Hustle Culture, Gaya Hidup para Pekerja Keras

- Senin, 2 Agustus 2021 | 21:15 WIB
Hustle Culture, gaya hidup seseorang bekerja lebih keras dan mendedikasikan dirinya untuk pekerjaan.
Hustle Culture, gaya hidup seseorang bekerja lebih keras dan mendedikasikan dirinya untuk pekerjaan.

Bekerja dimaknai sebagai kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan memiliki fondasi finansial yang kuat. Mengejar kesuksesan dengan bekerja penuh setiap hari dianggap sebagai budaya yang wajar, jika berhenti sejenak maka akan merasa tertinggal sangat jauh dengan orang lain.

Semakin sibuk, maka semakin cepat untuk meraih kesuksesan. Fenomena ini disebut dengan budaya “Hustle Culture”.

Glints.com menyebutkan, hustle culture merupakan standar di masyarakat yang menganggap bahwa untuk mencapai suatu kesuksesan harus benar-benar mendedikasikan hidupmu untuk pekerjaan dan bekerja sekeras-kerasnya.

Dalam budaya ini, bekerja bukan hanya cara untuk memperoleh kepuasan dalam segi ekonomi, tetapi sudah menjadi gaya dan tujuan hidup itu sendiri sehingga latar belakang ekonomi sesorang tidak terlalu mempengaruhi, orang-orang yang bekerja keras merasa dengan mereka bekerja tanpa henti merupakan bentuk paling optimal dari produktivitas.

Hustle culture tidak muncul dengan sendirinya. Ada beberapa faktor yang membuat seseorang mengalami hal tersebut. Yang pertama Konstruksi Sosial. Tolak ukur kesuksesan seseorang seolah-olah hanya dari segi jabatan dan finansial saja, terdapat citra baru yang tumbuh dalam budaya hustle ini, orang yang terlihat sibuk dan selalu produktif dinilai sebagai orang yang ideal.

Hal tersebut menjadi standar di masyarakat dimana mereka jadi terpacu untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya agar dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka seperti membeli kendaraan, rumah, ataupun barang mewah hanya untuk sekadar meningkatkan taraf hidup.

Kemudian, toxic postivity, dimana ketika seseorang mempunyai dorongan untuk selalu berpikir positif walaupun dalam situasi yang tertekan. Hal tersebut bisa saja muncul dari dalam diri ataupun perkataan orang sekitar. Disaat kita merasa lelah karena pekerjaan yang menumpuk, dikejar deadline. Yang seharusnya istirahat, tetapi malah muncul perkataan seperti, “Ayo semangat, masa gitu aja capek, jangan nyerah kamu pasti bisa. Ayo kerja lagi”.

Walhasil, tak sedikit dari mereka memaksa untuk tetap kuat dan tegar dalam situasi tersulit sekalipun bahkan menghindari untuk meluapkan segala emosinya.

Fenomena Hustle culture ini juga muncul salah satunya dari dampak perkembangan kemajuan industri. Pada zaman modern saat ini, manusia seakan akan dipaksa terus menerus berinovasi menciptakan sesuatu yang baru yang berbeda setiap saat. Sehingga mendorong mereka untuk terus bekerja mengeksplorasi berbagai hal.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X