Ekonomi Indonesia 7,07  Persen, Capaian atau Low Base Effect?

- Kamis, 12 Agustus 2021 | 23:53 WIB
Tumbuhnya ekonomi Indonesia tercermin dari peningkatan nilai konsumsi rumah tangga serta meningkatnya ekspor. (Pixabay/Gerd Altmann)
Tumbuhnya ekonomi Indonesia tercermin dari peningkatan nilai konsumsi rumah tangga serta meningkatnya ekspor. (Pixabay/Gerd Altmann)

Kamis, 5 Agustus 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II-2021 sebesar 4.175,8 triliun rupiah atas dasar harga berlaku (ADHB) atau sebesar 2.772,8 triliun rupiah atas dasar harga konstan (ADHK).

Dari besaran PDB ADHK tersebut, ekonomi Indonesia bisa dikatakan lebih tinggi 3,31 persen jika dibandingkan periode sebelumnya (q-to-q) atau tumbuh 7,07 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (y-on-y). Capaian tersebut jauh lebih baik dibandingkan angka kuartal sebelumnya dimana ekonomi Indonesia masih terkontraksi 0,71 persen (y-on-y).

Tumbuhnya ekonomi Indonesia tercermin dari peningkatan nilai konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 5,93 persen serta meningkatnya ekspor yang tumbuh hingga 31,78 persen. Dari sisi lapangan usaha, sejumlah kategori tumbuh melejit hingga di atas 20 persen seperti pada Transportasi dan Pergudangan maupun Jasa Akomodasi dan Makan Minum. Selain itu, Industri Pengolahan yang memiliki share dominan dalam ekonomi Indonesia turut tumbuh 6,58 persen. Secara keseluruhan, seluruh lapangan usaha maupun komponen pengeluaran tumbuh positif dibandingkan tahun sebelumnya yang artinya ekonomi Indonesia di kuartal II-2021 lebih baik dibanding kuartal II -2020.

Capaian tersebut tentunya didukung atas berbagai upaya yang dilakukan pemerintah di tengah pandemi Covid-19 yang sudah lebih dari setahun melanda negeri ini. Hingga akhir Juni 2021, Pemerintah telah merealisasikan lebih dari 252 triliun rupiah dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Angka tersebut dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan realisasi selama semester I-2020. Pemerintah melalui PEN juga menggalakkan program vaksinasi Covid-19 dengan tujuan mempercepat terbentuknya herd immunity masyarakat. Dampaknya, mobilitas dan aktivitas masyarakat dapat segera berjalan normal hingga akhirnya mendorong aktivitas ekonomi.

Pada skala global, trend pertumbuhan ekonomi yang positif juga ditunjukkan di berbagai negara dunia. Sejumlah negara mitra dagang Indonesia merilis adanya rebound pertumbuhan ekonomi seperti di Amerika Serikat, dan Singapura yang tumbuh double digit, serta Tiongkok, Vietnam dan Hongkong yang tumbuh lebih dari lima persen di kuartal II lalu. Di sisi lain, negara-negara tersebut juga terbilang sama dengan Indonesia yang mengalami kontraksi ekonomi di kuartal II-2020. Artinya, tumbuhnya ekonomi sejumlah negara termasuk Indonesia saat ini didasarkan pada level ekonomi yang sangat rendah ketika awal pandemi Covid-19 di tahun 2020. Dengan kata lain, trend capaian partumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 7,07 persen turut dipengaruhi faktor lain yang juga tercermin dari lompatan pertumbuhan ekonomi pada negara mitra dagang tersebut.

Low Base Effect

Low base effect merupakan kecenderungan perubahan nilai absolut yang kecil pada kondisi awal yang “sangat” rendah sehingga diterjemahkan ke dalam bentuk perubahan persentase yang besar. Dalam kondisi ini, setiap kenaikan yang sangat kecil sekalipun dari suatu indikator akan ditransformasi ke dalam nilai pertumbuhan yang sangat besar. Dalam dunia bisnis dan ekonomi, kondisi ini kerap terjadi ketika level ekonomi bisnis dan masyarakat sedang dalam kondisi yang sangat rendah (diantaranya ditunjukkan dengan pertumbuhan yang sangat negatif) sehingga ketika ada peningkatan indikator dalam skala minor akan terefleksi ke dalam persentasi yang sangat besar. Fenomena ini biasanya terjadi ketika suatu ekonomi berada dalam kondisi yang sangat terpuruk akibat krisis maupun pandemi. Indonesia sendiri pernah mangalami kondisi tersebut kala mengalami krisis moneter dimana pada kuartal I-1999 ekonomi Indonesia tumbuh 1,79 persen (y-on-y) meskipun sebelumnya pada kuartal IV-1998 ekonomi Indonesia kontraksi 6,13 persen (y-on-y). Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah ekonomi Indonesia pada kuartal I-1998 yang sangat rendah hingga terkontraksi hingga 13,34 persen sehingga berdampak ekonomi Indonesia yang tumbuh positif saat itu.

Fenomena ini berpotensi memberikan bias penilaian masyarakat terhadap perkembangan kondisi ekonomi. Suatu indikator bisa tumbuh sangat tinggi meskipun nilai absolutnya sangat kecil. Ilustrasinya, dalam kondisi normal sebelum adanya pandemi Covid-19, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia dalam satu bulan selalu lebih dari satu juta kunjungan. Artinya, penambahan seratus ribu kunjungan setara dengan kenaikan sepuluh persen. Namun dimasa pandemi, jumlah kunjungan wisatawan asing hanya berkisar 150 ribu kunjungan atau bisa dikatakan bahwa penambahan seratus ribu kunjungan wisatawan di masa pandemi setara dengan pertumbuhan sebesar 67 persen. Ilustrasi ini menggambarkan bahwa meskipun nilai absolut yang diberikan sama besar namun karena level penghitungannya berbeda yang disebabkan adanya kondisi yang juga berbeda, maka persentase perubahannya menjadi terdampak (bias). Nilai persentase pertumbuhan yang tinggi tidak serta merta menunjukkan capaian absolut yang besar, namun relatif terhadap dasar (base) nya.

Menatap Ekonomi Indonesia

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Berpikir Kritis Bisa Cegah Investasi Bodong

Selasa, 25 Januari 2022 | 14:52 WIB

Manfaat Perdagangan Ekspor untuk Perekonomian

Senin, 24 Januari 2022 | 15:07 WIB

Mempelajari Karakter Orang Melalui Kebiasaannya

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:00 WIB

Geotrek, Belajar di Alam dengan Senang dan Nikmat

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:25 WIB

Mengenal Manfaat Transit Oriented Development (TOD)

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:35 WIB

Kapitalisme Kekuasaan Zaman

Senin, 17 Januari 2022 | 16:45 WIB

Geotrek Lintas Kars Citatah

Jumat, 14 Januari 2022 | 15:01 WIB
X