Distrik Tasikmalaya Awal Abad ke-19

- Rabu, 4 Agustus 2021 | 16:30 WIB
Peta D: Tassikmalaya. Himpunan peta F. de Haan.
Peta D: Tassikmalaya. Himpunan peta F. de Haan.

Naluri manusia untuk terus berjalan, dan menjelajah mengenali satu daerah. Perjalannnya akan terus semakin jauh, dan daerah yang dijelajahinya semakin luas. Rasa penasaran dan rasa ingin tahu akan memantik naluri untuk terus menjelajah ke berbagai tempat yang belum terjelajahi. Seorang kelana akan berjalan di medan yang memungkinkan ia untuk berjalan dengan wajar, tidak melalui medan-medan yang ekstrim.

Tidak akan berjalan melintas puncak gunung untuk mencapai daerah di balik gunung itu, tetapi akan berjalan melambung di kaki gunung, melewati pelana antara gunung, melalui selah lembah yang tidak akan menuras tenaganya. Dia akan membangun pondok di tempat baru, bila merasa betah di sana, akan terus berkembang membangun rumah untuk keluarganya bermukim. Jalan rintisan inilah yang menjadi cikal-bakal jalan setapak yang menghubungkan antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Ketika penduduknya terus bertambah, dari satu rumah menjadi 3 rumah, menjadi 7, 9, 15 rumah, maka daya jelajah warganya akan semakin luas, dan berkembang, membangun pesanggrahan di daerah yang bersebelahan, sehingga jalan setapak itu menjadi jelas karena sering dilalui. Keadaan jaringan jalan seperti yang terdapat di kampung adat Baduy saat ini. Jalan setapak dan jalan sedepa yang menghubungkan antar kampung dan perkampungan di luar Baduy, sudah ada dan terawat dengan baik.

Keadaan jaringan jalan seperti ini paling tidak terus bertahan sampai abad ke-17 dan 18. Bahkan ketika perkebunan mulai dikembangkan di Priangan, jalannya masih dalam keadaan seperti itu. Inilah salah satu alasan bagi Marsekal Gubernur Jenderal Daendels untuk membangunan jalan raya pos antara Buitenzorg sampai Karangsambung, yang tertuang dalam Surat Keputusannya pada tanggal 5 Mei 1808, yang menyiratkan adanya dua kepentingan utama dalam pembangunan jalan itu, pertama karena nilai ekonomi, dan kedua untuk pertahanan Negara.

Secara ekonomi, karena tidak adanya jalan yang baik, akan berdampak pada kecilnya pemasukan Negara dan bagi penduduk. Olehkarena itu, selain jalan raya pos, dibangun juga aringan jalan di berbagai daerah yang mendekati perkebunan-perkebunan. Pembangunan jalannya melibatkan pemerintah, pengusaha, dan masyarakat setempat.

Sebagai contoh, pada tahun 1811, di Priangan itu baru ada jalan raya pos yang menghubungkan Bogor—Cisarua—Cianjur—Rajamandala—Bandung—Cadaspangeran—Sumedang—Karasambung. Sampai tahun 1811, di luar jalan raya pos, jalan yang cukup untuk dilalui kereta kuda, pedati, dan kendaraan, baru ada jalan antara Bogor—Sukabumi—Palabuanratu, antara Sukabumi—Cianjur, dan dari Bandung ke Sukapura (Tasikmalaya). Di luar jalan itu masih berupa jalan setapak dan jalan yang baik untuk dilewati kuda, sapi, dan kerbau pengangkut hasil bumi seperti kopi.

Di Tasikmalaya pada akhir abad ke-18, sudah terdapat delapan perkebunan, yaitu: Perkebunan teh Banjarwangi, Perkebunan teh Sambawa, Perkebunan teh dan karet Cilangla, Perkebunan teh dan karet di Tasik Selatan, Perkebunan karet Wangunwati, Perkebunan teh dan karet Sukapura, dan Perkebunan teh Cisugih.

Walau jalan ke Ciamis masih jalan sedepa, di sana sudah terdapat delapan perkebunan, yaitu: Perkebunan karet Pangajar Kahuripan, Perkebunan karet Binangun, Perkebunan karet Batulawang, Perkebunan karet Warnasari, Perkebunan karet Langen, Perkebunan karet Banjarsari, dan Perkebunan karet Cikaso.

Dalam peta awal abad ke-19 yang berjudul D: Tassikmalaya, yang terdapat dalam himpunan peta dalam dokumen F de Haan, kini menjadi koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia, sudah dengan jelas menggambarkan penyebaran perkampungan dengan nama-nama geografi yang jelas. Dalam peta ini tertulis 92 nama geografi. Antar lembur itu dapat dipastikan sudah ada jalan penghubung, berupa jalan setapak atau jalan sedepa, yang memungkinkan terjalinya hubungan sosial antar warga lembur dan menjadi sarana pengangkutan hasil perkebunan.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Menyelesaikan Pandemi dengan Keimanan, Rasionalkah?

Jumat, 24 September 2021 | 22:58 WIB

Boring Daring, Saatnya Belajar Luring!

Jumat, 24 September 2021 | 19:56 WIB

Perlu Langkah Nyata Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Kamis, 23 September 2021 | 22:23 WIB

Alasan Wajib Bangga Menjadi Orang Bandung

Kamis, 23 September 2021 | 18:27 WIB

Buruk Pengelolaan Lapas di Indonesia

Kamis, 23 September 2021 | 17:28 WIB

Meragukan Keampuhan Strategi Joe Biden

Kamis, 23 September 2021 | 16:47 WIB

Optimistis Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka

Rabu, 22 September 2021 | 23:36 WIB

Oase Perdamaian

Rabu, 22 September 2021 | 22:00 WIB

OSVIA, Klub Sepak Bola Pribumi Pertama di Bandung

Rabu, 22 September 2021 | 16:51 WIB

Emas Hijau yang Perlu Kita Rawat dan Lestarikan

Selasa, 21 September 2021 | 23:30 WIB

JANGAN CABULI KAMI!

Selasa, 21 September 2021 | 22:30 WIB

Mesin Waktu dan Media Sosial

Selasa, 21 September 2021 | 21:52 WIB

‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB

Dermaga Cikaobandung di Tempuran Ci Kao dengan Ci Tarum

Kamis, 16 September 2021 | 16:51 WIB

Musim Hujan Segera Tiba, Jabar Rawan Longsor

Kamis, 16 September 2021 | 16:28 WIB
X