Pandemi, Narasi, dan Realitas Menakutkan

- Kamis, 29 Juli 2021 | 23:30 WIB
Pasar Baru, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Rabu (7 Juli 2021), tampak sepi dan sunyi. Sebanyak 3.000 toko yang berada di Pasar Baru harus menutup aktivitas dagangnya selama PPKM darurat, untuk mencegah penyebaran Covid-19.
Pasar Baru, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Rabu (7 Juli 2021), tampak sepi dan sunyi. Sebanyak 3.000 toko yang berada di Pasar Baru harus menutup aktivitas dagangnya selama PPKM darurat, untuk mencegah penyebaran Covid-19.

"Pakai masker harga mati. Gak pakai masker bisa mati!" begitu kira-kira bunyi imbauan yang berseliweran di layar kaca televisi belakangan ini. Ada pesan kuat yang ingin disampaikan kepada masyarakat dari kalimat tersebut.

Ajakan untuk selalu mengenakan masker dan menerapkan protokol kesehatan demi menebas laju perkembangan kasus Covid-19 yang melambung tinggi.

Tren kasus baru infeksi corona memang mengalami penurunan, namun masih dibilang cukup tinggi. Dilansir dari laman Worldmeters, Minggu (25 Juli 2021) kasus harian Covid-19 mencapai 38.679 dengan total kasus Covid-19 di Indonesia pada hari itu sebanyak 3.166.505.

Lonjakan angka kasus Covid-19 inilah yang melatarbelakangi munculnya kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat se-Jawa Bali.

Atas dasar itu pula, imbauan seram yang tertulis di muka mencuat ke hadapan publik. Sekilas tampak sebagai nasihat yang mulia dan bijaksana. Mengajak masyarakat untuk selalu memakai masker agar tidak terpapar. Namun di balik itu, bagaimana perasaan pasien Covid-19 mendengar narasi tersebut yang dibumbui dengan intonasi yang (dibuat-buat) menyeramkan?

Takut. Itulah respons pertama yang saya alami ketika mendengar pesan tersebut di masa isolasi mandiri. Kekhawatiran bertambah dan pikiran-pikiran negatif terus menghantui. Imunitas tubuh yang sudah dijaga dan diayomi tiba-tiba ambruk seketika. Efek samping dari narasi seram itu lebih cepat menjalar dari pada pengaruh berbagai obat dan vitamin yang saya konsumsi.

Dominasi Informasi Negatif

Media sosial tidak kalah menyeramkan. Berita kasus meningkat dan kematian Covid-19 di Facebook, Instagram, Twitter, dan WhatsApp menjadi berita heboh harian yang tak pernah lekang. Apalagi disisipi gambar mengerikan; para tenaga kesehatan (nakes) dengan alat pelindung diri (APD) sembari menggotong peti mati, dan hamparan TPU Srengseng Sawah yang menjelma lautan kuburan dengan jejeran mobil ambulans. Informasi demikian sudah pasti membuat nyeri dan merinding orang yang melihatnya, terlebih para pasien Covid-19.

Sebuah penelitian berjudul "Efek Pemberitaan Media Massa Terhadap Persepsi Masyarakat Pamekasan Tentang Virus Corona" oleh Heny Triyaningsih (2020) menunjukkan bahwa media massa memiliki powerfull effect (pengaruh kuat) terhadap masyarakat terkait virus Corona. Bahkan seorang pakar ilmu komunikasi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Profesor Doktor Alo Liliweri menilai informasi virus corona lebih menakutkan dibandingkan penyakit itu sendiri.

Pemberitaan Covid-19 dengan segala rupa memang cukup melelahkan. Informasi yang cenderung berlebihan membuat masyarakat jenuh dan membosankan. Bahkan, Ahmad Yurianto yang bertindak sebagai juru bicara penanganan Covid-19 di awal merebak di negeri ini mendapat julukan "Pembawa Kabar Kematian" oleh publik. Pasalnya, pak Yuri setiap hari menyampaikan angka kematian yang terus bertambah akibat Covid-19.

Pada satu sisi informasi tentang Covid-19 memang penting selama dalam kadar yang proporsional. Tapi kenyataannya, informasi yang bertebaran di media sosial lebih didominasi oleh berita negatif.

Dari hasil penelitian berjudul "Komparasi Berita Negatif dan Positif Mengenai Covid-19 di Situs Detik dan Kompas" oleh Joe Harianto Setiawan, Cintia Caroline, dan Jheva Adi Ilham Akbar (2020) selama 3 bulan di awal pandemi menyebutkan kedua situs itu sama-sama lebih banyak menyajikan berita yang negatif. Dengan rincian, Detik menyajikan berita negatif tentang Covid-19 sebanyak 52 persen, dan berita positif sebanyak 35 persen. Sedangkan Kompas menyajikan berita negatif tentang Covid-19 mencapai 37 persen, dan berita positif sebanyak 34 persen.

Dalam kasus penanganan Covid-19 pun setali tiga uang. Segala macam strategi pemerintah yang telah dilakukan seperti isolasi dan karantina, pemeriksaan (testing), identifikasi kasus, perawatan (treatment), dan pelacakan kontrak (tracing) terkesan menakutkan. Contohnya, kedatangan tim tracing dengan didampingi aparat desa, polisi, dan TNI jujur menambah rasa ketakutan di benak banyak orang. Akhirnya, marak terjadi penolakan publik terhadap tenaga kesehatan dan jenazah Covid-19.

Gempuran informasi negatif dan fakta-fakta menakutkan akan meningkatkan stres dan kecemasan. Gejala dari stres itu sederhana seperti nafsu makan berkurang, susah tidur, khawatir dengan kesehatan, atau kurang konsentrasi. Dalam kondisi inilah kekebalan tubuh (imun) mulai down.

Menurut psikolog Washington DC Annie Miller, pemaparan informasi negatif dalam jangka panjang akan mempengaruhi otak. Ketika otak merasa terancam maka ia akan mengaktifkan respons melawan atau meninggalkan. Dan sistem tubuh akan bereaksi. Seorang profesor psikologi dari University of Texas San-Antonio Dr Mary McNaughton-Cassil juga berpendapat bahwa semakin banyak kita membaca suatu berita yang buruk akan menimbulkan sakit kepala, mati rasa, stres akut, atau bahkan tendensi untuk enggan bersimpati.

Upaya Membahagiakan

Maka dari itu, di tengah maraknya informasi negatif tentang Covid-19, dan kita tidak memiliki cukup kekuatan untuk mengontrol penyajian informasi miring di arus media sosial, tak ada jalan lain kecuali memfilter arus informasi. Hal ini bukan menolak realiatas tapi tentang menciptakan batasan. Batasan untuk menjaga diri tetap bugar, imun meningkat, dan tubuh lebih sehat.

Upaya-upaya sederhana patut kita praktikkan. Intens menjaring informasi dan meminimalisir isu-isu negatif tentang Covid-19 mulai dari angka kenaikan kasus, jumlah kematian, maupun narasi-narasi menakutkan. Tayangan televisi bisa mengurangi tayangan berita Covid-19 dan beralih ke tayangan yang lebih santai dan menyenangkan. Atau menyibukkan diri dengan aktivitas keluarga, berolahraga ringan bersama, atau membaca buku. Tujuannya agar bayang-bayang Covid-19 yang menyeramkan mulai menjauh dari alam pikiran.

Begitu pun upaya penanganan di lapangan dapat dipraktikkan dengan cara damai dan membahagiakan, jauh dari unsur-unsur paranoid. Misalnya, pelacakatan kontak tidak perlu dikawal ketat oleh aparat desa dan keamanan. Atau para tenaga kesehatan menggunakan APD yang unik dan menggemaskan seperti dr. Rollando Erric Manibuy, SpOT yang sempat viral lantaran memakai APD superhero seperti Batman, Optimus Prime, dan Iron Man.

Jangan diremehkan, upaya-upaya sederhana dan dianggap sepele seperti ini kerapkali efektif mengusir kecemasan dan ketakutan. [*]

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB

Demam Belanja Online Berkedok Self Healing

Selasa, 23 November 2021 | 17:18 WIB

Pemimpin Masa Depan Bicara di Forum Dialog IISS

Selasa, 23 November 2021 | 08:56 WIB

Villa Isola: Venesia Kecil di Bandung Utara

Senin, 22 November 2021 | 16:59 WIB

Joki Tugas, Rahasia Umum di Masyarakat

Minggu, 21 November 2021 | 19:19 WIB

Mendidik dengan Sepenuh Hati

Minggu, 21 November 2021 | 16:24 WIB
X