Jaringan Jalan di Baduy Merupakan Bentuk Asli Jalan di Jawa Barat Abad ke-16 – 17

- Jumat, 30 Juli 2021 | 13:21 WIB
Peta Nouvelle Carte de l'isle de Java tahun 1755.
Peta Nouvelle Carte de l'isle de Java tahun 1755.

AYOBANDUNG.COM--Bagaimana keadaan jaringan jalan antar lembur, antar kampung di wilayah yang kini menjadi Provinsi Jawa Barat pada awal abad ke-16 sampai abad ke-17? Untuk mendapatkan gambaran keadaan jaringan jalan tersebut, dalam tulisan ini dikemukakan tiga nukilan cerita yang terjadi di Kerajaan Galuh, di Kerajaan Sunda, dan Cerita Dipati Ukur, serta keadaan jaringan jalan yang lebarnya sedepa yang menjadi jalan penghubung di Baduy.

Diawali dengan catatan pesta besar yang sangat meriah di pusat Kerajaan Galuh, yang dilangsungkan pada malam purnama. Tersebutlah raja muda Galuh, Mandiminyak, yang akan menyelenggarakan pertemuan dan pesta meriah di istana. Raja-raja daerah yang mengakui kedaulatan Galuh, semuanya diundang untuk menghadiri pesta Negara. Demikian juga pejabat dan pembesar Negara Galuh, semuanya diundang, termasuk Sempakwaja yang sudah berkedudukan di Galunggung. Mandiminyak masih sebagai raja muda, sebab raja Galuh masih Wertikandayun. Dalam kedudukannya sebagai raja muda, Mandiminyak sering bertindak mewakili ayahnya untuk urusan resmi kenegaraan. Pesta di malam purnama itu berlangsung sangat meriah. Para tamu berdandan dengan pakaian terbaiknya. Gamelan yang mengiringi para tamu dan keramaian mengalun dengan merdu. Itulah pesta malam purnama paling meriah yang pernah diselenggarakan di istana Galuh. 

Itulah nukilan catatan pesta meriah di Kerajaan Galuh dari buku Ayatrohaedi (2005), Sundakala, Cuplikan Sejarah Sunda Berdasarkan Naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” Cirebon, yang diterbitkan di Jakarta oleh Pustaka Jaya. Tulisan tentang pesta meriah di Kerajaan Galuh itu terdapat dalam naskah Carita Parahyangan dan Pustaka Rajyawarnana I Bhumi Nusantara.

Dari nukilan ini tergambar kemeriahan pesta di malam purnama itu. Para raja daerah, para pejabat dan pembesar Negara Galuh, bahkan yang berkedudukan di Galunggung, datang ke pusat kerajaan. Mereka datang ke pesta dengan gaun terbaiknya. Ini menyuratkan tentang keadaan jaringan jalan pada abad ke-16 – 17 di Kerajaan Galuh, yang menghubungkan pusat kerajaan dengan kerajaan-kerajaan daerah. Mereka yang datang ke pesta itu berjalan kaki atau menunggang kuda. 

Contoh kedua untuk memberikan gambaran keadaan jaringan jalan di Jawa Barat abad ke-16 – 17, disajikan nukilan dari perjalanan Bujangga Manik (J Noorduyn dan A Teeuw, 2009. Tiga Pesona Sunda Kuna. Jakarta: Pustaka Jaya), pangeran kelana dari Istana Pakuan, Kerajaan Sunda, pada awal abad ke-16. Dia melakukan perjalanan seorang diri untuk berguru di pusat-pusat keagamaan, dan menziarahi, serta melakukan lakupuja di tempat-tempat sakral di sepanjang Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Dari kisah ini menyiratkan bahwa pada awal abad ke-16 di Jawa Barat, khususnya, umumnya di sepanjang pantai utara Pulau Jawa, sudah terdapat jaringan jalan setapak atau jalan yang lebarnya sedepa yang hidup digunakan oleh penduduknya dalam menjalin persaudaraan antara lembur dengan lembur atau kampung yang lainnya.

Contoh ketiga, agar semakin lengkap gambaran keadaan jaringan jalan di Jawa Barat abad ke-16 – 17 itu, disampaikan nukilan Ceritera Dipati Ukur (Dr E Suhardi Ekadjati, 1982. Ceritera Dipati Ukur, Karya Sastra Sejarah Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya.

“Segera Dipati Ukur dibawa pulang dan diikat dengan tapi dan akan dibawa ke Galuh. Maksud Bagus Sutapura ialah bahwa ia (Dipati Ukur) akan dibawa dan disampaikan sendiri (kepada Sultan Mataram).

Diceritakan Tumenggung Narapaksa (yang menunggu) di Sumedang mendapat khabar (tentang hal itu). Segera (ia) memerintahkan gulang-gulang (ajudan) dan seorang pesuruh: “Cepat olehmu (mereka) susul, jika ketemu ikatlah! Keduanya olehmu harus tersusul!” Yang disuruh segera berangkat. Singkatnya, (mereka) dapat ditemukan. (Mereka) ditemukan sedang berhenti di pinggir jalan, dekat aliran Ci Reong. Segera (Bagus) Sutapura diikat dengan tambang, lalu dituntun. Tambang itu berupa tali kendali kuda berwarna merah. (Ia) dinaikan ke atas.”  

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB

Dermaga Cikaobandung di Tempuran Ci Kao dengan Ci Tarum

Kamis, 16 September 2021 | 16:51 WIB

Musim Hujan Segera Tiba, Jabar Rawan Longsor

Kamis, 16 September 2021 | 16:28 WIB

Berantas Aksi Jahat Pembajakan Buku!

Rabu, 15 September 2021 | 22:39 WIB

Lebih Baik Diam Daripada Body Shaming

Selasa, 14 September 2021 | 23:14 WIB

Desain Besar Pembangunan Nasional itu Bernama Fair Play

Selasa, 14 September 2021 | 22:56 WIB

Jangan Meremehkan Profesi Pembantu!

Senin, 13 September 2021 | 22:30 WIB

Mewujudkan Pemuda Penerus Peradaban Mulia

Senin, 13 September 2021 | 19:22 WIB

Muadzin Menangis akibat Covid-19

Minggu, 12 September 2021 | 08:30 WIB

Menduga Letak Benteng Tanjungpura di Karawang

Minggu, 12 September 2021 | 08:00 WIB

Jual Beli Jabatan Menjerat Walikota Tanjungbalai

Jumat, 10 September 2021 | 16:42 WIB

Jangan Membandingkan Manusia dengan Binatang!

Kamis, 9 September 2021 | 23:02 WIB

Vigilantisme Media Sosial

Rabu, 8 September 2021 | 11:58 WIB

Memahami Pemilihan Perdana Menteri Jepang

Senin, 6 September 2021 | 22:28 WIB
X