Bikini Dinar Candy dan Aksi "Immoral" Pandemi

- Senin, 9 Agustus 2021 | 16:10 WIB
Dinar Candy
Dinar Candy

Rabu (3 Agustux 2021) lalu kaum lelaki di Jl Adhyaksa, Lebak Bulus, Jakarta, memperoleh pemandangan tak biasa. Seorang perempuan muda berbikini merah berdiri di trotoar sembari memegang sebuah papan. Jelas tak biasa, karena belakangan diketahui bahwa perempuan berbikini itu ternyata seorang selebriti, seorang DJ bernama Dinar Candy.

Menurut pengakuan Dinar Candy, aksi itu dimaksudkan untuk memprotes PPKM yang diperpanjang. Aksi itu direkam adiknya dan kemudian videonya  ditayangkan di medsos sehingga viral. Dan malam harinya Dinar diperiksa polisi atas aksi yang dinilai tidak pantas serta ada kemungkinan melanggar UU Pornografi.

Kalau kita amati, selain kasus Dinar itu, di tengah pandemi berkepanjangan aksi-aksi tak pantas bermunculan silih berganti. Kita lihat, misalkan, seorang pengusaha bangkrut berhalusinasi memberi sumbangan Covid senilai Rp 2 triliun, ada pula oknum yang memalsukan sertifikat vaksin, lelaki perkasa memilih pakai cadar agar lolos pembatasan, sampai rakyat kecil berbondong-bondong ke tempat vaksin untuk minta kartu vaksinasi tetapi tak mau divaksin! Alamak!

Tindakan "tak pantas", jika memakai sudut pandang filsafat moral, boleh dibilang mereka itu mengabaikan etika rasional. Dasar dari etika rasional ini adalah logika. Etika rasional ini bertindak berdasarkan sesuatu yang masuk akal (logis). Sederhana saja, apakah protes dengan berbikini termasuk logis? Apakah logis seorang pengusaha tak ternama tiba-tiba mau menyumbang Rp 2 triliun dan mengalahkan para taipan?

Ketika mereka mengabaikan etika [rasionalisme], maka mereka melakukan tindakan immoral. Barangkali baru dengar istilah immoral ya? Selama ini kita kenal istilah amoral. Nah, tulisan ini pakai istilah immoral, ketimbang amoral. Lho? Alasannya? Ini mengacu kepada Concise Oxford Dictionary. Immoral berarti "bertentangan dengan moralitas yang baik" atau "secara moral buruk", bisa juga "tidak etis" ( K.Bertens 2007: 7). Sementara amoral yang sering digunakan punya arti " tidak berhubungan dengan konteks moral", atau "di luar suasana etis", dan "non-moral". Kalau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), amoral diartikan sebagai "tidak bermoral, tidak berakhlak".  Maka, dalam kajian etika, lebih pas memakai immoral tadi. Maka itu pula tulisan ini memilih immoral.

Kita kembali ke substansi semula. Selain etika rasional tadi,  sebagian besar aksi immoral pandemi  juga menunjukkan  pengabaian etika lainnya. Misalnya etika egoisme. Ya, para pelaku aksi bukanlah altruis. Mereka egois. Perspektif filsafat moral membagi egois menjadi egoisme psikologis dan egoisme etis. Secara garis besar egoisme psikologis intinya berpendapat bahwa lebih cenderung memilih tindakan yang menguntungkan bagi dirinya sendiri. Sementara egoisme etis sekilas mirip dengan egoisme psikologis. Namun sesungguhnya beda. Secara sederhana egoisme etis tidak mengabaikan kepentingan orang lain.

Di mana egoisnya? Ini nih contohnya. Ketika ada yang tak mau berpartisipasi pada vaksinasi nasional, maka capaian herd immunity kian lamban. Padahal untuk menekan  penularan virus Covid 19 dibutuhkan  herd immunity tersebut. Makin lama mencapai angka patokan herd immunity, kian lama juga Covid 19 mereda. Mereka hanya bertindak atas kepentingan sendiri ( tak mau vaksin) dengan mengabaikan kepentingan orang banyak ( herd immunity).

Idealnya, kepentingan bersama didahulukan. Buang jauh-jauh egoisme. Apalagi ini dalam kondisi pagebluk yang rawan. Butuh kekompakan guna mengejar herd immunity. Sayangnya di sekitar kita masih saja ada yang immoral. Mereka hidup tanpa menjunjung tinggi etika, yaitu :   "Nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya".

Tanpa etika hidup tak lagi harmonis. Ada yang tidak seimbang. Tingkah laku manusia menjadi melenceng. Tak ada kenyamanan. Mudah-mudahan ini disadari oleh Dinar Candy dan pelaku immoral lainnya.  [*]

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB

Joki Tugas, Rahasia Umum di Masyarakat

Minggu, 21 November 2021 | 19:19 WIB

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Minggu, 21 November 2021 | 16:24 WIB

Risalah Untuk Calon Suamiku

Minggu, 21 November 2021 | 12:42 WIB

Pahlawan Big Data di Tengah Pandemi

Jumat, 19 November 2021 | 21:55 WIB

Proses Terbentuknya Karanghawu

Jumat, 19 November 2021 | 15:37 WIB

LUNO, Klub yang Menyatukan Diri dengan SIDOLIG

Kamis, 18 November 2021 | 14:54 WIB
X