Gabus Pucung, Kuliner Bekasi yang Sesuai Karakter Alam

- Jumat, 20 Agustus 2021 | 13:41 WIB
Peta yang memperlihatkan tiga situ dan rawa di Bekasi, yaitu: Rawa Pasung dan Rawa Tambaga (A), Situ Cerewet (B), dan Situ Duku dan Rawa Duku (C). Sumber: Topografi Lembar Bekasi dan Lembar Tjibening (Biro Topografi di Jakarta, 1901). (Peta koleksi KITLV Heritage Collection. Olah peta: T Bachtiar.)
Peta yang memperlihatkan tiga situ dan rawa di Bekasi, yaitu: Rawa Pasung dan Rawa Tambaga (A), Situ Cerewet (B), dan Situ Duku dan Rawa Duku (C). Sumber: Topografi Lembar Bekasi dan Lembar Tjibening (Biro Topografi di Jakarta, 1901). (Peta koleksi KITLV Heritage Collection. Olah peta: T Bachtiar.)

AYOBANDUNG.COM--Kuahnya berwarna coklat pekat nyaris kehitaman. Dua potong ikan gabus dalam piring sudah disajikan.

Dalam daftar menu ditulis, gabus pucung. Inilah kuliner khas Betawi termasuk Bekasi, yang mulai langka. Warna pekatnya didapat dari isi kelewek atau keluak. 

Pohon pucung atau pohon kepayang, yang buahnya menjadi bumbu utama gabus pucung, semula banyak terdapat di Bekasi, jejaknya terdapat dalam Peta Topografi yang terbit pada tahun 1901, seperti yang ditulis dalam peta Lembar Cibening.

Dalam lembar peta itu terdapat nama geografi Telukpucung. Sekarang kawasan itu menjadi nama Kelurahan Telukpucung, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat. Ini menyiratkan, bahwa di Bekasi pada masa lalu terdapat banyak pohon pucung atau pohon kepayang.

Pohon pucung (Pangium edule REINW.) tersebar di Indonesia sampai ketinggian 1.000 m dpl, sehingga di berbagai daerah mempunyai namanya sendiri. Tinggi pohonnya mencapai 40 meter, besar batang dengan banir-banirnya mencapai 2,5 meter.

Tumbuh liar di hutan, tapi ada juga yang ditanam di kebun. Kapayang mulai berbuah pada umur 15 tahun. Sesungguhnya pohon dan buahnya mengandung racun asam sianida dalam jumlah yang besar.

Namun ada orang-orang yang mempunyai keahlian menaklukan racun yang mematikan itu, sehingga pucung dapat dimakan dengan aman, dan menjadi bumbu masakan yang banyak digemari di berbagai daerah di Indonesia. 

Buahnya dibiar berjatuhan, lalu dikumpulkan di bawah pohonnya dan dibiarkan selama dua minggu sampai daging buahnya membusuk. Setelah dicuci bersih, biji keras itu direbus, lalu didinginkan.

Bijinya kemudian disimpan di dalam abu, yang wadahnya sudah dialasi dan ditutup dengan daun cariang, sejenis talas, selama 40 hari. Bijinya diangkat, dicuci, lalu dikeringkan dengan cara dijemur. Yang berhasil baik, isinya coklat tua, sedikit berminyak, dan licin. 

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Mengapa Provinsi Sunda?

Jumat, 2 Desember 2022 | 14:06 WIB

Siarkan TV Digital, Indonesia Siap Total?

Jumat, 2 Desember 2022 | 10:52 WIB

Dari Egoisme Lahirlah Intoleranlisme

Senin, 28 November 2022 | 16:09 WIB

Dominasi AS Melemah G-20 menjadi Xi-20

Senin, 28 November 2022 | 10:36 WIB

Wabah Sampar di Cicalengka Tahun 1932-1938

Jumat, 25 November 2022 | 19:10 WIB
X