Mengapa Tak Ada Seruan Berpartisipasi Mengatasi Covid-19?

- Selasa, 27 Juli 2021 | 17:35 WIB
Vaksin dianggap menjadi penyelamat dari serangan virus Corona yang diperkirakan lebih mematikan dibanding flu Spanyol, Middle East Respiratory Syndrome (MERS, 2002 ) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS, 2012).
Vaksin dianggap menjadi penyelamat dari serangan virus Corona yang diperkirakan lebih mematikan dibanding flu Spanyol, Middle East Respiratory Syndrome (MERS, 2002 ) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS, 2012).

Vaksin dan vaksinasi menjadi buah bibir setelah Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan Covid-19  menjadi epidemi pada Januari 2020 dan pandemi tiga bulan kemudian.

Vaksin dianggap menjadi penyelamat dari serangan virus Corona yang diperkirakan lebih mematikan dibanding flu Spanyol, Middle East Respiratory Syndrome (MERS, 2002 ) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS, 2012).

Menurut WHO per 26 Juli 2021, di seluruh dunia terdapat 422.294 kasus baru hingga total menjadi 194.080.019 kasus. Jumlah yang wafat mencapai 4.162.304 orang.

Bila melihat jumlah yang terpapar dan wafat, virus kali ini merupakan lawan yang tangguh. Lebarnya 0,125 mikrometer. Tak terlihat dengan mata telanjang.

Baru musnah pada suhu 56 derajat Celsius. Mampu bertahan sepuluh menit pada permukaan tangan, pegangan pintu, permukaan meja, uang kertas dan sebagainya. Dapat bertahan sembilan jam bila menempel di kain.

Virus yang mulai menjangkit di Wuhan, China ini disebut 2-19 Novel Coronavirus 2019 Novel Coronavirus atau 2019-nCoV. Ia lebih populer dengan sebutan Covid-19. Angka 19 berasal dari tahun ditemukan yakni 2019, sedangkan disebut Novel Coronavirus karena sebelumnya sudah ditemukan varian virus Corona pada MERS dan SARS. 

Virus Corona jenis baru, 2019-nCoV, dapat menular dari hewan ke manusia dan antar manusia. Gejala yang dialami orang ketika terjangkit virus ini antara lain batuk, flu, demam, sesak nafas, kesulitan pernafasan, gagal nafas, gagal ginjal, hingga mengakibatkan kematian.

Defensif

Apakah sejauh ini perjuangan melawan wabah itu berhasil? Masih telalu awal untuk menjawab karena ternyata virus itu bermutasi, konon setiap tiga bulan.Tambahan lagi, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan wabah belum akan mereda sampai pertengahan 2022.

Halaman:

Editor: Aris Abdulsalam

Tags

Terkini

Menyelesaikan Pandemi dengan Keimanan, Rasionalkah?

Jumat, 24 September 2021 | 22:58 WIB

Boring Daring, Saatnya Belajar Luring!

Jumat, 24 September 2021 | 19:56 WIB

Perlu Langkah Nyata Beradaptasi dengan Perubahan Iklim

Kamis, 23 September 2021 | 22:23 WIB

Alasan Wajib Bangga Menjadi Orang Bandung

Kamis, 23 September 2021 | 18:27 WIB

Buruk Pengelolaan Lapas di Indonesia

Kamis, 23 September 2021 | 17:28 WIB

Meragukan Keampuhan Strategi Joe Biden

Kamis, 23 September 2021 | 16:47 WIB

Optimistis Menghadapi Pembelajaran Tatap Muka

Rabu, 22 September 2021 | 23:36 WIB

Oase Perdamaian

Rabu, 22 September 2021 | 22:00 WIB

OSVIA, Klub Sepak Bola Pribumi Pertama di Bandung

Rabu, 22 September 2021 | 16:51 WIB

Emas Hijau yang Perlu Kita Rawat dan Lestarikan

Selasa, 21 September 2021 | 23:30 WIB

JANGAN CABULI KAMI!

Selasa, 21 September 2021 | 22:30 WIB

Mesin Waktu dan Media Sosial

Selasa, 21 September 2021 | 21:52 WIB

‘Nyanyian’ Krisdayanti dan Gejala Alienasi

Kamis, 16 September 2021 | 22:42 WIB

Dermaga Cikaobandung di Tempuran Ci Kao dengan Ci Tarum

Kamis, 16 September 2021 | 16:51 WIB

Musim Hujan Segera Tiba, Jabar Rawan Longsor

Kamis, 16 September 2021 | 16:28 WIB
X