Komunikasi Krisis Bola

- Jumat, 27 Agustus 2021 | 21:54 WIB
Ilustrasi permainan sepak bola. (Unsplash/Emilio Garcia)
Ilustrasi permainan sepak bola. (Unsplash/Emilio Garcia)

Nick Hornby seorang sastrawan ternama yang berkebangsaan Inggris suatu ketika berkata, “Saya tergila-gila dan jatuh cinta pada sepak bola, seperti saya harus tergila-gila dan jatuh cinta pada wanita.”

Rupanya perasaan ini mewakili jutaan pencinta sepakbola di Indonesia. Mereka seperti seseorang yang sedang jatuh cinta pada sepakbola, oleh karenanya mereka merindukan sebuah suguhan yang bisa melihat langsung ataupun tidak langsung tim kesayangannya bertanding.

Namun sungguh sayang kerinduan yang mendalam ini, harus ditahan kuat-kuat, karena pertandingan sepak bola di Indonesia belum juga kunjung terkabulkan, karena covid yang menghancurakan segalanya.

Tidak hanya untuk kesehatan, covid benar-benar telah merusak olah raga sepak bola. Di Indonesia, awal mula adanya covid, liga Indonesia sempat berjalan tiga pertandingan, namun akhirnya liga sepak bola Indonesia harus dihentikan. Dengan dalih meningkatnya jumlah korban pandemi Covid-19.

Sempat ada turnamen pra musim yang sebenarnya berjalan mulus, namun diprediksi jumlah covid meningkat, akhirnya liga harus ditunda lagi. Jadwal yang sudah semula ditentukan pun digeser sampai beberapa kali.

Masyarakat kecewa dan memunculkan ketidakpercayaan publik pada pemerintah dalam mengelola krisis ini. Ketidakpercayaan masyarakat pada pengelola negara ini cukup beralasan, karena masyarakat bisa mendapatkan berbagai informasi secara langsung, bagaimana negara-negara Eropa bisa dengan cepat mengatasi krisis dan segala sesuatunya bisa kembali normal.

Untuk urusan sepak bola pun di negara-negara lain sama. Mengalami penghentian liga. Liga Inggris, liga Italia, liga Spanyol, yang merupakan negara kiblatnya sepakbola, dan beberapa negara lainnya, mengalami penundaan liga. Mereka selesaikan terlebih dahulu covid, dan memikirkan bagaimana caranya sepakbola tetap jalan di tengah-tengah covid. Meksipun ketika liga tetap jalan, ada beberapa pemain, bahkan pemain top pun dikabarkan terpapar juga, seperti Christiano Ronaldo.

Tidak butuh lama, liga-liga di Eropa dan beberapa di negara lain, mulai kembali bergulir. Meksipun tanpa penonton, mereka tetap melanjutkan agenda pertandingan. Pengurangan gaji pemain, karena pendapatkan club berkurang dari hak siar, tiket pertandingan, dan sponsor. Namun mereka berhasil keluar dari krisis dan bisa melanjutkan bisnis sepakbolanya.

Keberhasilan pengelolaan krisis dan pandemi negara-negara Eropa dibuktikan juga dengan suksesnya menyelenggarakan Euro. Piala Eropa pun bisa berlangsung tanpa ada tersiar kabar adanya klaster baru. Bahkan di beberapa pertandingan, stadion dipadati oleh ribuan pendukung kedua kesebelasan yang sedang bertanding, tanpa ada jarak, dan menggunakan masker. Meskipun piala Eropa sempat ditunda, namun bisa terselenggara dengan meriah di tahun berikutnya.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X