Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?

- Selasa, 27 Juli 2021 | 17:35 WIB
Vaksin dianggap menjadi penyelamat dari serangan virus Corona yang diperkirakan lebih mematikan dibanding flu Spanyol, Middle East Respiratory Syndrome (MERS, 2002 ) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS, 2012).
Vaksin dianggap menjadi penyelamat dari serangan virus Corona yang diperkirakan lebih mematikan dibanding flu Spanyol, Middle East Respiratory Syndrome (MERS, 2002 ) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS, 2012).

Sejak pernyataan WHO tentang pandemi itu, masyarakat dunia umumnya dalam posisi bertahan. Disarankan untuk tidak bepergian. Mengurangi pertemuan. Tinggal di dalam rumahpun sebaiknya menggunakan masker. Alhasil, masyarakat dunia menjadi obyek dan dalam posisi defensif, serta dalam keadaan terancam

Yang berperan aktif melakukan ‘ofensif’ adalah pejabat dan instansi terkait dengan antara lain, seruan menerapkan Prokes kepada objek. Mendenda bila melanggar!
Partisipasi

Mungkin pandangan ini salah atau keliru. Kata yang sering terlupakan dalam menangani wabah saat ini adalah partisipasi. Definisi yang sederhana dari partisipasi adalah melibatkan seseorang atau kelompok masyarakat dalam kegiatan menangani Covid-19.

Pelibatan ini dapat berasal dari kesadaran anggota masyarakat sendiri atau dorongan dari pemerintah. Dewasa ini pemerintah dalam tahapan lebih banyak berusaha mencegah lebih banyak lagi korban.

Dalam konteks ini, yang dilibatkan adalah para pihak yang berada di luar struktur resmi yang tugas atau fungsinya memang terkait dengan penanganan wabah. Mereka adalah perseorangan, organisasi kemasyarakatan termasuk lembaga swadaya masyarakat, lembaga swadaya masyarakat atau instansi non pemerintah.

Peluang untuk berpartisipasi terbuka karena semakin banyak para pihak faham dengan perilaku virus dan kelemahannya. Makin banyak yang memahami bahwa pemerintah memerlukan dukungan dan masyarakat terdampak memerlukan bantuan.

Iklim berpartisipasi makin terbuka setelah Menkopolhukam Mahfud MD menyatakan masyarakat harus menyesuaikan diri dengan kehidupan baru dengan keberadaan virus Corona. Tidak bisa mengurung diri terus menerus.

Masyarakat dapat menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah karena tujuannya adalah bersama-sama menyelamatkan bangsa dan negara, katanya beberapa hari lalu.

Pernyataan Mahfud MD itu merupakan undangan agar masyarakat melakukan partisipasi dalam pengambilan keputusan. Bentuk partisipasi lain yang dapat dilakukan masyarakat adalah partisipasi sosial, partisipasi tenaga dan keterampilan.

Masyarakat luas sudah pasti tidak dapat berpartisipasi dalam penyediaan dana sebab merekapun mengalami kesulitan. Pendapatan menurun bahkan hilang.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Sejarah Stasiun Padalarang: Kenangan Dahulu dan Kini

Jumat, 15 Oktober 2021 | 11:04 WIB

Catch Me if You Can di Tjimahi Tempo Doeloe

Jumat, 15 Oktober 2021 | 10:33 WIB

Nicolaas Vink, 50 Tahun Menjadi Anggota UNI

Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:04 WIB

Misteri Perang Bubat IV: Kolofon Carita Parahyangan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 10:36 WIB

Menyoal Upaya Pemulihan Ekonomi, Perlukah Alih Konsep?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:58 WIB

Instagram Memang Asyik, Tetapi Mengapa Digugat?

Selasa, 12 Oktober 2021 | 08:38 WIB

Memerdekakan Diri untuk Membaca Budaya

Senin, 11 Oktober 2021 | 16:21 WIB

Kesenjangan Antara Masjid dan Toiletnya

Minggu, 10 Oktober 2021 | 17:40 WIB
X