Pandemi, Narasi, dan Realitas Menakutkan

- Kamis, 29 Juli 2021 | 23:30 WIB
Pasar Baru, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Rabu (7 Juli 2021), tampak sepi dan sunyi. Sebanyak 3.000 toko yang berada di Pasar Baru harus menutup aktivitas dagangnya selama PPKM darurat, untuk mencegah penyebaran Covid-19.
Pasar Baru, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Rabu (7 Juli 2021), tampak sepi dan sunyi. Sebanyak 3.000 toko yang berada di Pasar Baru harus menutup aktivitas dagangnya selama PPKM darurat, untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Pemberitaan Covid-19 dengan segala rupa memang cukup melelahkan. Informasi yang cenderung berlebihan membuat masyarakat jenuh dan membosankan. Bahkan, Ahmad Yurianto yang bertindak sebagai juru bicara penanganan Covid-19 di awal merebak di negeri ini mendapat julukan "Pembawa Kabar Kematian" oleh publik. Pasalnya, pak Yuri setiap hari menyampaikan angka kematian yang terus bertambah akibat Covid-19.

Pada satu sisi informasi tentang Covid-19 memang penting selama dalam kadar yang proporsional. Tapi kenyataannya, informasi yang bertebaran di media sosial lebih didominasi oleh berita negatif.

Dari hasil penelitian berjudul "Komparasi Berita Negatif dan Positif Mengenai Covid-19 di Situs Detik dan Kompas" oleh Joe Harianto Setiawan, Cintia Caroline, dan Jheva Adi Ilham Akbar (2020) selama 3 bulan di awal pandemi menyebutkan kedua situs itu sama-sama lebih banyak menyajikan berita yang negatif. Dengan rincian, Detik menyajikan berita negatif tentang Covid-19 sebanyak 52 persen, dan berita positif sebanyak 35 persen. Sedangkan Kompas menyajikan berita negatif tentang Covid-19 mencapai 37 persen, dan berita positif sebanyak 34 persen.

Dalam kasus penanganan Covid-19 pun setali tiga uang. Segala macam strategi pemerintah yang telah dilakukan seperti isolasi dan karantina, pemeriksaan (testing), identifikasi kasus, perawatan (treatment), dan pelacakan kontrak (tracing) terkesan menakutkan. Contohnya, kedatangan tim tracing dengan didampingi aparat desa, polisi, dan TNI jujur menambah rasa ketakutan di benak banyak orang. Akhirnya, marak terjadi penolakan publik terhadap tenaga kesehatan dan jenazah Covid-19.

Gempuran informasi negatif dan fakta-fakta menakutkan akan meningkatkan stres dan kecemasan. Gejala dari stres itu sederhana seperti nafsu makan berkurang, susah tidur, khawatir dengan kesehatan, atau kurang konsentrasi. Dalam kondisi inilah kekebalan tubuh (imun) mulai down.

Menurut psikolog Washington DC Annie Miller, pemaparan informasi negatif dalam jangka panjang akan mempengaruhi otak. Ketika otak merasa terancam maka ia akan mengaktifkan respons melawan atau meninggalkan. Dan sistem tubuh akan bereaksi. Seorang profesor psikologi dari University of Texas San-Antonio Dr Mary McNaughton-Cassil juga berpendapat bahwa semakin banyak kita membaca suatu berita yang buruk akan menimbulkan sakit kepala, mati rasa, stres akut, atau bahkan tendensi untuk enggan bersimpati.

Upaya Membahagiakan

Maka dari itu, di tengah maraknya informasi negatif tentang Covid-19, dan kita tidak memiliki cukup kekuatan untuk mengontrol penyajian informasi miring di arus media sosial, tak ada jalan lain kecuali memfilter arus informasi. Hal ini bukan menolak realiatas tapi tentang menciptakan batasan. Batasan untuk menjaga diri tetap bugar, imun meningkat, dan tubuh lebih sehat.

Upaya-upaya sederhana patut kita praktikkan. Intens menjaring informasi dan meminimalisir isu-isu negatif tentang Covid-19 mulai dari angka kenaikan kasus, jumlah kematian, maupun narasi-narasi menakutkan. Tayangan televisi bisa mengurangi tayangan berita Covid-19 dan beralih ke tayangan yang lebih santai dan menyenangkan. Atau menyibukkan diri dengan aktivitas keluarga, berolahraga ringan bersama, atau membaca buku. Tujuannya agar bayang-bayang Covid-19 yang menyeramkan mulai menjauh dari alam pikiran.

Begitu pun upaya penanganan di lapangan dapat dipraktikkan dengan cara damai dan membahagiakan, jauh dari unsur-unsur paranoid. Misalnya, pelacakatan kontak tidak perlu dikawal ketat oleh aparat desa dan keamanan. Atau para tenaga kesehatan menggunakan APD yang unik dan menggemaskan seperti dr. Rollando Erric Manibuy, SpOT yang sempat viral lantaran memakai APD superhero seperti Batman, Optimus Prime, dan Iron Man.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB
X