Yamaha Lexi

Gimbal Itu, Gaya Hidup

  Jumat, 05 Juni 2015   Yatti Chahyati
GIMBAL: Saat sengang, Dicky pemilik Dreadock Studio memilih menjaga studionya sambil bermain di laptop .(mega anggraeni/ayobandung)

 

Bandung- “Gimbal itu sekarang sudah menjadi gaya hidup,” ungkapan itu muncul dari Dicky Alfarizy pemilik rambut gimbal yang juga membuka tempat khusus untuk para komunitas rambut gimbal,  di Jalan Bahureksa, Bandung.

Ungkapan itu tidak muncul sembarangan dari mulut Dicky. Alumni SMA Negeri 5 Bandung itu sedang berusaha menghilangkan stigma yang selama ini tertanam di benak banyak orang, bahwa gimbal itu identik dengan ganja, bau, kucel, dan jorok.

Menurut pemuda yang akrab dipanggil Docko itu, rambut gimbal sering menjadi pusat perhatian. Mata-mata sinis selalu mengikuti para pemilik rambut gimbal. Hal itulah yang membuat Docko membuka sebuah studio yang menawarkan jasa menggimbal dan mencuci rambut.

“Pemiliki keahlian menggimbal rambut biasanya ngga buka tempat, mereka hanya bekerja sesuai permintaan pelanggan. Menggimbal pun bisa dilakukan di mana saja,”  kata Docko.

Sebelum membuka studio, Docko juga melakukan hal itu. Dia sering datang dari rumah ke rumah, untuk membantu pelanggannya. Mulai menggimbal rambut asli, menjahit atau menyambung rambut, hingga hanya sekadar merapikan rambut gimbal dia lakoni di jalanan selama kurang dari dua tahun.            

Hasil dari menjual jasanya itu, kemudian ditabung. Sedikit demi sedikit, hingga akhirnya Docko pun bisa membuka tempat untuk menggimbal. Salon gimbal pertama hadir di dekat rumahnya, kawasan Margahayu Raya, Bandung dengan nama Dock and Jim Dread Lock Salon.          

Tempat pertamanya itu kemudian tutup dan tidak lama kemudian, Docko membuka tempat baru di Jalan Bahureksa dengan nama Dreadock Studio. Studio yang dia buka pada September 2013 itu semakin membuat namanya dikenal.

Tidak sedikit yang datang ke Jalan Bahureksa untuk menggimbal rambut, merawat rambut gimbal, hingga sekadar melihat-lihat koleksi baju dan tas yang ada di Dreadock. Menurut Docko, banyak juga yang datang hanya untuk berfoto.

Dia sengaja mendesain ruang usahanya dengan beberapa properti yang membuat tempatnya terlihat fotogenik. Itulah yang memperkuat alasan Docko untuk mengganti kata “salon” dengan “studio”.

“Kalau salon kesannya centil, hanya untuk perempuan. Apalagi di sini tidak ada aktivitas seperti di salon seperti mengeringkan rambut dengan hairdryer atau creambath,” jelasnya sambil tertawa.(mga)

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             

 

 

 

 

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar