Misteri Gunung Sembung Hulu Citarum: Menurut Bujangga Manik, Naskah Kolonial, dan Peta Kolonial

- Selasa, 24 Agustus 2021 | 05:27 WIB
Di dalam naskah Bujangga Manik Gunung Sembung disebut-sebut sebagai hulu Citarum. Bagaimanapun, informasi sejatinya masih jadi misteri. (Wikimedia Commons)
Di dalam naskah Bujangga Manik Gunung Sembung disebut-sebut sebagai hulu Citarum. Bagaimanapun, informasi sejatinya masih jadi misteri. (Wikimedia Commons)

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh G.T. Kusumawardhana yang berjudul Dimanakah Letak Gunung Sembung Tempat Dimana Hulu Sungai Ci Tarum Dinisbatkan Berada Berdasarkan Catatan Bujangga Manik dan Andries De Wilde? (cek di sini).

Artikel tersebut mencoba untuk menganalisis terkait keberadaan Gunung Sembung yang saat ini toponimi tersebut sudah tidak ada lagi. Di dalam naskah Bujangga Manik Gunung Sembung disebut-sebut sebagai hulu Citarum. Informasi dari naskah Bujangga Manik terkait Gunung Sembung tersebut ternyata masih bertahan sampai tahun 1830. Hal itu terbukti dengan adanya informasi bahwa hulu Citarum adalah Gunung Sembung yang terdapat di dalam buku karya Andries de Wilde yang berjudul De Preanger Regentschappen op Java Gelegen.

Hasil analisis Kusumawardhana pada artikel tersebut kemudian bermuara pada wilayah Danau Ciharus dan Gunung Rakutak sebagai wilayah yang dulunya disebut Gunung Sembung. Namun di dalam kesimpulannya Kusumawardhana mengakui bahwa hasil analisisnya masih bersifat spekulatif dan membutuhkan data-data lanjutan yang lebih sahih dan terpercaya, bahkan dia menyebutkan bahwa intinya kesimpulannya itu masih longgar, bisa jadi memang benar, atau bisa jadi terbantahkan jika ada data lain yang lebih dapat dipercaya.

Di dalam tulisan ini penulis ingin kembali mempermasalahkan hal itu dan melanjutkan kajian yang telah dilakukan oleh Kusumardhana tersebut. Bisa jadi menguatkan atau bahkan membantahnya. Jadi, di manakah sebenarnya Gunung Sembung tersebut? Disebut apakah Gunung Sembung tersebut saat ini? Apakah memang betul Gunung Rakutak adalah Gunung Sembung? Bagaimana dengan Gunung Wayang dengan Cisanti-nya yang saat ini dikenal sebagai hulu Citarum?

Sebelum menjawabnya ada baiknya penulis sajikan terlebih dahulu kerangka jawabannya agar para pembaca dapat turut memahami dan menelusuri. Di sini jawaban akan disajikan ke dalam lima bagian. Bagian pertama penulis akan sajikan terlebih dahulu titi mangsa naskah Bujangga Manik. Bagian ke-dua akan penulis sajikan isi naskah Bujangga Manik dan isi buku karya Andries de Wilde terkait Gunung Sembung sebagai hulu Citarum. Bagian ke-tiga akan penulis sajikan hasil penelusuran pada naskah-naskah kolonial serta pada dua peta De Haan koleksi dari Arsip Nasional Indonesia. Bagian ke-empat akan penulis sajikan analisis peta era Raffles. Dan yang terakhir adalah kesimpulan.

Titi mangsa naskah Bujangga Manik

Agar lebih tergambar zaman di mana memori kolektif masyarakat Sunda terkait hulu Citarum masih lestari dan belum musnah seperti saat ini, maka titi mangsa naskah Bujangga Manik pun harus dijelaskan. Buku yang menjadi rujukan terkait alih aksara dan isi naskah Bujangga Manik adalah Three Old Sundanese Poems karya J. Noorduyn dan A. Teeuw.

Yang pertama adalah naskah Bujangga Manik dibuat pada masa sebelum Kesultanan Cirebon dan Demak berdiri. Hal ini dapat dibuktikan bahwa Demak masih disebut alas atau hutan, seperti halnya alas roban. Kemudian hal tersebut sesuai dengan apa yang dikatakan Noorduyn dan A. Teeuw pada halaman 316 dalam bukunya yaitu terkait Demak tersebut pada saat itu ada dua kemungkinan, kemungkinan pertama Majapahit dan Demak merupakan two differents political entities, dan kemungkinan ke-dua hanya sebagai geographical indication semata. Kemudian di naskah tersebut Cirebon belum disebut-sebut.

Yang kedua, naskah Bujangga Manik dibuat pada masa Kesultanan Malaka telah berdiri. Hal itu dapat dibuktikan dengan disebutkannya parahu Malaka atau dengan kata lain perahu jurusan ke Malaka yang ditumpangi tokoh Bujangga Manik pada saat akan pulang ke Kalapa dari Pamalang. Menurut Joginder Singh Jessy di dalam buku Tawarikh Tanah Melayu, 1400-1959, pada halaman 8, Kesultanan Malaka didirikan pada tahun 1402 oleh Parameswara.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pansos Demi Cuan?

Selasa, 28 September 2021 | 08:00 WIB

Selamatkan Remaja dari Perilaku Kejahatan Seksual

Senin, 27 September 2021 | 12:46 WIB

Pemerintah China Diuji Kasus Evergrande

Senin, 27 September 2021 | 08:00 WIB

Menyelesaikan Pandemi dengan Keimanan, Rasionalkah?

Jumat, 24 September 2021 | 22:58 WIB

Boring Daring, Saatnya Belajar Luring!

Jumat, 24 September 2021 | 19:56 WIB

Perlu Langkah Nyata Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Kamis, 23 September 2021 | 22:23 WIB

Alasan Wajib Bangga Menjadi Orang Bandung

Kamis, 23 September 2021 | 18:27 WIB

Buruk Pengelolaan Lapas di Indonesia

Kamis, 23 September 2021 | 17:28 WIB

Meragukan Keampuhan Strategi Joe Biden

Kamis, 23 September 2021 | 16:47 WIB

Optimistis Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka

Rabu, 22 September 2021 | 23:36 WIB

Oase Perdamaian

Rabu, 22 September 2021 | 22:00 WIB

OSVIA, Klub Sepak Bola Pribumi Pertama di Bandung

Rabu, 22 September 2021 | 16:51 WIB

Emas Hijau yang Perlu Kita Rawat dan Lestarikan

Selasa, 21 September 2021 | 23:30 WIB

JANGAN CABULI KAMI!

Selasa, 21 September 2021 | 22:30 WIB

Mesin Waktu dan Media Sosial

Selasa, 21 September 2021 | 21:52 WIB
X