Dari Olympia Jadilah Uitspanning Na Inspanning (UNI)

- Selasa, 27 Juli 2021 | 09:02 WIB
Potret para anggota Olympia tahun 1900. Banyak di antaranya yang menjadi pengurus dan pemain UNI.
Potret para anggota Olympia tahun 1900. Banyak di antaranya yang menjadi pengurus dan pemain UNI.

Hasil Rapat di Kweekschool

Menurut Berretty (“De Oprichting van U.N.I.”, 1934: 98), saat Bandoengsche Voetbal Club (BVC) berdiri pada 1900, banyak anak sekolah dan pemuda yang turut berlatih dan bermain untuk kesebelasan sepak pertama di Bandung itu. Di antaranya ada Eddy Alting Siberg, Oscar Veer, August Amade, Wim Kuik, Jan Huysmans, Jaap Roggeveen, Joop Gersen, Boulet, dll. Wim Kuik saat itu sudah menjadi guru olah raga di Kweekschool voor Inlandsche onderwijzers atau sekolah calon guru pribumi sekaligus menjadi ketua Olympia. Saat itu, dia mendapati bahwa minat anak-anak sekolah yang tergabung dalam Olympia sangat tertarik pada sepak bola. 

Mula-mula, untuk menyalurkan minat anak-anak itu, Wim menggagas pendirian perhimpunan olah raga (gymnastiekvereeniging) TAVENU. Pendirian klub tersebut, menurut De Preanger-Bode (27 Agustus 1924) berlangsung pada 1901. Namun, karena tidak sesuai harapan, konon pada 10 Februari 1903 nama Gymnastiekvereeniging TAVENU diganti menjadi Sportvereeniging UNI. Peristiwa penggantian tersebut, bila menyimak keterangan dari buku Berretty (1934) dirumuskan dan dibentuk di Babancong yang ada di Alun-alun Bandung.

Tetapi akhirnya gagasan Wim mewujud pada 28 Februari 1903. Pembentukan resminya dapat kita simak dari tulisan “Stenografisch Verslag van de Oprichtingsvergadering van U.N.I.” dalam buku Berretty (1934: 101-103). Dalam tulisan yang berisi laporan rapat pembentukan UNI tersebut diceritakan bahwa pada 28 Februari 1903 di bangsal senam Kweekschool Bandung berlangsung rapat yang dipimpin oleh Wim.

Saat itu, Wim duduk di sekitar meja bundar dan di sampingnya duduk Boulet dan Hein Adeboi. Dalam pembukaannya, Wim menyatakan bahwa sekarang adalah masanya olah raga (“we leven in het teeken van de sport”) dan saat itu akan merayakan berdirinya klub sepak bola UNI. Katanya UNI adalah kependekan dari Uitspanning Na Inspanning yang berarti bersenang-senang setelah bekerja keras. Namun, Wim jujur mengakui bahwa untuk pembentukan klub tersebut tidak tersedia uang sama sekali.

Oleh karena itu, dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa sudah bersepakat dengan Byou dari Toko Preanger untuk menyediakan bola, tetapi tidak berjanji ihwal kapan untuk membayarnya. Boulet yang sangat menggemari topi jerami dipersilakan untuk mengedarkan topinya untuk mengumpulkan uang logam demi penggalangan dana klub. Wim juga menyarankan kepada Hein yang memiliki pisau untuk mengasahnya dan bersama saudaranya, Leendert, untuk memotong pepohonan di Kejaksaan Girang agar dijadikan tiang gawang.

Selanjutnya adalah pemilihan dewan pengurus klubnya. Dengan suara aklamasi, Wim Kuik terpilih menjadi presiden pertama UNI. Untuk bendaharanya yang terpilih adalah Boulet, padahal yang lain sepakat memilih Schout ter Poortere. Tapi Wim beralasan, Boulet berkawan dengan Byou, penyedia bola. Untuk kapten, Wim menyodorkan opsi Jaap Roggeveen, Kees van der Velde, Joop Gersen dan “Saja sendiri”. 

Dengan adanya pilihan “Saja sendiri”, tentu saja hadirin lebih memilih Wim Kuik sebagai kapten pertama UNI. Nama Kuik kemudian dielu-elukan peserta rapat. Wim lalu mengambil sebotol brendi untuk merayakannya, Kees lalu mengambil lagi sebotol. Seraya menutup acara, Wim mengatakan hadirin semua ditunggu besok sore di Alun-Alun Bandung, yaitu di Babancong.

Dari Alun-alun ke Jalan Karapitan

Alun-Alun Bandung memang sejak semula dijadikan sebagai lapang untuk latihan bagi klub UNI. Namun, pada 1905, Residen Priangan melarang UNI untuk menggunakan lapangan di alun-alun. Oleh sebab itu, klub tersebut bersama dengan kesebelasan SIDOLIG pindah ke Pieterspark (Taman Merdeka, Balai Kota Bandung), ke tempat yang kemudian tempat didirikannya Javasche Bank atau kini menjadi Bank Indonesia. Lagi-lagi karena menimbulkan keriuhan ke sekitar dua gereja yang ada di seberangnya, yaitu Gereja Protestan di Jalan Wastukencana dan Gereja Katholik St. Pieter di Jalan Merdeka, UNI akhirnya harus hengkang dari Pieterspark.

Halaman:

Editor: Adi Ginanjar Maulana

Tags

Terkini

Stereotip Kesetaraan Gender Perempuan

Senin, 6 Desember 2021 | 12:43 WIB

Lezatnya Nasi Ayam, Nasi Liwet Wong Semarang

Jumat, 3 Desember 2021 | 16:09 WIB

Menguak Problem Mendasar Upah Buruh dan Solusinya

Rabu, 1 Desember 2021 | 14:18 WIB

Kisah Barsisha dan Ajaran Berharga tentang Aib Manusia

Senin, 29 November 2021 | 16:55 WIB

Peluang Iran untuk Sedikit Bernapas

Senin, 29 November 2021 | 15:17 WIB

Diversifikasi Prestasi Olahraga Nasional

Minggu, 28 November 2021 | 08:30 WIB
X