garis matanya dengan tinta khusus berwarna hitam. Mempertajam lekuk alisnya dengan tinta yang sama. Terakhir, dia mengikat kepalanya dengan selembar kain berwarna gelap.

Melukis wajah selalu dilakukan Wanggi Hoediyatno Boediardjo setiap dia akan melakukan aksinya. Rutinitas itu sudah ditekuninya sejak dia bergabung di komunitas pantomim pada pertengahan 2006 silam.

Walaupun beberapa pelaku pantomim atau pantomimers kerap tampil tanpa riasan wajah, tapi Wanggi memiliki pendapat yang berbeda. Baginya, riasan wajah merupakan salah satu identitas pantomim yang tidak bisa dihapus. Apalagi tradisi merias wajah itu diperkenalkan oleh Marcel Marceau.

Marcel Marceau adalah maestro pantomim dari Perancis. Kegiatan teater dan pantomim sudah dia lakoni sejak belia. Tapi, dia baru menjadikan make up sebagai identitas pantomim setelah melihat jenazah ayahnya yang menjadi korban perang dunia dunia.

“Marcel Marceau pernah berkata, saat dia melihat wajah pucat ayahnya, mata dan bibir yang menghitam karena darah, dia seolah menyerap energi sang ayah,” ujar Wanggi kepada ayobandung. Sejak itu, selain mulai tampil dengan riasan wajah, Marcel Meraceau pun mulai menyuarakan isu-isu sosial dan kemanusiaan lewat aksi bisunya.

Kisah Marcel Merceau itu ditemukan Wanggi saat dia sedang menggali informasi tentang pantomim. Dia juga menemukan fakta lain, bahwa pantomim bukan hanya sekadar hiburan dalam seni pertunjukkan. Ada banyak isu sosial dan kemanusiaan di balik wajah putih bak badut sirkus itu. 

Fakta-fakta itu menggugah hati Wanggi. Dia mulai mengaplikasikan temuannya dalam gerakan pantomim. Lewat aksi jalanannya, Wanggi membantu masyarakat yang tidak berani menyuarakan pendapat.

“Pantomim tidak sama dengan badut sirkus yang menghibur penonton dengan aksi konyolnya. Pantomim itu bagian dari gerakan sosial dan kemanusian melalui seni pertunjukkan,” jelasnya.

Sudah ribuan aksi yang Wanggi lakukan. Beberapa aksinya juga berhasil mengusik sejumlah kalangan. Teror pun sudah menjadi bagian dari hidupnya. Jika mendapatkan ancaman melalui sms dan telepon, Wanggi mengandalkan bantuan teman-temannya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Meski begitu, dia tidak berhenti. Wanggi malah semakin giat berkampanye lewat pantomim.

“Kalau ada teror berarti apa yang saya lakukan benar. Ada yang salah dan yang merasa bersalah terusik dengan aksi yang saya lakukan,” ucapnya santai.(megga)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar