Medali Emas Polii dan Rahayu, Pengorbanan Demi Martabat

- Senin, 2 Agustus 2021 | 16:15 WIB
Greysia Polii dan Apriani Rahayu meraih emas pada Olimpiade Tokyo 2020.
Greysia Polii dan Apriani Rahayu meraih emas pada Olimpiade Tokyo 2020.

Sebagai lansia yang masih suka bermain bulu tangkis, tentu saya menaruh harapan besar kepada pasangan Greysia Polii/Apriani Rahayu untuk meraih emas pada Olimpiade Tokyo 2020.

Makanya ketika Polii/Rahayu berhadapan dengan pasangan China, Chen Qingchen/Jia Yifan, adrenalin ikut terpompa. Kesunyian  ( tanpa penonton ) Musashino Forest Sport Plaza malah terasa mencekam.

Point demi point mempercepat detak jantung, sampai akhirnya meluap kegembiraan manakala chalenge  bola China ternyata keluar. Laga 57 menit diakhiri kemenangan Polii/Rahayu 21-19 dan 21-15.

Harapan itu membuncah ketika mengikuti perjalanan pasangan peringkat enam dunia itu. Bergabung di Grup A, mereka bersaing dengan Chow Mei Kuan/Lee Meng Yeang asal Malaysia, Chlore Brich/Lauren Simth asal Britania Raya dan Yuki Fukushima/Sayaka Hirota dari Jepang.

Siapa sih tak kenal Yuki Fukushima/Sayaka Hirota? Mereka adalah ganda nomor satu dunia, maka tidak heran pertandingan berjalan cukup ketat. Hebatnya Polii/Rahayu menang melalui rubber set 24-22, 13-21 dan 21-8. Sekaligus membuat mereka juara Grup A.

Untuk menuju semifinal, Polii/Rahayu harus berhadapan dengan peringkat tujuh dunia, asal China Du Yue/Li Yin Hui. Laga melelahkan selama 1 jam 34 menit dimenangi Polii/Rahayu 21-15; 20-22 dan  21-16. Mereka pun melaju ke babak semifinal berhadapan dengan Lee So-hee/Shin Seung-chan asal Korea Selatan, peringkat empat dunia. Lagi-lagi mereka menang straight game lewat skor 21-19 dan 21-17. Puncaknya adalah partai final pada Senin (2/8/2021) dan hasilnya sudah diketahui bersama bangsa Indonesia : emas !

Sungguh perjalanan Polii/Rahayu menggambarkan perjuangan dengan pengorbanan yang tidak kecil. Pengorbanan yang berdarah-darah. Sebab, atlet Olimpiade musti tes PCR saban hari. Hidung disogok-sogok yang membuat beberapa atlet mengaku sampai berdarah. Belum lagi pengorbanan atas hak bergerak mereka. Di perkampungan atlet mereka sangat dibatasi geraknya. Tak bisa seenaknya keluyuran. Semua itu gara-gara Corona.

Bagi para atlet, berjuang mengalahkan lawan tanding lebih mudah ketimbang melawan Corona tadi. Cemas, tegang dan tak tahu di mana posisi lawan. Kecemasan sebelum bertanding inilah merupakan perjuangan berat mereka. Namun seberat apapun mereka punya semangat pengorbanan diri. Hakikat pengorbanan diri adalah menyisihkan kepentingan individu demi kegembiraan orang banyak.

Polii/Rahayu telah memberikan kegembiraan kepada orang banyak. Mereka memberikan martabat demi bangsa dan negara. Martabat itu paralel dengan dignitas ( bahasa latin) yang berarti ”harga tinggi, nilai tinggi, kemegahan dan kemuliaan”. Bangsa Indonesia memperoleh kemuliaan dari pengorbanan Polii/Rahayu.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB

Dermaga Cikaobandung di Tempuran Ci Kao dengan Ci Tarum

Kamis, 16 September 2021 | 16:51 WIB

Musim Hujan Segera Tiba, Jabar Rawan Longsor

Kamis, 16 September 2021 | 16:28 WIB

Berantas Aksi Jahat Pembajakan Buku!

Rabu, 15 September 2021 | 22:39 WIB

Lebih Baik Diam Daripada Body Shaming

Selasa, 14 September 2021 | 23:14 WIB

Desain Besar Pembangunan Nasional itu Bernama Fair Play

Selasa, 14 September 2021 | 22:56 WIB

Jangan Meremehkan Profesi Pembantu!

Senin, 13 September 2021 | 22:30 WIB

Mewujudkan Pemuda Penerus Peradaban Mulia

Senin, 13 September 2021 | 19:22 WIB

Muadzin Menangis akibat Covid-19

Minggu, 12 September 2021 | 08:30 WIB

Menduga Letak Benteng Tanjungpura di Karawang

Minggu, 12 September 2021 | 08:00 WIB

Jual Beli Jabatan Menjerat Walikota Tanjungbalai

Jumat, 10 September 2021 | 16:42 WIB

Jangan Membandingkan Manusia dengan Binatang!

Kamis, 9 September 2021 | 23:02 WIB

Vigilantisme Media Sosial

Rabu, 8 September 2021 | 11:58 WIB
X