Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

- Selasa, 27 Juli 2021 | 09:02 WIB
Potret para anggota Olympia tahun 1900. Banyak di antaranya yang menjadi pengurus dan pemain UNI.
Potret para anggota Olympia tahun 1900. Banyak di antaranya yang menjadi pengurus dan pemain UNI.

Selanjutnya untuk pertandingan antarkota, antara 1922 hingga 1934, UNI sempat mengikuti 66 pertandingan antarkota, di Bandung, Jakarta, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Tegal, dll. Dari jumlah pertandingan tersebut, UNI menang 33 kali, seri 16 jali dan kalah 17 kali. Dari De Preangerbode ada pembaruannya. Hingga 1936, ada 79 pertandingan antarkota yang diikuti UNI, yang di antaranya 42 kali menang, 18 seri, dan 19 kalah. 

Sedangkan untuk pertandingan internasional yang sempat diikuti oleh UNI antara 1921 hingga 1934 adalah sebanyak 17 kali. Dari jumlah tersebut, UNI menang 6 kali, seri 3 kali, dan kalah 8 kali. Lawan-lawannya antara lain Selangor (1921), Manila (1927), Duke of Wellington (1928), Australia (1928), Shanghai (1929), Kalkuta (1929), Malaya (1930), Loh Hwa (1930), Deli Malay Team (1930), SCFA Singapura (1930), Nan Hwa (1931), Chung Hwa (1931), Nan Hwa (1932), Keung Hwa (1932), dan Malaya (1933). 

Pengurus, Pemain, dan Publikasi 

Sejarah panjang UNI, paling tidak hingga usianya 50 tahun pada 1953, memang melibatkan banyak orang. Di antaranya ada yang menjadi pengurus, dan banyak pula di antaranya yang merangkap menjadi pemainnya. 

Bagi klub yang menggunakan seragam warna putih dan hitam ini, Willem Levinus Kuik (1878-1958) atau Wim Kuik adalah pendiri, ketua atau presiden pertama, dan kapten pertama UNI. Kemudian Eduard Gobee adalah organisatorisnya. Ernst de Vries adalah ketua dan pemain. Teddy Kessler adalah ketua dari 1915 hingga ajal menjemputnya pada 1941 dan yang berjasa membawa UNI pindah ke Nieuw-Houtrust pada 1925. Adapun yang sempat menjadi kapten tim UNI antara lain Wim Kuik, Nico Vink, Joh. Geurink, dan Carl Giesel.

Bintang-bintangnya para periode awal adalah Wim Kuik, Paul van Grumbkow dan Joop Gersen. Setelah tahun 1910, yang menjadi bintangnya adalah Eduard Gobee, Teddy Kessler, Nico Vink, Jules Seelig dan Eduard Stumpf. Kemudian setelah 1915 adalah adik-kakak Jolly, Geurink dan Carl Giesel. Setelah tahun 1920 antara lain Tony Bochem, Herman de Jager, Goldman kakak-beradik, Hagenaar, dan Jan van der Putten. Lalu yang menjadi bintang UNI setelah 1925 ada Jur de Jong, George de Jager Eugène Ritter, Zuidema, Amrein dan Welffer. Setelah 1930 ada Cor Goyes, Prins, Emile Vogler dan de Wolff. Terakhir setelah tahun 1935, bintangnya adalah Frans Nooy, Hans Jut, Joop Montere, Felix Vermandel and Frans van Haver (De Preangerbode, 27 Februari 1953).

Adakah para pemain pribumi yang terlibat dalam UNI? Tentu saja ada. Dalam buku Berretty (1934) paling tidak pada 1906 sudah ada nama R. Achmad yang menjadi pemain UNI. Agar lebih lengkap keterangannya, berikut ini susunan pemain UNI untuk 1906: Wim Kuik, J. Fugli, Teerlink,  Joop Gersen, R. Achmad, Beek, Boulet, C. v. d. Velde, Jan Huysmans, A. Amade dan Paul von Grumbkow. Demikian pula yang tertera pada potret tim UNI tahun 1910, yang terpasang sebagai pemain adalah: August Giesel, Jules Seelig, Achmad, Ir. Wolbers, E. Gobée, J. Belloni, Kessler, Boy Vermeulen, Frans Huysmans, J.v. Nooyen dan Endih. Nama Endih saya pikir orang pribumi, sehingga besar kemungkinan baik Achmad maupun Endih adalah murid Wim Kuik di Kweekschool.

Satu catatan lagi yang saya kira penting adalah ihwal publikasi atau berkala  yang diterbitkan oleh UNI. Nama berkalanya adalah Houtrustica. Orang yang punya inisiatif untuk menerbitkan publikasi tersebut adalah H.W.M. (Pip) de Haas, mantan redaktur De Preangerbode. Gagasannya muncul pada Februari 1930 dalam kerangka perayaan UNI sebagai kampiun BVB dari semua kelasnya. Dalam pesta tersebut, cetak-coba majalahnya disebarkan. Konon, berkala tersebut menjadi faktor yang signifikan bagi kehidupan klub UNI, yakni sebagai alat publikasi, rantai untuk menyatakan kehadiran klub, dan bahkan dapat dipakai senjata penangkis apabila ada yang menyerang UNI (De Preangerbode, 27 Februari 1953).

Dari uraian di atas, banyak hal menarik yang perlu digali lagi. Oleh karena itu, saya akan membahas riwayat hidup dan rekam jejak orang-orang yang berjasa bagi perkembangan UNI. Wim Kuik pasti menjadi pokok tulisan saya minggu depan, disusul minggu berikutnya dengan tulisan ihwal sepak terjang F.A. Kessler alias Teddy Kessler atau akrab disapa “Paatje”.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Asal-Usul Bandoengsche Voetbal Bond

Kamis, 28 Oktober 2021 | 08:45 WIB

Fakta di Balik Mimpi dalam Tidur Kita Selama Ini

Senin, 25 Oktober 2021 | 19:06 WIB

Semua Guru adalah Guru Bahasa

Senin, 25 Oktober 2021 | 09:08 WIB

Jadilah Generasi Pelurus, Bukan Penerus!

Minggu, 24 Oktober 2021 | 19:28 WIB

Cara Kim Jong-un Keluar dari Tekanan AS

Minggu, 24 Oktober 2021 | 17:24 WIB

Hati-Hati Budaya Nyinyir: Mulutmu Harimaumu, Netizen!

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:00 WIB

Inovasi Pemuda Bandung, Kulit Imitasi menuju Milan

Kamis, 21 Oktober 2021 | 15:51 WIB

Indonesia Lahan Proxy War?

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:43 WIB

Insulinde Medaille untuk Kompetisi Klub Pribumi

Kamis, 21 Oktober 2021 | 14:27 WIB

Karena Faktor China, Asean Sulit Menekan Myanmar

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:07 WIB

Hari Libur Tanggal Merah Keagamaan Diundur, Perlukah?

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:55 WIB

Babak Belur Peternak Ayam Petelur

Minggu, 17 Oktober 2021 | 10:00 WIB
X